Keraton Surakarta Direvitalisasi, 13 Kawasan Disiapkan Jadi Ruang Budaya
astakom.com, Jakarta – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mulai memasuki tahap revitalisasi. Kementerian Kebudayaan bersama pihak Keraton mencanangkan program tersebut pada 23 September 2026, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Revitalisasi tidak hanya menyasar bangunan, tetapi juga mencakup pelindungan tradisi, pengetahuan, koleksi, dan aktivitas budaya yang masih hidup di kawasan Keraton.
Keraton yang dibangun pada 1744–1745 itu menyimpan bangunan, pusaka, manuskrip, tradisi, dan pengetahuan yang menjadi bagian dari kawasan cagar budaya.
“Revitalisasi yang kita canangkan ini merupakan wujud komitmen pemerintah untuk menjaga dan merawat warisan budaya yang ada di Keraton Surakarta. Kita tidak hanya ingin memulihkan bangunan-bangunan bersejarah, tetapi juga menjaga nilai dan tradisi yang hidup di dalamnya,” kata Menbud Fadli Zon.
Keraton jadi living heritage
Penataan museum dan perpustakaan menjadi bagian dari revitalisasi agar koleksi dan pengetahuan di Keraton semakin mudah dipelajari masyarakat.
Aspek nonfisik turut diperkuat melalui peningkatan kapasitas Sentana Dalem dan Abdi Dalem, pewarisan pengetahuan, penguatan narasi, serta pengembangan tata kelola budaya.
“Setelah revitalisasi selesai, kita berharap Keraton Kasunanan Surakarta menjadi satu kantong budaya yang penting di Indonesia, termasuk sebagai pusat edukasi, pusat narasi, dan pusat literasi. Tradisi yang hidup di sini juga harus terus bergerak sehingga Keraton dapat menjadi living heritage,” ujarnya.
Fadli Zon juga menekankan pentingnya pengelolaan kawasan secara profesional, terukur, transparan, dan akuntabel agar pelindungan serta pemanfaatan warisan budaya berjalan beriringan.
“Budaya ini bukan cost center, bukan beban biaya, tetapi merupakan investasi. Karena itu, kita harus menjaga, melindungi, sekaligus memanfaatkan aset-aset budaya kita sehingga ekosistemnya hidup dan dapat berkelanjutan,” ucap Fadli Zon.
Revitalisasi tak sekadar fisik
Revitalisasi mencakup 13 titik atau kawasan, yaitu Pagelaran, Sitinggil, Museum Keraton, Kasentanan, Panti Pidana, Keraton Kilen/Kulon, Keputren, Ndalem Ageng, kawasan Kamandungan, Bangsal Pradonggo/Pradonggo Kidul, Sasana Handrawina, Panggung Sangga Buwana, serta bangunan di kawasan Keraton Kilen dan Sino Renggo.
Khusus Museum Keraton, penanganannya meliputi konservasi koleksi, pendataan dan inventarisasi, penataan ruang pamer, penguatan narasi sejarah, serta peningkatan kualitas informasi dan pengalaman edukatif pengunjung.
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2026 pada 18 Januari 2026.
13 kawasan masuk penataan
Selain revitalisasi, Menteri Kebudayaan meresmikan Kantoran Ndalem sebagai kantor KGPH Panembahan Agung Tedjowulan untuk menunjang tugasnya sebagai Pelaksana Keraton Surakarta.
Tedjowulan mengapresiasi perhatian pemerintah dan berharap revitalisasi memperkuat kerja bersama sekaligus mendorong generasi muda memahami tugas dan tanggung jawab dalam lingkungan Keraton.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian dan kepedulian Pemerintah Republik Indonesia kepada Keraton Kasunanan Surakarta. Saya akan berusaha mengajak generasi-generasi muda untuk bersama-sama memahami tugas pokok, tanggung jawab, hak, dan kewajiban, sehingga ke depan Keraton Surakarta dapat mewujudkan apa yang diharapkan oleh pemerintah,” ujar Tedjowulan.
Kementerian Kebudayaan, Keraton, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan akan melanjutkan kerja sama untuk menjaga bangunan, kawasan, tradisi, serta pengetahuan yang hidup di Keraton Surakarta. (deA/RaM)
Gen Z Takeaway
Revitalisasi Keraton Surakarta bukan cuma soal bangunan, tetapi juga menjaga tradisi dan pengetahuan agar tetap hidup untuk generasi berikutnya.









