Kemenag Suarakan Strategi Keluarga Sakinah Indonesia di Forum Abu Dhabi
astakom.com, Jakarta – Damai itu ternyata berawal dari rumah. Keluarga adalah tempat pertama untuk menumbuhkan nilai agama, kasih sayang, tanggung jawab, dan karakter pada generasi penerus.
Fondasi damai dari rumah
Pesan itu disampaikan Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kementerian Agama, Ahmad Zayadi, dalam Abu Dhabi Peace Forum, bagian dari rangkaian Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta.
Menurut Zayadi, membangun keluarga harus dimulai jauh sebelum akad. Calon pengantin adalah gerbang lahirnya keluarga baru, jadi kesiapannya tidak berhenti pada kelengkapan administrasi. Aspek agama, kesehatan, psikologi, ekonomi, dan relasi juga perlu dipersiapkan.
Edukasi pranikah lebih dari administrasi
“Calon pengantin adalah titik awal lahirnya keluarga baru. Mereka adalah calon ayah, calon ibu, sekaligus calon pendidik pertama bagi anak-anaknya,” tutur Zayadi, dikutip oleh astakom.com pada Minggu (04/10/2026).
Ia menyebut pendampingan calon pengantin sebagai investasi jangka panjang untuk membentuk keluarga sakinah-maslahat, yakni keluarga yang tenang dan tenteram sekaligus membawa kebaikan dan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Salah satu jalurnya adalah Bimbingan Perkawinan (Bimwin), yang membekali pasangan dengan pemahaman soal peran, hak, dan kewajiban suami istri.
Edukasi pranikah juga dirancang agar pasangan jago membangun komunikasi, menjaga komitmen, dan menyusun rencana hidup bersama. Kesiapan calon orang tua pun nyambung dengan upaya mencegah stunting.
“Pencegahan stunting dimulai dari kesiapan calon ayah dan calon ibu sebelum memasuki fase kehamilan,” ungkapnya.
KUA jadi garda depan ketahanan keluarga
Zayadi menilai KUA punya posisi strategis dalam mendampingi keluarga. Perannya tidak berhenti pada pencatatan pernikahan, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan konsultasi keluarga.
“KUA adalah ruang edukasi, konsultasi, dan penguatan keluarga. Penghulu dan Penyuluh Agama berperan sebagai pendamping masyarakat, dan layanan nikah perlu terhubung dengan agenda ketahanan keluarga,” ucapnya.
Ia menegaskan kalau pendampingan calon pengantin adalah langkah pencegahan dari hulu. Alurnya meliputi edukasi kesiapan menikah, pemeriksaan dan skrining kesehatan, Bimwin, sampai pencatatan pernikahan.
Dukungan tidak boleh putus di hari akad. Pasangan baru masih butuh pengawalan di fase awal berumah tangga. Bila muncul risiko atau masalah, mereka bisa diarahkan ke layanan yang tepat.
"Dengan begitu, pendampingan tidak berhenti di hari akad,” ungkap Zayadi.
Sinergi Kuat Cegah Masalah dari Hulu
Demi memperkuat layanan, Kemenag mendorong sinergi dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kemenag punya jaringan KUA sampai tingkat kecamatan, sementara BKKBN memiliki ekosistem pendampingan keluarga.
“Keduanya saling melengkapi dan memperkuat layanan dari hulu. Kolaborasi ini perlu berjalan pada empat level: kebijakan, data, edukasi, dan praktik lapangan,” ucapnya.
Zayadi memastikan pihaknya akan terus menguatkan KUA sebagai pusat layanan keluarga. Penghulu dan penyuluh agama juga didorong menjadi pendamping calon pengantin yang adaptif menghadapi tantangan keluarga zaman now.
Menurutnya, Bimwin harus terus diperkuat agar makin relevan dengan kebutuhan pasangan dan dinamika kehidupan keluarga. Kerja sama antara Kemenag, BKKBN, pemerintah daerah, dan masyarakat pun perlu diperluas.
"Pada akhirnya, keluarga sakinah-maslahat adalah fondasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya,” tutup Zayadi. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Buat lo yang punya rencana nikah, siap-siap mental, finansial, dan kesehatan itu wajib banget dari jauh-jauh hari, bukan cuma ngurusin berkas numpang nikah doang. Lewat program bimbingan pranikah dan peran KUA, urusan komunikasi, cegah stunting, sampai red flags dalam relasi bisa dicegah sejak dini biar rumah tangga ke depannya tetep green flag dan mindful.









