Wow! Empat Film Indonesia Tembus BIFF 2026, Ada ‘Laut Bercerita’
astakom.com, Jakarta - Perfilman Indonesia kembali membawa karya sineas Tanah Air ke panggung Busan International Film Festival (BIFF) 2026. Empat film, yakni IBUKU, Laut Bercerita, Empat Musim Pertiwi, dan film pendek αLPα, dijadwalkan hadir dalam sejumlah program festival yang berlangsung di Busan, Korea Selatan, pada 6–15 Oktober 2026.
Melansir dari laman resmi BIFF 2026 pada Kamis, (24/09/2026) keempat film tersebut datang dengan cerita dan pendekatan yang berbeda. Dua di antaranya, IBUKU karya Eddie Cahyono dan Laut Bercerita garapan Yosep Anggi Noen, tercatat dalam bagian Competition BIFF 2026. Sementara itu, Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini masuk program A Window on Asian Cinema, sedangkan αLPα arahan Dhiwangkara Seta tampil di Wide Angle – Asian Short Film Competition.
IBUKU dan Laut Bercerita
IBUKU menjadi salah satu film Indonesia yang masuk kompetisi BIFF 2026. Film karya Eddie Cahyono tersebut merupakan produksi Indonesia-Jepang dan akan menjalani world premiere di Busan. Film berdurasi 96 menit ini dibintangi Christine Hakim dan Ayushita.
Film berpusat pada Sumiati, seorang ibu yang berusaha menemui putrinya, Sri, setelah sang anak menghadapi hukuman mati di luar negeri. Situasi tersebut membawa Sumiati pada perjalanan penuh tekanan, sekaligus membuka persoalan tentang perempuan, keluarga, pekerja migran, dan kondisi sosial yang membentuk kehidupan para tokohnya.
Film Indonesia lainnya di bagian Competition adalah Laut Bercerita atau The Sea Speaks His Namekarya Yosep Anggi Noen. Film berdurasi 133 menit ini juga akan menjalani world premiere di BIFF 2026.
Diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori, film tersebut mengikuti Biru Laut, mahasiswa yang terlibat dalam gerakan mahasiswa pada 1991. Ketika pengawasan negara semakin ketat, sejumlah rekannya ditangkap dan Laut kemudian ikut menghilang. Cerita lalu turut menyoroti keluarga serta orang-orang yang ditinggalkan setelah peristiwa penghilangan paksa tersebut.
Empat Musim Pertiwi hadir
Karya Kamila Andini, Empat Musim Pertiwi, hadir melalui program A Window on Asian Cinema. Dalam katalog resmi BIFF, film ini menggunakan judul internasional Four Seasons in Java dan berdurasi 137 menit.
Film tersebut mengikuti Pertiwi yang kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun. Kepulangannya tidak langsung menjadi awal baru karena ia harus berhadapan dengan masa lalu, penolakan keluarga, serta stigma warga yang masih melekat.
Pertiwi kemudian bertemu dengan orang-orang yang sama-sama berada di posisi terpinggirkan. Perjalanan tersebut membuatnya harus menghadapi kembali persoalan yang selama ini ia coba tinggalkan, sekaligus mencari jalan untuk berdamai dengan masa lalu.
Putri Marino menjadi pemeran utama dalam film tersebut bersama Christine Hakim, Arya Saloka dan sejumlah pemeran lainnya.
αLPα bawa cerita berbeda
Representasi Indonesia di BIFF 2026 juga datang dari film pendek αLPα karya Dhiwangkara Seta. Film berdurasi 16 menit itu masuk program Wide Angle – Asian Short Film Competition dan tercatat sebagai international premiere.
Film ini mengikuti Banyu, vokalis punk berusia 17 tahun yang dibawa ke fasilitas koreksi setelah tampil dalam pertunjukan bawah tanah yang dilarang. Di tempat tersebut, ia tetap mempertahankan sikap melawannya hingga akhirnya harus berhadapan dengan sebuah kenyataan yang selama ini paling ingin ia hindari.
BIFF mencatat Dhiwangkara Seta sebagai sutradara sekaligus penulis film tersebut. αLPα dibintangi Elang El Gibran dan Whani Darmawan, dengan produksi antara lain melibatkan QUN Films dan Lune Features.
Kehadiran empat judul ini menunjukkan beragam tema yang dibawa sineas Indonesia ke Busan, mulai dari perjuangan seorang ibu, penghilangan paksa pada masa Orde Baru, stigma sosial, hingga perlawanan anak muda. BIFF 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 6–15 Oktober 2026 di Busan, Korea Selatan. (deA/RaM)
Gen Z Takeaway
Empat film Indonesia bakal membawa cerita yang beda-beda ke Busan, dari drama keluarga sampai kisah aktivisme dan perlawanan anak muda.









