Sidang PBB: Delegasi Israel Walk-Out Ketika Erdogan Bahas Gaza!
astakom.com, Jakarta – Presiden Turkiiye Recep Tayyip Erdogan nggak bisa nahan diri pas ngasih pidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia blak-blakan menegaskan soal kelakuan Israel di Gaza sama Tepi Barat yang masih diduduki, dan hasilnya bikin suasana rame banget delegasi Israel malah walk-out alias cabut dari ruangan, sementara perwakilan Palestina justru kasih tepuk tangan meriah.
Kritik pedas Erdoğan
“Dengan dukungan [Presiden AS Donald] Trump, kami berkontribusi pada gencatan senjata. Namun terlepas dari apa yang disebut gencatan senjata ini, lebih dari 1.300 warga sipil telah dibunuh di Gaza,” tutur Erdogan dilansir dari Al Jazeera pada Kamis, (24/09/2026).
Meski Hamas dan kelompok Palestina lain udah setuju sama fase kedua kerangka gencatan senjata Oktober, Erdoğan bilang Israel tetep aja jalan terus dan Tepi Barat lagi ngalamin masa paling berat gara gara pemukim ilegal makin merajalela nguasain wilayah.
“Israel tidak mengakhiri tindakannya di Gaza dan Tepi Barat sedang mengalami masa yang paling menantang karena para pemukim ilegal Israel menduduki wilayah tersebut”. sambungnya.
Sebut Kamp Konsentrasi
Erdogan gak segan pake diksi keras. Gaza digambarin sebagai "kamp konsentrasi paling tidak manusiawi dan paling memalukan di zaman kita." Vibes-nya serius banget.
“Kita menghadapi pola pikir genosida yang tidak pernah puas membunuh. Tidak seorang pun yang memiliki kemanusiaan, belas kasihan, atau hati nurani dapat menutup mata,” lanjutnya.
PBB Dinilai Gagal
Salman Shaikh, mantan pejabat PBB yang dulu tugas di Gaza sekaligus pendiri The Shaikh Group, langsung nge back-up statement Erdoğan. Ke Al Jazeera dia bilang situasi di lapangan tuh "sangat, sangat mengerikan" dan pidato Erdoğan itu penting banget karena nyoroti satu hal krusial yaitu dunia gak boleh sampe nganggep apa yang terjadi di Gaza dan Tepi Barat jadi hal yang dinormalisasi. Menurutnya Turki emang jadi salah satu aktor regional dan internasional yang perannya nggak bisa disepelekan.
“Hal yang signifikan dalam pidato Erdogan adalah [gagasan ini] bahwa kita tidak bisa membiarkan apa yang terjadi di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki menjadi situasi yang dinormalisasi,” tutur Salman Shaikh.
“Delapan puluh satu tahun yang lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa dibentuk untuk menjaga perdamaian dan stabilitas global, tetapi sayangnya, PBB telah gagal memenuhi tugasnya,” jelasnya.
Ia menambahkan kalau PBB udah kayak "mati suri" dan lagi ngalamin pendarahan parah di tiga titik panas dunia yaitu Palestina, Lebanon, dan Sudan.
Absennya Presiden Palestina
Momen yang bikin makin miris, Presiden Palestina Mahmoud Abbas nggak bisa hadir di forum PBB gara gara AS nolak kasih visa masuk ini kejadian kedua dalam dua tahun terakhir.
“Perlu diketahui bahwa meskipun Presiden Abbas tidak dapat hadir bersama kita secara langsung di sini, kita akan, seperti yang kita lakukan tahun lalu, terus menjadi suara negara Palestina yang merdeka dan berdaulat,” ungkap Erdogan.
Di penghujung pidatonya, Erdogan juga nyempetin bahas konflik Rusia-Ukraina yang menurutnya udah saatnya banget buat disudahi.
“Harapan tulus kami adalah mengakhiri perang Ukraina-Rusia dengan menjaga integritas teritorial dan kedaulatan Ukraina tetap utuh,” tegasnya. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Momen di PBB ini ngebuktiin kalau diplomasi global lagi super chaos—saat kritik keras dilontarkan, opsi walk-out jadi respon politik ketimbang diskusi. Buat anak muda, isu krisis kemanusiaan kayak gini gak boleh cuma dianggap "angin lalu" atau dinormalisasi cuma gara-gara berita konflik terus-terusan lewat di timeline kita.









