Inspiratif! Berawal dari Kebiasaan Tidur, Qari Cilik Tampil Memukau di Monas
astakom.com, Jakarta – Sosok Muhammad Zian Fahrezi lagi jadi perhatian publik. Di usianya yang masih 11 tahun, qari cilik ini sukses bikin publik takjub usai melantunkan Surah Ar-Rahman pada acara Dzikir dan Doa Kebangsaan di Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Gak cuma itu, Zian ternyata juga penyandang gelar Juara I MTQ Internasional di Irak.
Siapa sangka, pencapaian level main character ini berawal dari kebiasaan night routine yang super simpel sejak ia masih berusia empat tahun mendengarkan lantunan tilawah Al-Qur’an sebelum tidur.
Suara tilawah sebagai pengantar tidur
Perjalanan Zian mengenal seni membaca Al-Qur’an dibentuk lewat konsistensi sang keluarga sejak kecil. Alih-alih mendengarkan musik santai biasa, Zian justru terbiasa deep sleep diiringi suara mengaji.
“Kalau Zian itu dulu waktu masih kecil, hampir setiap sebelum tidur kita putarkan tilawah-tilawah di YouTube. Random saja, qari Indonesia maupun qari Mesir. Alhamdulillah ketika diajarkan, karena dia sudah sering dengar, jadi lebih mudah,” ucap sang ayah, Azka, dikutip oleh astakom pada Minggu (02/08/2026).
Langkah sederhana inilah yang membuka jalan Zian untuk makin mengasah talenta emasnya di bidang tilawah.
“Alhamdulillah Allah memberikan suara yang bagus. Tinggal bagaimana kita memaksimalkan bakatnya. Tidak banyak orang yang diberi bakat seperti ini. Jadi kalau sudah punya bakat, ya diasah terus, dilatih,” ucap Azka.
Tumbuh dalam lingkungan supportive system
Bakat luar biasa ini juga gak lepas dari circle keluarga Zian yang memang akrab banget sama Al-Qur’an. Buyut dan kakek Zian pernah mengukir prestasi mengaji di tingkat internasional, sementara ayah Zian sendiri juga seorang qari. Suasana rumah yang penuh lantunan ayat suci membuat Zian tumbuh dan berkembang secara natural dengan tilawah sejak dini.
Konsistensi latihan yang dilakukan secara continue akhirnya membawa Zian go international. Sebelum berhasil terbang dan membawa pulang piala kemenangan dari MTQ Internasional di Irak, Zian harus melewati tahap seleksi nasional yang amat ketat melalui kurasi video.
“Kurang lebih ada 20 lebih video anak dari Indonesia yang dikirim. Yang dipilih hanya dua orang. Alhamdulillah salah satunya Zian,” ucap Azka.
Tetap nervous dan sempat sakit
Kepercayaan tersebut terbayar tuntas. Zian berhasil mengalahkan peserta lain dan menyabet Juara I, mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Meski sudah punya jam terbang internasional dan terbukti slay di panggung dunia, Zian mengaku tetap merasa nervous saat hendak melantunkan ayat suci di panggung besar Monas.
"Deg-degan,” ucapnya singkat.
Ujian sempat datang beberapa hari menjelang acara di Monas. Keluarga sempat dibuat khawatir lantaran kondisi fisik Zian yang mendadak down akibat batuk dan pilek. Demi menjaga performa suaranya, orang tua Zian sigap memberikan perawatan ekstra.
“Khawatir banget takut ganggu ke acara ini. Kemarin dibawa ke dokter, dikasih vitamin, kemudian tiap pagi minum air hangat sama madu,” ucap Azka.
Cita-cita mulia jadi dokter qari
Meski prestasinya sebagai qari cilik sudah top-tier, Zian tetaplah seorang bocah 11 tahun yang punya cita-cita mulia dan membumi. Ia bertekad menjadi seorang dokter tanpa melepas hobinya mengaji.
“Dia dari kecil pengen jadi dokter. Pengen membantu orang-orang sakit. Jadi dokter tetap dengan mendukung hobinya juga. Dokter-qari, enggak banyak,” ungkap Azka. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Plot twist terbesar dari perjalanan Zian bukan cuma soal bakat alami, tapi kekuatan atomic habits—kebiasaan kecil mendengar tilawah sebelum tidur yang konsisten di-build sejak dini. Cerita Zian membuktikan kalau support system keluarga yang tepat dan keberanian melangkah keluar dari comfort zone bisa bikin siapa saja slay di panggung dunia tanpa kehilangan mimpi besarnya.









