Menlu Tata Panggil Anak Muda: PBB Butuh Keberanian Kalian Sekarang
astakom.com, Jakarta – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sering kali dikira cuma tempat kumpulnya para diplomat senior yang hobi debat kusir di ruang sidang mewah. Padahal, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir yang akrab disapa Menlu Tata punya take lain yang jauh lebih relate buat kita semua.
Saat ngobrol bareng di acara peringatan Hari PBB alias UN Day 2026 di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Selasa (27/10/2026), Menlu Tata dengan tegas bilang kalau masa depan dunia multilateral ini justru ada di tangan anak muda. Intinya, vibe kontribusi kita tuh ditunggu banget sekarang, bukan nanti pas udah jadi boomer.
Bukan Cuma milik boomer
“Indonesia membutuhkan gagasan kalian. PBB membutuhkan keberanian kalian,” ungkap Menlu Tata, pada peringatan Hari PBB atau UN Day 2026 di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Selasa, (27/10/2026).
Ia juga ngingetin kalau keputusan hari ini tuh nentuin dunia macam apa yang bakal kita warisin nanti. Jadi, nggak ada alasan buat nunggu bos besar dulu buat mulai action.
“Suara kalian penting, bukan suatu hari nanti, tetapi sekarang, hari ini,” ungkapnya.
Impact bebas
Menurut Menlu Tata, impact positif itu nggak melulu harus lewat jalur diplomat atau politikus. Mau jadi kreator konten yang aktif bikin awareness, engineer yang ngerakit teknologi masa depan, founder startup, atau aktivis sosial yang vokal, semuanya punya porsi yang sama-sama valid.
“Kalian memiliki kekuatan sebagai aktivis untuk menyuarakan pendapat. Kalian memiliki kekuatan sebagai warga negara untuk menuntut tindakan. Kalian memiliki kekuatan sebagai konsumen untuk mengubah perilaku perusahaan,” jelasnya.
Waspada gap AI
Selain soal eksistensi anak muda, Menlu Tata juga nge-drop realita pahit soal perkembangan zaman, terutama soal Artificial Intelligence (AI) dan ekonomi digital yang geraknya udah secepat kilat. Kalau governance alias regulasinya telat ngejar, siap-siap aja dunia kebagi jadi dua kubu yang ngendaliin sistem dan yang cuma bisa nurut doang (NPC real-life).
“Jika kita tidak memperkecil kesenjangan ini, AI akan membagi dunia menjadi mereka yang membentuknya dan mereka yang dibentuk olehnya,” ungkap Menlu Tata.
Makanya, negara-negara Global South termasuk Indonesia wajib banget ikut nimbrung nimba andil di kancah global supaya nggak cuma jadi pasar uji coba doang. Urusan regulasi kerjaan freelance yang serba fleksibel tapi minim safety dan kontrak jelas juga jadi sorotan serius biar martabat pekerja muda tetap aman.
Surat cinta buat 2045
Di sela-sela acara yang ngerayain 81 tahun eksistensi PBB sekaligus 76 tahun mesranya hubungan Indonesia-PBB ini, ada momen seru yaitu peluncuran publikasi Letters to 2045. Buku ini isinya kumpulan keresahan, mimpi, dan manifesting anak muda Indonesia tentang masa depan, yang nantinya bakal dibaca lagi pas Indonesia Emas 2045.
Meski dunia yang kita warisin sekarang emang nggak sempurna-sempurna amat, Menlu Tata yakin kalau energi anak muda sanggup ngebalik keadaan jadi jauh lebih glowing.
“Dan masa depan bergantung pada kalian semua,” ucapnya.
Acara keren ini hasil kolaborasi Kemenlu RI bareng Kantor Perwakilan PBB di Indonesia, Kemenko PMK, serta UN Global Compact Network Indonesia, lengkap dengan pameran dari 20 badan PBB yang sukses bikin suasana makin interaktif. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Menlu Tata tegas ngingetin kalau suara dan aksi kita tuh valid banget buat nentuin arah dunia saat ini, bukan nanti pas udah tua. Nggak cuma lewat jalur diplomasi formal, pergerakan sebagai creator, founder, maupun aktivis punya power yang sama gedenya buat ngedorong perubahan, termasuk ngawal isu krusial kayak regulasi AI biar kita nggak cuma jadi penonton pasif.









