Kemenbud Gandeng Yayasan PETA Siapkan Film Kepahlawanan, Kisah Soeprijadi Bakal Diangkat
astakom.com, Jakarta - Sejarah perjuangan bangsa bakal dikemas dengan wajah yang lebih dekat ke generasi sekarang. Lewat layar lebar, kisah para pejuang Indonesia disiapkan hadir bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi juga menjadi cara baru mengenalkan perjalanan mempertahankan kemerdekaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Melansir keterangan resmi Kementerian Kebudayaan yang diterima astakom.com pada Kamis (30/07/2026), Kementerian Kebudayaan memperkuat kolaborasi dengan Yayasan Pembela Tanah Air (PETA) Pusat untuk mengembangkan film bertema kepahlawanan yang mengangkat kisah Shodanco Soeprijadi dan perjuangan PETA. Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama jajaran Yayasan PETA di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Rabu (29/07/2026).
Selain membahas produksi film, kedua pihak juga menyelaraskan langkah untuk memperkuat literasi sejarah, menjaga memori kolektif bangsa, serta memastikan setiap karya budaya yang dihasilkan tetap berpijak pada fakta sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kisah perjuangan siap naik layar
Salah satu fokus pembahasan adalah pengembangan film yang mengangkat perjuangan Shodanco Soeprijadi, tokoh PETA yang memimpin pemberontakan terhadap pendudukan Jepang di Blitar pada 14 Februari 1945. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang kemudian dikenang sebagai bagian dari sejarah menuju kemerdekaan Indonesia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan tema film yang tengah disiapkan pemerintah memang diarahkan untuk mengangkat periode perang mempertahankan kemerdekaan, sesuai arah kebijakan pemerintah dalam penguatan narasi sejarah nasional.
"Tema besar yang kita batasi memang mengenai perang mempertahankan kemerdekaan, sesuai arahan Presiden. Jadi kita tidak menggunakan istilah revolusi, melainkan perang mempertahankan kemerdekaan, karena historiografi kita memang paling banyak berada pada periode 1945–1950," jelas Menbud.
Fadli menambahkan, Kementerian Kebudayaan saat ini telah menyiapkan sejumlah skenario awal yang masih terbuka untuk dikembangkan bersama Yayasan PETA. Menurutnya, penyusunan naskah perlu melibatkan sumber-sumber sejarah yang dimiliki Yayasan PETA agar hasil akhirnya tidak hanya memiliki nilai sinematik, tetapi juga akurat secara historis.
Produksi masuk tahap persiapan
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Yayasan PETA Tinton Suprapto mengusulkan agar sejarah PETA periode 1943–1945 turut mendapat ruang dalam produksi film. Salah satu alternatif yang dibahas ialah menghadirkan kisah PETA dalam format film pendek, sementara cerita Shodanco Soeprijadi dikembangkan menjadi film panjang.
"Skenario film tersebut diinisiasi oleh Yayasan PETA dengan riset dan cerita yang telah selesai disusun oleh Jujur Prananto. Saat ini, proses produksi memasuki tahap penentuan sutradara, pembentukan tim kreatif, serta penyusunan kebutuhan anggaran dan skema investasi," jelasnya kepada Menbud.
Dengan tahapan tersebut, proses produksi kini diarahkan pada pembentukan tim kreatif sekaligus penyusunan skema pendanaan agar proyek dapat berjalan sesuai rencana tanpa mengesampingkan proses riset sejarah.
Gelar perintis juga diproses
Kolaborasi Kementerian Kebudayaan dan Yayasan PETA tidak berhenti pada produksi film. Pertemuan itu juga membahas perkembangan pengusulan gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan bagi para perintis PETA.
Yayasan PETA telah mengusulkan 20 nama, dengan 16 di antaranya telah memperoleh persetujuan di tingkat Kementerian Sosial. Selanjutnya, usulan tersebut masih menunggu proses verifikasi di Sekretariat Militer Presiden sebelum dibahas oleh Dewan Gelar.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Kebudayaan bersama Yayasan PETA akan memfinalisasi pengembangan film Shodanco Soeprijadi, menyelaraskan naskah dengan sumber sejarah, menyusun skema investasi produksi, sekaligus melakukan verifikasi lanjutan terhadap usulan gelar bagi para perintis.
Melalui kolaborasi ini, Kementerian Kebudayaan berharap sejarah perjuangan PETA tidak hanya tersimpan sebagai arsip, tetapi juga hadir dalam medium yang lebih dekat dengan masyarakat. Dengan dukungan riset dan kurasi sejarah, film tersebut diharapkan mampu memperluas literasi sejarah sekaligus membuat kisah perjuangan bangsa semakin relevan dan mudah dipahami oleh generasi muda. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Buat generasi sekarang, film bisa jadi pintu masuk untuk mengenal sejarah dengan cara yang lebih relate. Selama ceritanya dibangun dari riset dan fakta sejarah yang kuat, layar lebar bukan cuma jadi hiburan, tetapi juga ruang untuk menjaga agar kisah perjuangan para pahlawan tetap hidup lintas generasi.









