Mendes PDT: Kopdes Merah Putih Jadi Kunci Penggerak Ekonomi Desa

Penulis: A. Cuwantoro
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 20 Oktober 2026 | 02:04 WIB
Mendes PDT: Kopdes Merah Putih Jadi Kunci Penggerak Ekonomi Desa
Mendes PDT, Yandri Susanto, menjadi pembicara dalam acara Agri Food Forum 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta, Senin (19/10/2026). [Kemendes]

astakom.com, Jakarta — Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menegaskan bahwa program prioritas Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi instrumen vital dalam menggenjot pembangunan dan menggerakkan roda perekonomian di tingkat desa. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam acara Agri Food Forum 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Yandri meluruskan isu terkait penggunaan Dana Desa untuk program ini. Pemerintah memastikan tidak ada pemotongan Dana Desa, melainkan pengalihan fokus penggunaan agar manfaatnya bisa dirasakan secara langsung dan nyata oleh masyarakat desa.

Peran strategis Kopdes Merah Putih dan penguatan aset desa

Keberadaan Kopdes Merah Putih dirancang untuk memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga desa. Selain mempermudah akses terhadap barang-barang bersubsidi seperti pupuk dan bahan pokok, Koperasi Desa juga difungsikan sebagai offtaker atau penampung hasil produksi warga setempat.

Melalui program ini, desa juga akan didorong untuk memiliki aset mandiri guna menunjang operasional perekonomian kawasan. Aset tersebut meliputi gedung dan gerai usaha, armada truk logistik, mobil operasional, hingga sepeda motor pendukung distribusi.

"Kopdes menjadi andalan kita untuk menggerakkan ekonomi di desa, termasuk mengatasi isu ketahanan pangan," ujar Mendes Yandri melalui keterangan rilis resmi Kemendes.

Sinergi tanpa tumpang tindih dengan BUMDesa

Mendes PDT memastikan bahwa operasional Kopdes Merah Putih tidak akan beririsan atau tumpang tindih dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Keduanya memiliki fokus unit bisnis yang berbeda dan saling melengkapi.

Sejumlah BUMDesa bahkan telah menembus pasar internasional. Contohnya BUMDesa di Desa Temon yang sukses mengekspor gula aren ke Belanda dan Australia, serta Desa Kertasana yang mengekspor ikan mas koki ke Kanada dan Prancis. Model ekspor langsung ini dinilai efektif memotong rantai distribusi sehingga harga di tingkat produsen tetap terjaga. Kemendes PDT kini tengah menyiapkan jalan bagi BUMDesa ke 49 negara tujuan ekspor, di samping mengoptimalkan BUMDesa pengelola Desa Wisata yang beromzet miliaran rupiah.

Kolaborasi octahelix dan 12 aksi bangun desa

Saat ini Indonesia memiliki 75.266 desa yang dihuni oleh hampir 70 persen total penduduk nasional. Kendati menyimpan potensi besar, tantangan seperti kemiskinan dan keberadaan ribuan Desa Tertinggal serta Sangat Tertinggal masih menjadi pekerjaan rumah.

Guna menjawab tantangan tersebut, Kemendes PDT menyusun 12 Aksi Bangun Desa, Bangun Indonesia sebagai pengejawantahan dari Asta Cita ke-6, yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pemberantasan kemiskinan.

Guna mempercepat realisasi program tersebut, Kemendes PDT mengusung pendekatan Kolaborasi Octahelix yang melibatkan unsur pemerintah, swasta, akademisi, media, komunitas, organisasi masyarakat, hingga mahasiswa. Selain itu, diluncurkan pula program Desa Tematik Pangan dan Desa Ekspor berpotensi perputaran ekonomi hingga Rp1 triliun yang dikolaborasikan bersama Kementerian Perindustrian demi menjaga standar kualitas produk desa.

"Kami meyakini jika sukses membangun desa, maka kita bisa sukses membangun Indonesia," pungkas Yandri. (ACwan/aNs)

Gen Z Takeaway 

Fokus bangun ekonomi dari desa! Kemendes PDT makin gencar mendorong Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih buat jadi penggerak ekonomi warga, mulai dari penyedia pupuk subsidi sampai offtaker hasil panen. Nggak cuma itu, BUMDesa juga dibantu buat go international ke 49 negara ekspor. Kuncinya ada di kolaborasi bareng demi bikin desa makin mandiri dan sejahtera!

Kemendes Kemendes PDT Yandri Susanto Mendes PDT Yandri Susanto KDKMP

Infografis

Terkini