Konkret! Impact Nyata MBG di Sumba NTT buat Bumil-Busui
astakom.com, Jakarta — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sudah jalan lebih dari enam bulan di Posyandu Pos 1 Desa Radamata, Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, NTT, kelihatan banget impact nyatanya.
Dampak nyatanya buat kesehatan ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita. Mulai dari berat badan yang naik, kondisi Kekurangan Energi Kronik (KEK) yang makin membaik, sampai balita yang jadi lebih aktif, semuanya jadi indikator perubahan yang terasa real.
Kader Posyandu Desa Radamata, Noviana Lede, menjelaskan total penerima manfaat di Pos 1 tembus 127 orang, terdiri dari 99 balita, 14 ibu menyusui, dan 14 ibu hamil. Distribusi makanannya dilakukan setiap hari, menyesuaikan jadwal pengantaran dari dapur supaya tetap tepat waktu.
“Selama pemantauan kami sebagai ibu kader, memang ada perubahan. Mulai dari tinggi badan, berat badan balita, ibu menyusui, ibu hamil juga ada perubahan,” ujarnya saat ditemui di Posyandu Radamata, berdasarkan rilis yang diterima redaksi astakom.com, kemarin (16/2/2026).
Impact positif MBG pada ibu hamil
Salah satu dampak signifikan terlihat pada ibu hamil dengan kondisi KEK. Dari pemantauan, terdapat dua ibu hamil yang mengalami KEK sebelum rutin mengonsumsi MBG. Setelah tiga hingga empat bulan konsumsi rutin, terjadi perbaikan kondisi.
Kasus lain yang menjadi perhatian adalah seorang ibu hamil berusia 15 tahun dengan risiko tinggi karena usia muda dan postur tubuh pendek. Saat pertama dipantau, ia juga mengalami KEK.
Dengan pendampingan bidan dan konsumsi rutin MBG, ia akhirnya melahirkan secara normal dengan berat bayi 2,5 kilogram.
“Waktu itu kami takut lahirannya Cesar, tapi ternyata dia bisa lahir normal. Berat anaknya 2,5,” jelas mama Noviana.
Sebelum program berjalan, pernah juga ditemukan kasus bayi lahir prematur dengan berat hanya satu kilogram. Perbandingan ini menjadi indikator penting perubahan kondisi kesehatan ibu dan bayi.
Impact positif MBG pada ibu menyusui
Sementara itu dampak MBG bagi Ibu menyusui, Noviana menjelaskan, dari 14 ibu menyusui penerima manfaat, 13 di antaranya memiliki produksi ASI lancar.
Hanya satu ibu yang tidak dapat memproduksi ASI sejak awal dan menggunakan susu formula.
“Yang lain aman, asinya lancar,” ujar Noviana.
Selain distribusi makanan, kader bersama bidan juga rutin memberikan edukasi mengenai pola makan bergizi, manajemen stres, serta pencegahan baby blues.
Impact positif MBG pada balita
Adapun perubahan pada balita, kata Noviana, setiap bulan kader selalu melakukan penimbangan dan pemantauan pertumbuhan.
Hasilnya menunjukkan kenaikan berat badan yang konsisten, meski tetap dipengaruhi faktor sakit tertentu seperti diare atau infeksi.
“Memang ada yang berat badannya turun karena sakit. Tapi setelah satu bulan, ada kenaikan kembali,” katanya.
Sekitar tiga hingga empat balita dengan indikasi postur pendek tetap menjadi penerima manfaat dan menunjukkan perkembangan bertahap.
Bahkan satu balita dengan riwayat paru-paru basah yang sebelumnya sering dirawat, kini lebih jarang masuk rumah sakit.
Harapan pada program MBG
Secara umum, Noviana menilai program MBG sangat berdampak dalam enam bulan terakhir. Ia berharap program ini terus berlanjut dan dapat menjangkau tiga posyandu lain di desa yang belum menerima manfaat.
Menurutnya, keberlanjutan MBG berpotensi menekan angka stunting dan gizi buruk, khususnya di Desa Radamata dan wilayah Sumba Barat Daya secara umum.
“Kami sangat berterima kasih dengan adanya program MBG ini. Harapan kami, semoga dapat menekan angka stunting dan gizi buruk di posyandu kami,” tutupnya.











