Tangis Haru di Sela Nisan: Saat Anak Asuh Mak Painah Lolos Sekolah Rakyat

Pewarta: A. Cuwantoro
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 29 Mei 2026 | 13:35 WIB
Tangis Haru di Sela Nisan: Saat Anak Asuh Mak Painah Lolos Sekolah Rakyat
Mak Painah (73), warga Surakarta kurang mampu yang mendapat bansos dari program pemerintah dan anak angkatnya Aditya Herlambang diterima di SRMA 17 Surakarta secara gratis. [Kemensos]

astakom.com, Jakarta — Aroma kamboja dan sunyinya rimbun makam di Kelurahan Pucangsawit, Kota Surakarta, Jawa Tengah, adalah saksi bisu perjuangan Painah. Di usianya yang telah menginjak 73 tahun, langkah kakinya mungkin tak lagi tegap. 

Namun setiap pagi, jemari keriputnya tetap telaten memungut bunga-bunga yang gugur dan membersihkan pusara. Dari pekerjaan dengan penghasilan tak menentu itu—yang sering kali tak sampai Rp10 ribu sehari—Mak Painah merajut sebuah mukjizat: membesarkan Aditya Herlambang.

Aditya bukan anak kandungnya. Belasan tahun lalu, seorang bayi merah dititipkan kepadanya "hanya untuk sebentar". Namun, sang orang tua kandung tak pernah kembali. Sejak suaminya wafat, di rumah sederhana itulah Mak Painah memilih mendekap takdirnya sebagai ibu tunggal bagi Aditya.

"Sudah saya anggap anak sendiri," ucap Mak Painah, matanya berbinar, dikutip dari laman resmi Kemensos, Jumat (29/05/2026).

Bayang-bayang Aditya putus sekolah

Merawat Aditya di tengah keterbatasan adalah seni bertahan hidup. Ujian terberat datang ketika Aditya lulus SMP. Mak Painah sempat didera rasa takut yang luar biasa. Bayang-bayang masa depan Aditya yang putus sekolah sempat menghantui malam-malam sepinya karena ia tak punya sepeser pun uang pangkal.

Titik balik itu akhirnya datang. Air mata kekhawatiran Mak Painah berubah menjadi tangis haru saat mengetahui Aditya diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta secara gratis. 

"Alhamdulillah, saya senang sekali. Sampai menangis karena dia bisa sekolah tanpa biaya," kenangnya, suaranya bergetar menahan rindu pada masa depan yang lebih baik untuk anaknya.

Mak Painah dapat berbagai bansos 

Di usia senjanya, napas kehidupan Mak Painah kini banyak ditopang oleh uluran tangan pemerintah. Melalui Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial, serta bantuan sembako dan bantuan Yatim Piatu (YAPI), beban di pundak ringkihnya sedikit terangkat.

Bagi Mak Painah, Aditya adalah alasan utamanya untuk tetap terbangun setiap pagi dan menjemput rezeki di antara batu nisan. "Saya ingin melihat Aditya tumbuh besar, sekolahnya selesai, dan hidupnya lebih baik dari saya," tuturnya lirih. 

Kisah dari sudut Surakarta ini akhirnya bukan lagi soal potret kemiskinan, melainkan monumen tentang ketangguhan, cinta tanpa syarat, dan harapan yang menolak mati. (ACwan/aNs)

Gen Z Takeaway

Sumpah terharu banget! Kenalin Mak Painah (73), lansia setegar karang dari Solo yang kerjaannya mungut bunga kamboja di makam dengan penghasilan kadang gak nyampe goceng atau ceban sehari. Tapi plot twist-nya, dengan spek ekonomi se-terbatas itu, beliau dengan tulus ngerawat anak asuhnya, Aditya, dari bayi pas ditinggal ortu kandungnya. Sempat overthinking masalah biaya pas Aditya lulus SMP, untungnya sekarang dapat bantuan pemerintah plus Aditya bisa sekolah gratis di SRMA 17 Surakarta. Definisi real superhero tanpa jubah yang menyala banget kasih sayangnya!

Kemensos sekolah rakyat Sekolah Rakyat Prabowo Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta

Infografis

Terkini