Tangis Haru Orang Tua Siswa Warnai Pembukaan MPLS Sekolah Rakyat di Wonosobo

Pewarta: A. Cuwantoro
Editor: Anri Syaiful
Sabtu, 1 Agustus 2026 | 09:08 WIB
Tangis Haru Orang Tua Siswa Warnai Pembukaan MPLS Sekolah Rakyat di Wonosobo
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono berdialog dengan dengan salah satu siswa pada pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dan Siswa (MPLS) tahun ajaran 2026/2027. [Kemensos]

astakom.com, Jakarta — Tri Murniyati tak sanggup menahan air matanya pada pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dan Siswa (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 di Sekolah Rakyat Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Jumat (31/07/2026). Tangisan itu bukan karena sedih, melainkan perasaan bahagia dan bersyukur karena anaknya, Muhammad Daud, berhasil masuk Sekolah Rakyat.

Dengan suara bergetar, Tri menceritakan perjuangannya. Dia adalah orang tua tunggal yang menanggung lima anggota keluarga. Sehari-hari dia bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp700 ribu per bulan. Nilai tersebut membuatnya sangat kesulitan untuk membiayai sekolah anak-anaknya.

Di hadapan Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Tri menyampaikan rasa terima kasihnya.

"Kagem (kepada) bapak Presiden, matur nuwun sanget, terima kasih banyak sudah menyediakan gedung (Sekolah Rakyat), untuk pendidikan anak-anak kami yang kurang mampu, kami bisa meraih cita-cita melalui anak-anak kami," kata Tri, dikutip dari laman Kemensos.

Harapan Meraih Cita-Cita

Bagi Tri, Sekolah Rakyat hadir sebagai jawaban di tengah kebuntuan ekonomi keluarganya. Kini, anaknya kembali memiliki harapan untuk meraih cita-cita.

"Karena anak-anak saya ingin sekali maju, ingin sekali menjadi anak-anak yang membanggakan orang tua. Buat saya, ini adalah kesempatan untuk kami bisa mendidik anak-anak menjadi lebih baik lagi," ujarnya sambil meneteskan air mata.

Rasa syukur serupa juga dirasakan oleh Turmudi, orang tua dari siswa bernama Syekh Mufti. Turmudi bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu, terkadang hanya Rp50 ribu per hari saat ada lahan yang digarap.

Bagi Turmudi, Sekolah Rakyat sangat meringankan beban ekonomi keluarganya. Anak pertamanya kini bisa melanjutkan sekolah secara gratis dan berkualitas.

"Terima kasih Bapak Presiden Prabowo, saya merasa senang, saya rakyat kecil, dibantu sama Bapak Presiden Prabowo, semoga lancar dan anak-anak saya jadi pintar," kata Turmudi haru.

Gagasan Presiden Prabowo Memutus Rantai Kemiskinan

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat adalah gagasan Presiden Prabowo Subianto. Program ini bertujuan memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui akses pendidikan.

"Maka negara kemudian menjemput, menjemput anak-anak dari Bapak dan Ibu ke rumah-rumah untuk disekolahkan di Sekolah Rakyat," kata Agus Jabo.

Agus Jabo mengungkapkan bahwa keluarga Ibu Tri dan Bapak Turmudi adalah contoh dari jutaan keluarga miskin di Indonesia.

"Ada 4,1 juta anak Indonesia yang belum sekolah, tidak sekolah, dan putus sekolah karena faktor ekonomi," ujarnya.

Melihat tingginya kebutuhan masyarakat, pemerintah memutuskan untuk menambah kapasitas tampung gedung Sekolah Rakyat. Target yang semula seribu siswa kini dinaikkan menjadi dua ribu siswa per sekolah.

"Pak Presiden kemarin perintahnya adalah setiap sekolah harus bisa menampung seribu siswa. Sekarang ini kita diperintahkan satu sekolah harus bisa menampung minimal dua ribu siswa, karena saking banyaknya anak-anak kita yang tidak sekolah," pungkasnya. (ACwan/aNs)

Gen Z Takeaway

Momen paling terharu pekan ini! Siswa kurang mampu di Wonosobo akhirnya bisa sekolah gratis di Sekolah Rakyat Kemensos (31/7/2026). Ibu Tri & Pak Turmudi yang cuma buruh tani tak kuasa menahan tangis karena anak-anak mereka punya harapan baru buat meraih cita-cita. Biar bisa bantu lebih banyak dari 4,1 juta anak putus sekolah di Indonesia, daya tampung Sekolah Rakyat ini bahkan ditambah jadi minimal 2.000 siswa per sekolah! 

sekolah rakyat Sekolah Rakyat Prabowo Agus Jabo Priyono Sekolah Rakyat Wonosobo

Infografis

Terkini