BIG dan NTU Kembangkan Teknologi Geospasial untuk Mitigasi Bencana

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 22 September 2026 | 11:03 WIB
BIG dan NTU Kembangkan Teknologi Geospasial untuk Mitigasi Bencana
Sebaran Ina-CORS di Indonesia [Dok. SRGI]

astakom.com, Jakarta - Teknologi geospasial kini ikut dimanfaatkan untuk membantu memantau kondisi bumi dan mendukung mitigasi bencana. Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama Nanyang Technological University (NTU) Singapura pun berkolaborasi mengembangkan pemanfaatan teknologi tersebut di Indonesia.

Melansir dari laporan media nasional pada Senin, (21/09/2026), kerja sama BIG dan NTU dilakukan melalui Earth Observatory of Singapore (EOS). Kolaborasi ini mencakup pengembangan teknologi serta pertukaran pengetahuan untuk pemantauan kebencanaan.

Fokus ke pemantauan bencana

Direktur Sistem Referensi Geospasial BIG Moh. Fifik Syafiudin mengatakan kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga riset diperlukan untuk memperkuat upaya mitigasi.

"Intinya semangatnya sama, untuk mengefektifkan, mengefisienkan mitigasi bencana, kita memang harus perkuat kerja sama dengan berbagai pihak," kata Fifik.

Menurut Fifik, setiap bencana punya karakteristik berbeda sehingga pendekatan pemantauannya juga perlu disesuaikan.

"Nah, ini memiliki pola mitigasi yang berbeda-beda. Itu yang kita pelajari dari mereka," ucapnya.

GNSS dan InSAR digabung

Salah satu teknologi yang digunakan adalah jaringan Indonesia Continuously Operating Reference Station (Ina-CORS). BIG menjelaskan Ina-CORS merupakan jaringan stasiun GNSS yang melakukan pengamatan posisi secara kontinu dan datanya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pemantauan deformasi kerak bumi serta mitigasi bencana.

Dalam kolaborasi ini, data GNSS dipadukan dengan Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR). Menurut EOS, data GNSS dan InSAR dapat digunakan untuk mengukur perubahan atau pergerakan kerak bumi, termasuk yang berkaitan dengan gempa dan deformasi gunung api.

Direktur Laboratorium Penginderaan Jauh NTU Sang Ho Yun menjelaskan data GNSS dari jaringan CORS memiliki presisi dan akurasi tinggi sehingga dapat mendukung pemantauan kebencanaan.

Salah satu penerapannya dilakukan melalui proyek SUNIO. Instrumen berbiaya rendah dipasang di Sulawesi untuk memantau akumulasi regangan pada Sesar Matano di Sulawesi Tengah.

Sang Ho Yun mengatakan hasil pengolahan data SUNIO memungkinkan untuk dibuka kepada publik, tetapi tidak seluruh data mentah dapat dipublikasikan karena terdapat perjanjian kerahasiaan antara pihak yang bekerja sama.

"Kami mungkin membuka datanya, tetapi hanya data yang sudah diproses yang akan dibuka untuk publik," ujarnya.

Pantau perubahan muka laut

Selain Ina-CORS, BIG juga mengoperasikan jaringan Ina-Tides untuk mengamati perubahan muka laut. Data dari jaringan tersebut juga dapat memberikan informasi mengenai respons muka laut setelah kejadian gempa dan tsunami.

Sementara itu, EOS memiliki jaringan dan instrumen geofisika di sejumlah wilayah Asia Tenggara, termasuk jaringan GNSS untuk pemantauan muka laut. Infrastruktur tersebut digunakan untuk mendukung penelitian mengenai berbagai geohazard. (deA/aNs)

Gen Z takeaway

Jadi, teknologi geospasial bukan cuma soal bikin peta. Data dari GNSS, InSAR, hingga pengamatan muka laut bisa dipakai untuk membaca perubahan kondisi bumi dan membantu proses mitigasi bencana berbasis data. Kolaborasi BIG dan NTU ini menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan pemantauan tersebut.

BIG Techno Badan Informasi Geospasial (BIG) Mitigasi Bencana Teknologi geospasial Ina-CORS

Infografis

Terkini