Patrick Kluivert: Dari Barcelona ke Garuda, Tapi Cuma Sampai Tikungan Pertama

Editor: Nasuri
Jumat, 17 Oktober 2025 | 20:24 WIB

Astakom, Jakarta — Harapan besar sempat hinggap di pundak Patrick Kluivert saat resmi menggantikan Shin Tae-yong sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia pada Januari 2025. Legenda sepak bola Belanda itu datang dengan aura percaya diri, senyum optimis, dan sederet pengalaman elite yang bikin publik bola Tanah Air berekspektasi tinggi. Tapi, seperti kata pepatah bola, “kadang bola itu bundar, dan karier pun ikut-ikutan muter.”

Datang dengan Gengsi Eropa

Patrick Stephan Kluivert lahir di Amsterdam, 1 Juli 1976. Dunia mengenalnya sebagai striker elegan yang bikin gol kemenangan Ajax di final Liga Champions 1995—di usia 18 tahun! Setelah itu, kariernya melesat ke AC Milan dan mencapai masa emas di FC Barcelona di bawah pelatih Louis van Gaal. Di sana, Kluivert bukan sekadar pemain, tapi ikon, dengan koleksi lebih dari 100 gol.

Di level internasional, ia jadi mesin gol andalan Belanda—79 caps dan 40 gol, bro! Ia bahkan top skor Euro 2000, saat Belanda tampil di kandang sendiri. Setelah pensiun, Kluivert tak jauh-jauh dari lapangan. Ia menjajal peran baru sebagai asisten pelatih Timnas Belanda, Direktur Akademi PSG, dan pelatih di berbagai tim muda.

Misi Besar di Tanah Garuda

Awal 2025, PSSI resmi menunjuk Kluivert sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia dengan kontrak dua tahun plus opsi perpanjangan. Targetnya? Gak main-main: membawa Indonesia ke Piala Dunia 2026. Dalam konferensi pers perdananya, Kluivert tampil percaya diri menjawab semua pertanyaan wartawan. Dengan dua asisten asal Belanda, Alex Pastoor dan Denny Landzaat, ia siap mengarungi empat ajang besar: Kualifikasi Piala Dunia 2026, SEA Games 2025, Kualifikasi Piala Asia U-23 2026, dan Piala Asia 2027.

Awal kiprahnya pun penuh drama. Laga debut kontra Australia berakhir dengan kekalahan 1-5—ya, bukan start ideal. Tapi dua kemenangan tipis 1-0 atas China dan Bahrain membuat semangat publik naik lagi. Sayangnya, kekalahan telak 0-6 dari Jepang di laga penutup fase ketiga bikin kepala mulai dipegang dan alis menebal.

Statistik Tak Berbohong

Kluivert menukangi Indonesia dalam delapan pertandingan, dengan catatan:

  • Menang: 3 kali
  • Seri: 1 kali
  • Kalah: 4 kali
  • Persentase kemenangan: 37,5%
Hasil ini masih belum cukup untuk membawa Garuda terbang ke Piala Dunia 2026. Setelah dua kekalahan krusial—2-3 dari Arab Saudi dan 0-1 dari Irak—asa itu pun pupus.

Ikan Sepat Ikan Gabus, Lebih Cepat Lebih Bagus

Pada 16 Oktober 2025, PSSI resmi mengumumkan pemutusan kerja sama dengan Kluivert. Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyampaikan apresiasi atas dedikasi sang pelatih meski target belum tercapai. Dalam bahasa diplomatis: “Kami berpisah baik-baik.”

Tak sampai sembilan bulan, masa tugas Kluivert di Indonesia resmi berakhir. Dari bintang Eropa hingga pelatih di Asia, perjalanan Kluivert bersama Garuda jadi babak singkat tapi menarik dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Mungkin belum rezekinya membawa tim Garuda terbang tinggi, tapi pengalaman ini jelas jadi bagian dari perjalanan panjangnya di dunia sepak bola. Karena, siapa tahu, nanti Kluivert bisa bilang ke anak cucunya, “Aku pernah ngelatih Indonesia, bro—negara dengan fans bola paling total se-planet!”

Gen Z Takeaway:

Kluivert datang dengan aura “legenda Eropa siap revolusi”, tapi realitanya nggak semulus highlight YouTube-nya di Barcelona. Dari 8 laga, cuma 3 menang—kayak ngerjain tugas kelompok tapi yang aktif cuma dua orang. Meski ending-nya cepat kayak hubungan yang “gak works aja,” setidaknya Indonesia pernah ditukangi oleh seorang legenda dunia.

Barcelona Belanda Legenda Dunia Patrick Kluivert Piala Dunia 2026 STY Timnas Indonesia

Terkini

Arema FC Bungkam PSIM 3-1

Arema FC berhasil menutup kompetisi BRI Super League 2025/2026 dengan membungkam PSIM Yogyakarta, 3-1, di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat (22/5).

Footage 19:41 WIB