Kadin Spill Target Collab RI-Tailan, Bidik Jadi Pemimpin Ekonomi Global
astakom.com, Jakarta - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie ngajak Indonesia dengan Tailan menjalin hubungan dagang tradisional dan membangun kemitraan strategis yang bisa menjadi pemimpin global baru di sektor pangan, ekonomi halal, energi bersih, manufaktur sampai sektor ekonomi digital.
Sebagai dua negara yang punya ekonomi terbesar di ASEAN dan punya modal untuk saling melengkapi buat menciptakan rantai nilai regional yang lebih kuat sekaligus berpotensi meningkatkan daya saing kawasan ditengah kondisi ekonomi global yang makin cepat.
“Kita tidak hanya ingin menjadi kompetitif atau sukses. Indonesia dan Tailan harus menjadi pemain kelas dunia. Kuncinya adalah inovasi yang inklusif, yang mampu menciptakan manfaat bagi masyarakat luas,” kata Anindya saat membuka Indonesia–Tailan Business Forum bertajuk Advancing the Indonesia–Tailan Strategic Partnership: Building Integrated Value Chains in Industry, Services, and the Halal Economy di Jakarta, dikutip oleh astakom.com pada Selasa (04/08/2026).
Forum perkuat kemitraan bisnis
Forum ini diselenggarakan oleh Kadin Indonesia bersama Thai Chamber of Commerce dan Board of Trade of Tailan dalam rangka kunjungan resmi Perdana Menteri Tailan Anutin Charnvirakul ke Indonesia. Acara ini mempertemukan pemerintah dan pelaku usaha kedua negara diharapkan mampu memperkuat perdagangan, investasi, serta kemitraan bisnis sebagai implementasi Kemitraan Strategis Indonesia-Thailand.
Forum ini dihadiri oleh Perdana Menteri Tailan Anutin Charnvirakul, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi sekaligus Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia Hashim S. Djojohadikusumo, Menteri Perdagangan Budi Santoso, dan James Riady yang menyampaikan pandangan dunia usaha mengenai arah baru kemitraan ekonomi kedua negara.
Hubungan RI-Tailan
Anindya bilang hubungan Indonesia sama Tailan sebenernya udah terjalin lama bahkan sebelum ASEAN terbentuk.
"Sejarah menghubungkan kita. Kini, bisnis harus memperkuat hubungan itu, dan inovasi akan menentukan masa depan kita bersama," ungkapnya.
Kunjungan Perdana Menteri Tailan ke Indonesia ini adalah pertama kalinya setelah 15 tahun terakhir sekaligus jadi momentum penting buat mempercepat pertumbuhan ekonomi bilateral. Sekarang Indonesia dan Tailan merupakan dua ekonomi terbesar di ASEAN dengan total populasi sekitar 357 juta jiwa dan secara gabungan nilai output ekonomi mendekati USD2 triliun.
Target tembus USD30 M
Nilai perdagangan bilateral udah mencapai sekitar USD17,5 miliar sementara kedua pemimpin negara menargetkan peningkatan menjadi USD30 miliar pada 2030, disertai kenaikan investasi dua arah.
Dalam kesempatan itu, Kadin Indonesia dan Board of Trade of Thailand resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat kolaborasi bisnis kedua negara. Selain itu, juga ditandatangani MoU pengembangan pasar karbon yang bertujuan mempercepat mobilisasi investasi pada proyek-proyek rendah emisi dan mendukung terbentuknya pasar karbon yang kredibel di kawasan.
Anindya menilai keberadaan pasar karbon akan menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan energi akibat pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), pusat data, dan industrialisasi global.
“Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia membutuhkan mekanisme yang kredibel untuk mengimbangi emisi karbon mereka. Pasar karbon menjadi salah satu peluang investasi masa depan yang sangat besar,” katanya.
Ketahanan pangan paling disorot
Selain pasar karbon, Kadin juga ngepush kerja sama yang lebih erat di sektor ekonomi halal, jasa, hilirisasi industri, manufaktur berteknologi tinggi, energi bersih, serta konektivitas digital. Anindya berpendapat kalau sektor yang paling berpotensi menjadikan Indonesia dan Tailan sebagai pemimpin dunia adalah ketahanan pangan.
Anindya bilang kalau Tailan telah diakui dunia sebagai salah satu kekuatan utama pertanian global dengan berbagai produk unggulan, mulai dari beras jasmine hingga buah-buahan tropis. Di sisi lain, Indonesia punya sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman hayati yang sangat besar, diikuti dengan skala pasar domestik yang besar.
“Tailan memiliki pengalaman, inovasi, dan kepemimpinan global di bidang pertanian. Indonesia memiliki sumber daya, biodiversitas, dan skala yang besar. Jika kekuatan ini digabungkan, kita dapat menciptakan solusi pangan yang bermanfaat bukan hanya bagi ASEAN, tetapi juga bagi dunia,” katanya.
Maka dari itu, Anindya mengajak semua pelaku usaha buat berinvestasi bersama, memperluas kemitraan bisnis dan memicu inovasi-inovasi baru buat menjadikan kedua negara sebagai motor pertumbuhan ekonomi kawasan. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Indonesia dan Tailan lagi level up partnership biar gak cuma jago di ASEAN, tapi juga jadi global player. Fokus collab-nya mulai dari pangan, halal economy, clean energy, manufaktur, digital, sampai carbon market buat boost investasi. Targetnya, nilai dagang tembus USD30 miliar pada 2030 sekaligus bikin rantai ekonomi regional makin strong.









