Pertemuan Penutup Haji 2026: Pemerintah Ungkap Capaian Positif, Janjikan Peningkatan Mutu Layanan Tahun Depan

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: AR Purba
Senin, 8 Juni 2026 | 08:38 WIB
Pertemuan Penutup Haji 2026: Pemerintah Ungkap Capaian Positif, Janjikan Peningkatan Mutu Layanan Tahun Depan
Pertemuan Penutup Haji 2026: Menhaj Dorong Peningkatan Mutu Layanan Tahun Depan (Kemenhaj)

astakom.com, Jakarta – Bertempat di Kantor Urusan Haji, Jeddah, Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah RI yang di pimpin Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) menghadiri langsung agenda Rapat Penutupan Amirul Haji 2026 pada Sabtu (6/6/2026).

Agenda ini menjadi wadah evaluasi operasional Haji 2026 sekaligus forum penyampaian rekomendasi guna meningkatkan kualitas layanan pada musim berikutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri mengapresiasi pelaksanaan ibadah haji tahun ini yang dinilai berjalan lancar dan mengalami peningkatan kualitas dibanding tahun lalu.

Apresiasi kolaborasi dan lonjakan kuota

Ia menyebut kesuksesan ini terwujud berkat kolaborasi lintas sektor, terlebih karena jemaah haji Indonesia memiliki latar belakang, karakteristik, serta kebutuhan yang sangat berbeda beda.

“Operasi haji tahun ini tidak mudah. ​​Jemaah haji kami datang dari seluruh Indonesia dengan berbagai latar belakang dan keberagaman. Alhamdulillah, melalui kerja sama semua pihak, prosesnya berjalan dengan baik,” ucap Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Mochamad Irfan Yusuf dikutip oleh astakom pada Minggu, (7/6/2026).

Ia menegaskan kalau Kementerian Haji dan Umrah tidak bisa berdiri sendiri dalam menyelenggarakan ibadah haji. Karena itu, ia mengapresiasi kerja keras seluruh pemangku kepentingan mulai dari fase persiapan, operasional, puncak armuzna, hingga pemulangan jemaah.

“Kementerian Haji dan Umrah tidak berdiri sendiri. Kami membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Saya mengapresiasi semua pemangku kepentingan yang telah bekerja keras dalam menyelenggarakan ibadah Haji tahun ini,” ucapnya.

Sementara itu, beberapa pencapaian dan catatan krusial sepanjang operasional Haji 2026 turut dipresentasikan oleh Ketua PPIH Arab Saudi, Ian Heriyawan.

Ian mengungkapkan, penyerapan kuota haji Indonesia musim ini menembus 99,6 persen, dengan sisa sekitar 600 kuota yang tidak terpakai. Sementara untuk fase pemulangan, sebanyak 78 kelompok terbang (kloter) atau sekitar 30.500 jemaah tercatat telah tiba di tanah air.

Sinergi syarikah dan strategi kebijakan baru

“Tingkat penyerapan kuota kami mencapai 99,6 persen. Sekitar 600 kuota tidak digunakan. Adapun untuk fase kepulangan, sejauh ini 78 kelompok penerbangan, atau sekitar 30.500 jemaah, telah kembali ke Indonesia,” papar Ian.

Terkait proyeksi pelayanan tahun depan, Ian menekankan kalau sinergi antara petugas haji dan syarikah harus diperketat. Di sisi lain, ia menilai pemerintah perlu menyiapkan strategi mitigasi yang matang menghadapi kebijakan baru Arab Saudi terkait penunjukan mitra syarikah bagi jemaah haji.

“Kita harus fokus pada bagaimana kerja sama antara petugas Haji dan syarikah akan berjalan ke depannya. Ini termasuk langkah-langkah mitigasi terkait kebijakan Saudi tentang penunjukan syarikah,” ucap Ian.

10 Rekomendasi strategis untuk tahun depan

Pada forum tersebut, Sekretaris Amirul Haji Ilfi Nurdiana turut memaparkan 10 poin rekomendasi strategis guna mendongkrak kualitas pelayanan haji di masa mendatang.

Poin pertama menyoroti peningkatan fasilitas di Mina, terutama perluasan kapasitas tenda dan penyediaan ruang privasi bagi jemaah perempuan agar dapat beraktivitas dengan nyaman dan terjaga.

“Kedua, meningkatkan ketepatan waktu layanan transportasi sebelum dan sesudah Armuzna. Perlu ada instruksi yang jelas kepada syariat transportasi untuk memastikan bus tiba lebih awal. Syariat yang terlambat juga harus dievaluasi untuk operasional tahun berikutnya,” jelasnya.

Poin ketiga menekankan pentingnya mempercepat mobilisasi bus antar jemput setelah masa Armuzna usai, tentunya dengan mengantongi izin dari Pemerintah Arab Saudi. Hal ini dinilai krusial agar jemaah dapat menuntaskan tawaf ifadah serta tawaf wada tanpa hambatan.

“Keempat, efisiensi pelayanan berdasarkan kedekatan hotel dengan Masjidil Haram. Kami percaya bahwa meskipun biaya hotel mungkin lebih tinggi, menempatkan jamaah di hotel yang lebih dekat dengan Haram dapat mengurangi kebutuhan transportasi dan meningkatkan kenyamanan jamaah,” ucap Ilfi.

Kelima, ia menekankan pentingnya mendongkrak konsumsi produk lokal untuk menu makanan jemaah haji, baik dengan memaksimalkan operasional dapur Indonesia di sana maupun meningkatkan volume impor bahan pangan asal tanah air.

"Keenam, meningkatkan pelatihan bagi perwira kelompok penerbangan dan perwira regional agar kualitas pelayanan di lapangan menjadi lebih konsisten dan selaras dengan standar,” ujarnya.

Ketujuh, ia menekankan perlunya peningkatan standar kerja petugas haji sesuai bidang keahlian mereka. Selain itu, kuantitas pemandu ibadah pria perlu ditambah agar bimbingan ibadah kepada jemaah tidak terputus ketika petugas perempuan sedang tidak bersedia di lapangan.

“Kedelapan, memperkuat diplomasi terkait layanan kesehatan dan akomodasi di Armuzna, khususnya meningkatkan fasilitas tenda, menambah jumlah toilet untuk wanita dan jemaah lanjut usia, serta mengamankan izin wukuf safari bagi jemaah yang sakit parah,” sambungnya.

Poin kesembilan menekankan penguatan konsep haji ramah lingkungan (green hajj), terutama di kawasan Armuzna. Langkah konkret yang diusulkan adalah memangkas produksi limbah plastik dengan menyediakan fasilitas dispenser dan gelas isi ulang bagi jemaah.

“Terakhir, perlu ada layanan dorong kursi roda yang terintegrasi, nyaman, dan aman bagi para lansia dan jemaah berisiko tinggi, agar tidak terjadi fluktuasi harga. Selain itu, kemungkinan pembukaan Bandara Taif perlu dipelajari. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan, perlu melakukan studi kelayakan,” tutupnya.

Catatan positif tata kelola haji 2026

Agenda penutupan tersebut diakhiri dengan catatan positif berupa pengakuan dari berbagai pihak atas kualitas pelayanan haji tahun ini yang kian membaik. Indikator kesuksesan ini terlihat jelas dari tingginya indeks kepuasan jemaah serta penurunan tajam pada angka aduan di lapangan.

Di sisi lain, penyusutan temuan audit internal maupun eksternal mengindikasikan tata kelola haji yang kian transparan dan akuntabel. Standar pelayanan yang lebih terukur melalui Service Level Agreement (SLA), ditambah membaiknya indikator kesehatan jemaah, menjadi catatan positif untuk mendongkrak mutu layanan pada musim berikutnya. (nAD/aRsp)

​Gen Z Takeaway

Haji 2026 sukses besar dengan penyerapan kuota menyentuh 99,6%! Gak cuma sekadar selesai, pemerintah langsung gas pol bikin 10 rencana perbaikan buat musim depan. Mulai dari kamar ramah perempuan di Mina, hotel yang lebih dekat biar gak jompo di jalan, peningkatan menu lokal, sampai aksi nyata green hajj lewat pengurangan sampah plastik. Upgrade layanan berbasis data (SLA) ini jadi bukti kalau manajemen haji sekarang makin transparan, inklusif, dan satset!

Kemenhaj Kementerian Haji Jemaah Haji Indonesia Layanan Haji Disiplin. Muhammad Irfan Yusuf Layanan haji 2026

Infografis

Terkini