Konferensi Imam Internasional: Menag Dorong Diplomasi Agama dan Ekoteologi
astakom.com, Jakarta – Indonesia bakal jadi tuan rumah buat gelaran super megah, International Grand Imam Conference 2026. Menteri Agama Nasaruddin Umar secara gamblang nge spill kalau event internasional ini bukan sekadar kumpul-kumpul biasa, melainkan langkah strategis untuk memperkuat diplomasi keagamaan kita di kancah global.
Misi diplomasi religi
International Grand Imam Conference sendiri bakal jadi ruang ketemuannya para imam besar, pemimpin masjid, hingga tokoh-tokoh agama top dari berbagai belahan dunia. Misi utamanya adalah membahas pesan perdamaian yang adem sekaligus aksi nyata buat jaga lingkungan. Menag menegaskan kalau agama punya peran krusial buat nemuin titik temu di antara umat manusia. Pendekatan berbasis religi ini dinilai bisa banget ngelengkapin jalur diplomasi formal karena langsung menyentuh moral, kemanusiaan, dan nurani terdalam.
"Kita ingin memperkenalkan Indonesia sebagai negara yang menghadirkan kedamaian dan ketenteraman melalui diplomasi religius. Melalui pendekatan nilai kemanusiaan dan nurani, titik temu antarumat manusia lebih mudah diwujudkan," tutur Menag Nasaruddin Umar pada saat menjadi narasumber dalam Podcast Open The Door di Jakarta dikutip oleh astakom pada Senin, (20/07/2026).
Ekoteologi: agama jaga alam
Menag ngejelasin kalau konferensi imam sedunia ini gak cuma fokus buat menyebarkan positive vibes perdamaian aja. Ada isu yang gak kalah penting dan lagi hangat-hangatnya dibahas, yaitu pelestarian lingkungan lewat kacamata ekoteologi. Konsep keren ini memosisikan nilai-nilai agama sebagai fondasi moral utama biar masyarakat punya kesadaran spiritual yang tinggi buat ngerawat alam dan nolak keras segala bentuk perusakan lingkungan.
Menurut beliau, rumah ibadah dan para pemuka agama itu punya peran yang sangat strategis. Mereka bisa menyampaikan pesan-pesan penyelamatan bumi pakai bahasa yang membumi, santun, dan gampang dicerna sama masyarakat lintas generasi. Menurutnya, isu krusial kaya gini gak akan cukup kalau cuma diselesaikan lewat jalur formal, tapi butuh sentuhan nilai kesadaran spiritual yang mendalam.
"Pendekatan formal seringkali menemui tantangan dalam isu pelestarian lingkungan. Melalui bahasa agama, kita sepakat bahwa pemanfaatan alam perlu dilakukan secara bertanggung jawab, sementara eksploitasi dan perusakan alam harus dicegah," tutur Menag.
Aksi nyata Masjid Istiqlal
Menag langsung ngasih contoh nyata yaitu Masjid Istiqlal Jakarta! Rumah ibadah kebanggaan kita ini udah lama menerapkan prinsip-prinsip eco-friendly. Gak tanggung-tanggung, Istiqlal sukses menyabet sertifikasi EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies), sebuah penghargaan internasional untuk bangunan yang terbukti hemat energi, efisien, dan ramah lingkungan.
Harapan masa depan
Lewat International Grand Imam Conference 2026 ini, Kementerian Agama berharap gagasan-gagasan visioner yang lahir nanti bisa bikin kontribusi Indonesia makin nyata dalam diplomasi keagamaan, perdamaian dunia, serta kelestarian alam. Forum global ini juga diharapkan bisa jadi wadah saling tukar pengalaman antarnegara supaya rumah ibadah bener-bener berfungsi optimal sebagai pusat edukasi moral, sosial, sekaligus ekologis bagi peradaban masa depan. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Event ini membuktikan kalau agama gak cuma soal ibadah ritual aja, tapi juga punya power besar buat jadi solusi krisis iklim dan perdamaian dunia. Lewat konsep ekoteologi, menjaga bumi kini jadi bagian dari spiritual healing dan tanggung jawab moral kita. Saatnya anak muda dukung gerakan rumah ibadah yang ramah lingkungan seperti Masjid Istiqlal demi masa depan peradaban yang lebih hijau!








