Korban Tewas Akibat Gempa M 7,4 Bertambah Jadi 132 Orang, Kolombia Tetapkan Status Darurat

Pewarta: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:08 WIB
Korban Tewas Akibat Gempa M 7,4 Bertambah Jadi 132 Orang, Kolombia Tetapkan Status Darurat
Gempa M 7,4 Hantam Kolombia: 132 Tewas, Negara Tetapkan Status Darurat [Ilustrasi gempa/Pexels]

astakom.com, Jakarta – Bencana dahsyat baru saja menghantam Kolombia. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat negara tersebut pada Senin (10/08/2026) dan tercatat sebagai gempa paling kuat di Kolombia pada tahun ini.

Menurut laporan resmi Dinas Geologi Kolombia, setidaknya 132 orang dinyatakan meninggal dunia dan ratusan warga lainnya dilaporkan hilang.

Guncangan dahsyat ini membuat hancur sejumlah kota penting di Kolombia bagian barat, seperti Cali, Pereira, Quibdo, dan Manizales. FYI, getarannya bahkan terasa sampai ke negara tetangga, Ekuador dan Panama.

Dilansir dari Al Jazeera pada Selasa, (11/08/2026), Survei Geologi AS (USGS) mencatat pusat gempa berada di San Jose Del Palmar, wilayah Choco, atau sekitar 400 km 250 mil di sebelah barat ibu kota Bogota, dengan kedalaman 107 km (66 mil). Fix, situasi makin tegang setelah setidaknya 21 gempa susulan terjadi hanya dalam selang beberapa jam berikutnya.

Dampak horor & kota terdampak

Kota terbesar ketiga di Kolombia, Cali, menjadi salah satu area yang paling terpukul. Tim penyelamat bersama warga lokal langsung auto masuk panic mode dan gotong royong menyisir puing-puing bangunan. Mereka membentuk barisan panjang untuk mengoper potongan beton besar demi menyelamatkan korban. Pejabat setempat mengonfirmasi ada minimal 20 bangunan runtuh dan 380 bangunan lainnya rusak parah hingga menjebak banyak orang di dalamnya.

Jorge Moncayo, selaku sopir taksi dengan usia 64 tahun di Cali, membagikan kesaksiannya saat melihat debu membumbung tinggi menyelimuti kota.

“Seluruh rumah saya berguncang. Saya belum pernah mengalami gempa bumi sekuat ini,” ucapnya.

“Kami bersyukur kepada Tuhan karena kami masih hidup.”lanjutnya.

Cerita memilukan juga datang dari Juan Carlos Osorio yang ikut menyingkirkan reruntuhan. Ia menyebut suara bangunan ambruk tersebut terdengar seperti bom.

“Kami semua tetangga bekerja sama, membentuk rantai manusia. Kami membutuhkan alat berat. Ada banyak orang yang terjebak.” ungkapnya.

Ujian perdana Presiden baru

Bencana ini datang di waktu yang benar-benar plot twist. Gempa terjadi hanya selang beberapa hari setelah Abelardo de La Espriella resmi dilantik sebagai presiden baru. Pemerintahan barunya langsung diuji dengan krisis hebat, di saat publik juga belum lupa akan gempa kembar mematikan yang melanda Venezuela pada bulan Juni lalu.

“Pemerintah nasional telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melindungi nyawa, membantu masyarakat yang terdampak, dan memberikan bantuan di mana pun dibutuhkan,” tegas Presiden De La Espriella dalam pidato nasionalnya sekitar pukul 13.00 waktu setempat (18.00 GMT), usai mengumumkan keadaan darurat nasional.

“Prioritas utama adalah menyelamatkan orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan.” sambungnya.

Data korban sendiri sempat simpang siur. Presiden De La Espriella menyampaikan laporan awal menyebutkan 111 orang meninggal dunia, 87 orang luka-luka, serta puluhan bangunan hancur. Namun, Asosiasi Kota-Kota Ibu Kota Kolombia mengonfirmasi angka yang lebih tinggi, yaitu sedikitnya 132 orang tewas dan 570 orang luka-luka.

Di wilayah Risaralda sentra penghasil kopi pihak berwenang melaporkan sedikitnya 40 orang tewas. Ibu kotanya, Pereira, mengalami kerusakan yang sangat parah. Sementara di wilayah Valle del Cauca lokasi Kota Cali, tercatat minimal 27 orang meninggal dunia, termasuk 3 anak-anak.

Kondisi di wilayah Choco yang dekat dengan pusat gempa masih memprihatinkan karena akses komunikasi terputus total. Gubernur Nubia Carolina Cordoba melaporkan ada 12 orang tewas dan 84 orang luka-luka di area pedesaan tersebut.

Luis Gregorio Moreno, seorang tokoh masyarakat di Quibdo yaitu ibu kota Choco, mengungkapkan rasa duka yang mendalam saat diwawancarai AFP.

“Kami semua sangat terpukul,” ucapnya.

“Saat ini, ada laporan korban jiwa, puluhan orang terluka, tetapi yang paling banyak adalah orang hilang.”lanjutnya.

Hingga Senin sore, warga berbondong-bondong mengunggah data keluarga mereka yang hilang ke basis data digital. Salah satu platform digital yang sudah mencatat lebih dari 1.400 nama hilang sebagian besar dari Cali dan Pereira dan angkanya terus bertambah.

Infrastruktur hancur

Kondisi infrastruktur di Pereira benar-benar memprihatinkan. Foto dan rekaman video menunjukkan langit-langit bandara ambruk dan menimpa para penumpang yang panik mencari perlindungan.

Sebuah bangunan 4 lantai di kota itu juga terlihat rata dengan tanah. Wali Kota Pereira, Mauricio Salazar, menyebutkan setidaknya ada 15 bangunan runtuh yang diperkirakan masih menimbun warga.

Sementara di Manizales, landmark ikonik kota berupa katedral berarsitektur neo-Gotik ikut terdampak. Salah satu menara sampingnya runtuh dan puing-puingnya berserakan di jalanan.

Otoritas penerbangan sipil Kolombia langsung mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional di beberapa bandara wilayah barat, seperti Pereira, Manizales, Quibdo, Armenia, Cartago, dan Buenaventura untuk inspeksi struktur.

Meski Kolombia berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang langganan gempa kecil, gempa di atas M 6,0 tergolong langka. Gempa dahsyat terakhir yang paling mematikan terjadi pada tahun 1999 di dekat Armenia M 6,2 yang menewaskan lebih dari 1.100 orang.

Pihak Badan Geologi Kolombia mengonfirmasi kalau gempa kali ini adalah yang terkuat yang pernah tercatat di negara itu sepanjang abad ke-21.

Ahli seismologi dari Northwestern University, Suzan van der Lee, menjelaskan alasan mengapa guncangannya terasa sangat destruktif meskipun pusat gempa tergolong dalam.

“Gempa ini berada jauh di bawah kerak bumi, dan secara teori, seharusnya tidak menyebabkan guncangan yang besar. Namun, dengan magnitudo sebesar ini, gempa ini justru menyebabkan guncangan yang cukup hebat,” ucapnya kepada kantor berita Reuters.

Komunitas global turun tangan

Melihat situasi kritis ini, komunitas internasional langsung bergerak cepat menjadi support system bagi Kolombia. Pada Senin malam, Departemen Luar Negeri AS mengerahkan bantuan darurat sebesar USD15,5 juta untuk penampungan, makanan, dan logistik penanggulangan bencana.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menulis di akun X pribadinya kalau Washington “memantau dengan teliti gempa bumi besar yang melanda Kolombia dan siap mendukung rakyat Kolombia”.

Deretan pemimpin negara Amerika Latin juga langsung pasang badan. Presiden El Salvador Nayib Bukele dan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyatakan kesiapan mereka mengirimkan bantuan.

“Dari El Salvador, kami sedang berkomunikasi dan siap memberikan dukungan segera dengan tim penyelamat, tenaga medis, paramedis, perbekalan, atau bantuan lain apa pun yang dianggap perlu oleh saudara-saudara kami di Kolombia,” ucap Bukele.

Presiden Chili, Jose Antonio Kast, menimpali kalau negaranya sangat memahami penderitaan akibat bencana semacam ini dan berjanji mengirim bantuan. Selain itu, tawaran bantuan resmi juga mengalir dari Israel, Ekuador, hingga Prancis. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Gempa M 7,4 yang menghantam Kolombia ini jadi wake-up call soal betapa cepatnya krisis bencana bisa melumpuhkan suatu negara. Selain koordinasi tim SAR dan solidaritas warga lokal yang bahu-membahu evakuasi korban, percepatan info via basis data digital dan respons cepat support system internasional terbukti jadi kunci vital buat penanganan situasi darurat kemanusiaan secara real-time.

Kolombia Gempa Bumi Gempa Kolombia Gempabumi

Infografis

Terkini