Gertak AS! IRGC Bakal Ubah Strategi Senjata Berbeda Jika Diserang Lagi
astakom.com, Jakarta – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyampaikan gertakan keras terkait kesiapan militer mereka. Iran menegaskan bakal mengubah total persenjataan hingga “geografi perang” apabila Amerika Serikat (AS) nekat meluncurkan serangan balasan ke wilayah mereka.
Ganti senjata & target
Ancaman tersebut disampaikan langsung oleh Juru Bicara IRGC, Hossein Mohibi, saat berbicara dalam sebuah tayangan televisi pada Minggu malam waktu setempat.
“Jika serangan baru terjadi, operasi pertahanan dan ofensif kami akan berubah secara signifikan. Kami akan mengubah senjata dan geografi perang, serta membawa kemampuan baru dengan kapasitas baru ke medan perang. Dunia akan terkejut,” tutur Mohibi, dialnsir dari Anadolu Agency, Senin (21/09/2026).
Tidak cuma ganti taktik, pihak IRGC juga mengisyaratkan bahwa sasaran tembak mereka kali ini bakal benar-benar berbeda dari pertempuran terdahulu.
“Target kami tidak lagi sama seperti sebelumnya. Kami telah mengidentifikasi target-target baru yang belum pernah diserang,” sambung Mohibi.
Siap perang panjang
Mohibi menambahkan kalau Tehran sudah pasang badan dan siap all out menghadapi skenario perang jangka panjang. Baginya, dinamika konflik militer punya fase yang terus berkembang dan tak pernah benar-benar usai.
“IRGC telah siap menghadapi perang dan sekarang bahkan lebih siap,” lanjutnya.
Klaim dominasi kawasan
Soal urusan negosiasi, Mohibi menegaskan kalau IRGC sama sekali tidak membuka jalur komunikasi langsung dengan Washington. Menurutnya, militer Iran fokus penuh pada tugas pertahanan negara tanpa ikut campur dalam ranah diplomasi.
Selain itu, ia melontarkan klaim bahwa dominasi militer AS di Timur Tengah sebenarnya sudah runtuh. Kini, Iran-lah yang memegang kendali dalam membentuk tatanan baru di kawasan tersebut.
Eskalasi Selat Hormuz
Ketegangan ini kembali memuncak seiring memanasnya situasi di Selat Hormuz jalur perdagangan laut yang amat krusial bagi pasokan sekitar seperlima minyak dunia sebelum konflik pecah.
Rentetan konflik ini bermula dari serangan berskala besar yang dilancarkan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, menargetkan fasilitas militer, gedung pemerintahan, hingga sistem pertahanan udara. Iran lantas membalas dengan menghujani pangkalan AS dan wilayah Israel menggunakan rudal serta drone.
Meski sempat ada gencatan senjata pada April dan penandatanganan memorandum perdamaian pada Juni, kesepakatan tersebut akhirnya kandas di tengah jalan. Saat ini, proses mediasi masih terus diupayakan oleh Pakistan dan Qatar untuk mencegah konflik terbuka kembali pecah. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Intinya, IRGC/Iran lagi ngasih warning keras ke AS biar gak asal nyenggol lagi. Kali ini mereka spill kalau strateginya gak cuma ganti taktik, tapi juga bakal ganti persenjataan dan ngincar target baru yang bikin shock. Batalnya damai buat Selat Hormuz makin membara, dan Iran merasa mereka yang pegang kendali di kawasan—no debat, no nego!









