Cetak Talenta Unggul, BRIN Tawarkan 4 Jurus Perkokoh Riset Pendidikan
astakom.com, Jakarta – Kalau mau Indonesia Emas 2045 beneran kejadian, kita nggak bisa cuma ngandelin satu jurus. Talenta unggul adalah kuncinya. Tapi jalannya masih ada rintangan kesenjangan pendidikan masih lebar, mulai dari akses ke pendidikan berkualitas sampai penguasaan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menegaskan kalau riset, pendidikan, dan pengembangan talenta harus digarap barengan demi membangun ekosistem inovasi nasional. Ia berpendapat kalau banyak indikator pembangunan, dari produktivitas tenaga kerja, skor Programme for International Student Assessment (PISA), sampai daya saing global, ternyata nyambung dengan kemampuan inovasi sebuah negara.
“Kalau Indonesia saat ini berada di urutan tengah untuk konteks Global Innovation Index, artinya indikator-indikator lain juga menunjukkan hal yang sama,” tutur Arif pada Bootcamp Regional DKI Jakarta tentang Penguatan Manajemen Talenta dan Pengayaan Sekolah Unggul Garuda Transformasi 2026 lewat Joint Conference “Education in Contemporary Indonesia: Navigating Governance Transitions and Human Capital Impact” di Hotel Artotel Mangkuluhur, Jakarta, dikutip oleh astakom pada Kamis (08/10/2026).
Arif mengingatkan, jadi negara maju itu bukan perkara semalam. Riset, pendidikan, dan talenta wajib jalan beriringan, apalagi dunia sekarang lagi ngebut dengan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Jebakan Jadi Pengguna AI
“Persoalannya jadi siapa yang nanti mengontrol AI? Karena AI sudah bisa membuat AI lagi,” ungkapnya.
Menurut Arif, posisi Indonesia sekarang masih di fase using AI, alias baru jadi pengguna, belum sampai bisa membangun ekosistem AI yang utuh. Makanya, pendidikan harus naik kelas dari cuman paham teknologi menuju kemampuan menciptakan teknologi itu sendiri.
Jurus Ngebut ala BRIN
4 agenda yang ditawarkan BRIN. Pertama, bikin platform agenda bersama antara kementerian, Komisi X DPR RI, dan para peneliti, supaya riset BRIN betul-betul nyambung dengan kebutuhan kebijakan.
“Kementerian, DPR RI, Komisi X dan peneliti, khususnya di BRIN, memiliki platform agenda bersama sehingga memang ada kesamaan apa yang ditawarkan riset BRIN itu adalah sesuatu yang connected dengan kebutuhan yang dimiliki oleh kementerian,” ucap Arif.
Kedua, memperkuat open data. Arif bilang data pendidikan itu sifatnya holistik dan tersebar di banyak tempat, mulai dari kementerian, BRIN, perguruan tinggi, sampai sekolah. Jadi, datanya perlu bisa diakses lebih menyeluruh supaya pengelolaan pendidikan makin mantap.
Ketiga, melaksanakan piloting hasil riset supaya temuan penelitian bisa langsung dipakai di berbagai program. Keempat, menambah stok peneliti di bidang pendidikan. Untuk itu, BRIN menjalankan sejumlah program, di antaranya BRIN Goes to School dan BRIN Goes to Industry, sebagai bagian dari pengembangan talenta.
“Bagaimana kita menyiapkan talent-talent yang baik untuk riset di bidang pendidikan. Saya kira ini merupakan hal yang terus kita perkuat, karena jumlah peneliti kita harus banyak,” ungkapnya.
Arif mengharapkan kalau riset bisa jadi jembatan antara dunia kebijakan, industri, dan akademik, sehingga pendirian nasional makin berbasis real dan ilmu pengetahuan.
“Jadi kita sekarang hindari missing link antara dunia riset dan dunia policy. Dunia policy itu memang semi-politik, ya, tapi kita harapkan semaksimal mungkin bisa berbasis pada evidence, berbasis pada science,” ucap Arif.
PR Berat di Daerah 3T
Tantangan pengembangan talenta ini juga kelihatan jelas dari kondisi pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati, menyebut infrastruktur pendidikan di sana masih terbatas, termasuk listrik dan internet. Data Panitia Kerja Pendidikan Daerah 3T mencatat 10.294 kerusakan fasilitas pendidikan, dan 5.783 satuan pendidikan belum menikmati akses listrik.
Sekolah Garuda & Misi Talenta
Di sisi lain, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, menjelaskan kalau Sekolah Garuda dirancang bukan cuma sebagai sekolah unggulan, tapi bagian dari ekosistem pengembangan talenta nasional.
“Sekolah Garuda tidak boleh sekadar menjadi satu lagi sekolah unggulan biasa. Sekolah ini harus berfungsi sebagai bagian dari ekosistem pengembangan talenta nasional,” ucapnya.
Najib menambahkan, rintangan terbesar Indonesia adalah menemukan talenta unggul dari seluruh pelosok, termasuk dari keluarga kurang mampu dan daerah terpencil. Soalnya, akses ke guru berkualitas, fasilitas laboratorium, dan pembelajaran tingkat lanjut masih cenderung menumpuk di wilayah tertentu saja.
Kondisi ini menunjukkan kalau pengembangan talenta butuh ekosistem yang menyambungkan sekolah, perguruan tinggi, BRIN, industri, dan jaringan riset. BRIN sendiri support lewat pendanaan riset, dukungan studi, fasilitas laboratorium, serta riset pendidikan yang bisa jadi dasar kebijakan berbasis riset.
Intinya, riset diharapkan nggak cuma berhenti jadi pengetahuan di atas kertas, tapi benar-benar jadi bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan dan menyiapkan talenta Indonesia buat masa depan. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Intinya, jangan cuma jadi penonton atau user AI doang, guys! Biar Indonesia nggak ketinggalan di 2045, sistem pendidikan kita harus naik tingkat dari sekadar paham teknologi jadi pencipta teknologi. Makanya, riset dan kolaborasi lintas sektor jadi kunci utama biar anak muda di seluruh pelosok, termasuk daerah 3T, punya kesempatan yang sama buat bersaing.









