Dari Lansia hingga Mahasiswa Asing, Doa Lintas Iman Bergaung di Monas

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Minggu, 2 Agustus 2026 | 22:08 WIB
Dari Lansia hingga Mahasiswa Asing, Doa Lintas Iman Bergaung di Monas
Dari Lansia hingga Mahasiswa Asing, Monas Gaungkan Doa Lintas Iman [Kemenag]

astakom.com, Jakarta – Kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu, 1 Agustus 2026, mendadak dipenuhi lautan pakaian serba putih. Tapi di antara 100 ribu anggota jemaah Zikir dan Doa Kebangsaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI ini, perpaduan warna-warni dan latar belakang para pesertanya justru bikin suasana makin adem dan estetik.

Nggak cuma umat Islam, acara ini juga dihadiri perwakilan agama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, sampai mahasiswa asing yang lagi kuliah di Indonesia.

Keberagaman itu kelihatan jelas dari atribut yang mereka pakai. Perwakilan umat Konghucu mengenakan kain berwarna kuning-oranye yang dikalungkan di leher menyerupai syal, sementara perwakilan umat Hindu tampil dengan simbol khas seperti udeng buat pria dan kebaya Bali buat perempuan.

Jemaah yang datang benar-benar kayak miniatur Indonesia, mulai dari ibu rumah tangga, anak muda, pelajar, santri, pegawai kantoran, warga lanjut usia (lansia), sampai mahasiswa asing.

Suara rakyat dan harapan usia

Seorang jemaah, Manih, warga Kampung Rambutan, Jakarta Timur, mengungkapkan baru pertama kali menginjakkan kaki di Monas meski seumur hidup tinggal di Jakarta.

"Saya kan orang Betawi, tapi seumur hidup barusan ini ke Monas," tuturnya dikutip oleh astakom pada Minggu (02/08/2026).

Walaupun gak lagi mengingat tahun pasti kelahirannya, ia menyebut berusia sekitar 10 tahun saat peristiwa G30S/PKI terjadi. Pengalaman pahit itu bikin dia paham banget arti kemerdekaan dan rasa aman

"Dulu mah kita sering kagak makan, sekarang alhamdulillah anak cucu kita pada ngerasain sekolah, pada lulus. Saya bersyukur banget pemerintah sekarang, bisa dapat bansos lansia tiap bulan," jelasnya.

Di usia kemerdekaan ke-81 ini, menurutnya Indonesia yang lebih baik start from kebutuhan masyarakat yang terpenuhi.

“Barang-barang jangan pada mahal, kasihan rakyat. Jangan susah nyari kerjaan. Biar Indonesia pada aman, pada berkah indonesia maju, pada jujur, biar pada…udah ahhh,” ungkapnya.

Suara lintas agama dan ekonomi

Harapan selaras turut terdengar dari peserta lintas iman. Nani, anggota Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) asal Citeureup, Bogor, merasakan suasana zikir dan doa ini terasa sangat khidmat.

"Nikmat, ya dinikmati aja," ucapnya. Ia memberikan titipan harapan besar pada bidang pendidikan.

“Harapannya sekolah maju, pemerintah harus mengusahakan sekolah negeri, zonasi dihilangin kayak dulu aja. Semoga umat kita sejahtera, makmur, sehat, dan maju,” jelasnya.

Bagi Nani, doa lintas agama gak hanya soal perbedaan keyakinan yang dipertemukan di satu spot. Tetapi, ia melihatnya sebagai ruang buat menyampaikan harapan bersama demi masa depan bangsa.

Di sisi lain, Ummi Widad, warga asal Bogor, memberi harapan biar pemerintah lebih peka atas kondisi ekonomi masyarakat bawah dan tegas memberantas korupsi. Sebagai masyarakat kecil, ia berkeinginan agar pemerintah bisa makin care sama kehidupan masyarakat bawah.

"Semoga ke depannya masyarakat Indonesia makin makmur. Kasihan melihat remaja-remaja yang tidak sekolah dan tidak punya pekerjaan."ungkapnya.

Ia juga berharap attention ke masyarakat yang membutuhkan semakin merata.

“Kalau dilihat dari agama, anak yatim memang banyak dibantu. Tapi di lapangan, anak piatu juga banyak yang berjuang sendiri,” ujarnya.

Dari medsos hingga lintas negara

Doa untuk Indonesia mulanya juga datang dari generasi muda. 2 mahasiswi asal Sulawesi Tenggara menyatakan baru pertama kali mengikuti kegiatan tersebut setelah mengetahui informasinya melalui media sosial.

"Saya dan teman saya dari Sulawesi Tenggara, kuliah semester lima. Kami lihat infonya dari internet, media sosial, terus mau datang saja."paparnya.

Melihat keramaian di medsos, mereka datang tanpa rombongan, tanpa undangan khusus, hanya berbekal informasi internet dan keinginan tulus untuk ikut mendoakan Indonesia.

Keberagaman pun menembus batas kewarganegaraan. Di antara barisan jemaah, terlihat mahasiswa program magister dari Gambia duduk 1 baris. Meski ada keterbatasan bahasa, mereka tetep ikut agenda full dengan excited.

"We are invited here (Kami diundang ke sini)," ucap Yamin, seorang mahasiswa dari Gambia, tersenyum ramah.

Meski hanya menyampaikan pesan singkat dalam bahasa Inggris, kehadiran mereka membuktikan bahwa vibes kebersamaan di pelataran Monas juga merasuk ke hati para pelajar asing.

Gema zikir dan doa bersama hari itu seolah menekankan kalau indahnya harmoni, harapan, serta doa terbaik untuk bangsa ini bisa dirasakan oleh siapa saja, tanpa memandang latar belakang, di bawah langit Jakarta yang sama. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Acara Zikir & Doa Kebangsaan di Monas ini ngebuktiin kalau keberagaman dan toleransi itu nggak cuma sekadar teori di buku pelajaran, tapi nyata dan estetik banget pas dijalanin bareng-bareng. Mulai dari anak muda yang FOMO positif gara-gara info di medsos, warga senior yang paham betul perjuangan masa lalu, sampai mahasiswa internasional, semuanya kumpul cuma buat satu tujuan: nyampaiin harapan tulus biar Indonesia makin aman, pendidikan merata, dan ekonomi rakyat kecil makin sejahtera.

Zikir dan Doa Kebangsaan Monas HUT ke-81 RI Lintas Agama

Infografis

Terkini