David Vs Goliath: Kesenjangan Peringkat Besar dan Kecil di Piala Dunia 2026
astakom.com, Jakarta — Ekspansi format 48 tim pada Piala Dunia FIFA 2026 telah membuka pintu lebar-lebar bagi sejumlah tim debutan dan negara berperingkat rendah untuk menguji kemampuan mereka melawan kekuatan tradisional sepak bola internasional. Berdasarkan Peringkat Dunia Pria FIFA terbaru, jurang pemisah terbesar antar-kontestan di fase grup mencapai hingga 77 peringkat. Tim-tim raksasa seperti Brasil, Inggris, dan Spanyol dijadwalkan menghadapi tim yang berada di luar posisi 65 besar dunia demi menghindari kejutan besar yang bisa memutarbalikkan prediksi.
Kendati demikian, sejarah Piala Dunia berulang kali membuktikan bahwa peringkat di atas kertas tidak pernah menjamin apa pun. Arab Saudi sempat mengejutkan dunia saat menumbangkan sang juara bertahan Argentina pada Qatar 2022.
Jauh sebelum itu, Argentina yang berstatus juara bertahan juga ditekuk Kamerun pada Italia 1990, sementara Korea Utara menorehkan tinta emas dengan menyingkirkan Italia pada Inggris 1966. Menjelang bergulirnya pesta sepak bola terakbar ini, berikut adalah lima pertandingan yang menonjol sebagai duel "David vs Goliath" terbesar di atas kertas.
Brasil (Peringkat 6) vs Haiti (Peringkat 83)
Pemilik lima gelar juara dunia, Brasil, memasuki turnamen ini dengan menduduki peringkat keenam dunia, sementara Haiti berada di posisi ke-83 dengan selisih kesenjangan mencapai 77 peringkat. Kedua negara tercatat telah bertemu sebanyak empat kali sebelumnya, dengan Selecao sukses menyapu bersih dua pertemuan terakhir lewat kemenangan telak selisih enam gol—masing-masing unggul 7-1 pada Copa America Centenario 2016 dan 6-0 dalam laga persahabatan internasional tahun 2004.
Keberhasilan Haiti menembus putaran final menjadi salah satu kisah paling menarik dalam turnamen ini, di mana skuad Les Grenadiers akhirnya kembali ke panggung Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974. Pada masa itu, Emmanuel ‘Manno’ Sanon mengukir namanya dalam sejarah sepak bola dunia setelah menjebol gawang Italia, sekaligus mengakhiri rekor clean-sheet dunia milik Dino Zoff yang bertahan selama 1.142 menit. Meski Haiti akhirnya kalah 3-1, gol Sanon tetap menjadi salah satu momen paling bersejarah dan dirayakan dalam dinamika sepak bola negara tersebut.
Belgia (Peringkat 9) vs Selandia Baru (Peringkat 85)
Belgia dan Selandia Baru memegang selisih 76 peringkat dan belum pernah bertemu sekalipun di level internasional senior pria. Berada di peringkat kesembilan dunia, Belgia tetap mempertahankan konsistensinya sebagai salah satu penampil terbaik Eropa di turnamen besar, meski saat ini tengah menjalani transisi bertahap dari era "generasi emas" mereka yang kesohor.
Di seberang lapangan, Selandia Baru yang menempati peringkat 85 kembali ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2010. Pada edisi tersebut, mereka mencatatkan prestasi unik dengan tersingkir tanpa satu pun kekalahan setelah menahan imbang Slowakia, Italia, dan Paraguay. Hasil imbang 1-1 melawan Italia yang saat itu berstatus juara bertahan, secara luas dianggap sebagai pencapaian terbaik dalam sejarah tim All Whites.
Jerman (Peringkat 10) vs Curacao (Peringkat 82)
Pertemuan Curacao dengan Jerman di Houston dengan selisih 72 peringkat akan menandai pertandingan Piala Dunia pertama dalam sejarah negara Karibia tersebut. Menduduki peringkat 82 dunia, Curacao merupakan negara dengan jumlah populasi terkecil yang pernah lolos ke putaran final Piala Dunia FIFA. Mereka langsung dihadapkan pada ujian berat di laga perdana melawan pemilik empat gelar juara dunia, Jerman, yang mengusung misi kebangkitan setelah tersingkir secara memalukan di fase grup pada edisi 2018 dan 2022.
Mengingat hanya Brasil yang memiliki jumlah penampilan lebih banyak dari Jerman (20 kali), tidak mengherankan jika Die Mannschaft sempat mengalami beberapa hasil mengejutkan dalam 112 pertandingan mereka sebelumnya di turnamen ini. Kemenangan 2-1 Aljazair pada laga perdana mereka di Piala Dunia 1982 tetap melekat dalam ingatan sejarah sepak bola negara Afrika tersebut. Sementara pada 2018, Korea Selatan sukses menumbangkan Jerman ketika mereka berstatus juara bertahan. Gol di masa perpanjangan waktu dari Kim Young-gwon dan Son Heung-min memastikan kemenangan 2-0 yang mendepak Jerman di fase grup untuk pertama kalinya.
Inggris (Peringkat 4) vs Ghana (Peringkat 73)
Inggris dan Ghana terpisahkan jarak 69 peringkat dan belum pernah bertemu dalam pertandingan kompetitif resmi di tingkat senior, meski kedua tim sempat melakoni laga persahabatan di Stadion Wembley pada tahun 2011 yang berakhir imbang 1-1 melalui gol telat Asamoah Gyan. Bertengger di peringkat empat dunia, Inggris menuju turnamen di Kanada, Meksiko, dan AS sebagai salah satu tim favorit juara. Skuad Three Lions akan menantang Ghana dalam laga kedua Grup L di Stadion Boston.
Namun, skuad Black Stars memiliki rekam jejak mumpuni dalam membalikkan status non-unggulan. Mereka sempat mencuri perhatian dunia pada tahun 2010 dengan menjadi tim Afrika ketiga yang berhasil mencapai babak perempat final Piala Dunia, sebelum akhirnya gagal secara dramatis melaju ke semifinal. Sebaliknya, sejarah Piala Dunia milik Inggris juga diwarnai oleh kisah kelam kekalahan dari tim kecil; kekalahan 1-0 dari Amerika Serikat pada tahun 1950 yang dikenal sebagai 'Miracle on Grass' (Keajaiban di atas Rumput), serta tersingkirnya mereka oleh Islandia pada UEFA EURO 2016 menjadi peringatan nyata betapa cepatnya ekspektasi besar dapat runtuh di panggung internasional.
Spanyol (Peringkat 2) vs Tanjung Verde (Peringkat 67)
Spanyol dan Tanjung Verde (Cabo Verde) terpisah jarak 65 posisi dan akan saling berhadapan untuk pertama kalinya di Atlanta dalam sebuah laga yang menyuguhkan kontras paling mencolok di turnamen ini. Spanyol, yang saat ini menduduki peringkat dua dunia, datang dengan modal mentereng sebagai juara UEFA EURO 2024, dimotori oleh barisan generasi baru yang memukau seperti Lamine Yamal dan Pedri. Di sisi lain, Tanjung Verde membuat debut bersejarah mereka di Piala Dunia setelah bertahun-tahun menunjukkan perkembangan progresif berkat kontribusi talenta diaspora dan peningkatan investasi domestik.
Tim berjuluk The Blue Sharks ini telah menghabiskan dekade terakhir untuk membangun reputasi sebagai salah satu tim kuda hitam paling berbahaya di sepak bola Afrika. Pada Piala Afrika 2023, mereka sukses menumbangkan Ghana dan Mozambik, serta menahan imbang Mesir 2-2. Dalam perjalanannya di kualifikasi Piala Dunia, tim asuhan Bubista ini bahkan mampu mengalahkan Kamerun untuk mengamankan tiket ke putaran final. Spanyol tentu harus ekstra waspada; La Roja pernah dikejutkan oleh Irlandia Utara saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 1982, di mana gol tunggal Gerry Armstrong mencatatkan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah kompetisi. (ACwan/aNs)
Gen Z Takeaway
Intinya, Piala Dunia 2026 yang pakai format baru 48 tim ini bakal chaos parah karena banyak tim underdog yang siap nge-hustle dan bikin plot twist! Meskipun tim gede kayak Brasil, Inggris, atau Spanyol punya rank tinggi di atas kertas, sejarah udah ngebuktiin kalau di lapangan ijo tuh ranking cuma sekadar angka dan gak nge-garansi bakal auto-win—remember waktu Arab Saudi nge-fumble Argentina di Qatar? So, mending tim-tim raksasa ini jangan kepedean duluan (stay humble) dan tetep keep up biar gak kena mental breakout dijegal sama tim debutan yang siap tampil all-out!








