Menteri ESDM Spill Batu Bara RI Buat Listrik Punya PR Baru: Kalori Turun, Biaya Produksi Naik
astakom.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, jujur bilang kalau ada hambatan pada hari operasi pembangkit (HOP) milik PT PLN (Persero).
Hambatan itu dipicu sama minimnya suplai batu bara dengan kalori menengah atau sebesar 5.200 kcal/kg GAR. Fyi, Kementerian ESDM sebelumnya mencatat cuma ada 5 persen yang punya nilai kalori di atas 6.000 kcal/GAR dari total cadangan batu bara nasional sebesar 31 miliar ton.
Makanya kalau sektor industri bergantung kuat lini operasionalnya pada batu bara kalori tinggi ini bisa menjadi ancaman kelangsungan bisnis. Bahlil blak-blakan bilang kalau masalah ini tidak terlepas dari kecenderungan menyusutnya kualitas kandungan kalori pada hasil produksi batu bara domestik.
"Itu ada kendala memang sedikit terhadap batu bara yang medium kalori, yang 5.200. Kita kan tahu bahwa sekarang kan kalori batu bara kita ini kan semakin hari semakin rendah. Nah ini yang kita lagi cari solusinya, tapi secara yang lainnya enggak ada masalah," kata Bahlil di Kompleks Kemenko Perekonomian, Jakarta, dikutip oleh astakom.com pada Jumat (19/6/2026).
Gap antara harga jual dengan biaya produksi
Dari segi regulasi bisnis, harga jual komoditas batu bara buat kebutuhan listrik domestik masih mengacu ke ketentuan Domestic Market Obligation (DMO) sebesar USD70 per ton.
Sedangkan di sisi penambang, mereka harus menghadapi kenyataan membengkaknya biaya produksi di lapangan. Hal ini terlihat dari rasio pengupasan tanah atau stripping ratio (SR) yang sekarang bertengger di rentang 8 - 12 persen.
Beban operasional yang melonjak ini dinilai nggak balance dengan ketentuan harga jual yang rendah buat keberlanjutan bisnis pertambangan.
Penyesuaian harga acuan batu bara terakhir dilakukan 2019
"Untuk medium ini kan SR-nya sudah di 8-12 persen, cost produksinya kan udah tinggi. Jadi kita juga harus bijaksana agar teman-teman pengusaha juga jangan juga dibeli dengan harga yang sangat murah. Kalau beli harganya rugi enggak mungkin juga. Karena pengusaha juga kan harus jaga agar mereka tidak rugi," jelasnya.
Keluhan dari para pelaku usaha soal ketetapan harga batu bara acuan (HBA) yang dinilai belum pernah disesuaikan dari 2019 di tengah tren lonjakan biaya produksi, Bahlil bilang kalau pihaknya akan mempertimbangkannya.
"Betul, itu salah satu pertimbangan yang akan kita hitung," katanya.
Lagi hitung untung-rugi skema harga DMO
Bahlil memaparkan kalau sekarang pemerintah lagi melakukan kajian komprehensif soal kalkulasi untung-rugi dari skema harga DMO, dengan tujuan merumuskan kebijakan yang adil supaya PLN terhindar dari potensi kerugian. Lalu, pengusaha pertambangan juga tetep bisa mempertahankan kelayakan bisnisnya.
"Lagi kita menghitung plus minus agar PLN-nya juga tidak dirugikan dan pengusahanya juga tidak dirugikan," katanya. (Shnty/aRsp)









