Siswi Sekolah Rakyat Tampil Memukau di Gandrung Sewu 2026

Penulis: A. Cuwantoro
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 27 Oktober 2026 | 08:01 WIB
Siswi Sekolah Rakyat Tampil Memukau di Gandrung Sewu 2026
Penampilan para murid Sekolah Rakyat dalam pagelaran tarian kolosal Gandrung Sewu 2026, Sabtu (24/10/2026) malam. [Kemensos]

astakom.com, Jakarta — Gemuruh deburan ombak Pantai Boom yang berhadapan langsung dengan Selat Bali berpadu syahdu dengan rancaknya tabuhan gamelan Osing, mengiringi penampilan para murid Sekolah Rakyat dalam pagelaran tarian kolosal Gandrung Sewu 2026, Sabtu malam, 24 Oktober 2026.

Bersama 1.300 penari lainnya, para siswi tampil percaya diri dan atraktif dalam balutan kostum beludru hitam berhias ornamen kuning keemasan, manik-manik, selendang merah menyala, kain batik tradisional, serta mahkota omprong khas yang megah.

Inovasi panggung dunia lewat konsep glow in the Dark

Memasuki tahun penyelenggaraan ke-14, Festival Gandrung Sewu 2026 mengusung tema besar "Kembang Darmo". Gelaran tahun ini menghadirkan terobosan visual baru berupa konsep glow in the dark. Dilengkapi instrumen pencahayaan khusus pada kostum penari, ribuan penari gandrung tampak berpendar menyala di tengah temaram pesisir pantai.

Atraksi visual kolosal ini kian dramatis dengan hadirnya formasi drone show di angkasa dan tata pencahayaan artistik modern. Transformasi konsep yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya ini sengaja dirancang untuk mendongkrak daya tarik seni tradisi Banyuwangi menuju etalase panggung pariwisata dunia.

Kiprah siswi Sekolah Rakyat lewat seleksi ketat

Di balik kemegahan festival, ruang pelestarian seni tradisi bagi generasi muda menjadi panggung pembuktian bagi siswi Sekolah Rakyat Banyuwangi. Empat murid berhasil lolos seleksi ketat mengungguli ratusan penari lain untuk masuk dalam formasi inti Gandrung Sewu 2026. Mereka adalah Nurul Hikmah Rania Safitri (kelas XII), Ervina Dwi Nanda (kelas XI), Mariyani Astuti (kelas XI), dan Fenita Berlian (kelas VIII).

Kepala Sekolah Rakyat Banyuwangi jenjang SD dan SMP, Winarno, menyampaikan apresiasi atas kegigihan anak didiknya yang mampu membuktikan kualitas talenta seni di tingkat kabupaten.

"Saya atas nama keluarga besar Sekolah Rakyat Kabupaten Banyuwangi bangga kepada anak didik kami, dari sekian banyak yang ikut ekstrakurikuler tari ada 4 anak yang terpilih melalui seleksi ketat," ujarnya, dikutip dari laman Kemensos.

Winarno menambahkan bahwa keikutsertaan ini menjadi wujud nyata kontribusi institusi pendidikan dalam menjaga kelestarian budaya nusantara.

"Semoga dari 4 anak ini nantinya bisa menginspirasi adik-adiknya dan melalui kegiatan ini kita berharap anak-anak benar-benar bisa mencintai dan mengagumi budaya daerah, secara khusus gandrung sebagai ikon Kabupaten Banyuwangi," harapnya.

Senada dengan itu, Kepala Sekolah Rakyat Banyuwangi jenjang SMA, Chitra Arti Maharani, menegaskan bahwa keikutsertaan ini bertujuan ganda: memupuk cinta budaya sekaligus mengasah daya saing dan mentalitas juara para peserta didik.

"Yang pertama kami ingin mengambil peran sebagai masyarakat Banyuwangi. Kemudian juga untuk mengembangkan talenta anak-anak kami yang berbakat di bidang seni, khususnya tari," papar Chitra.

"Apa salahnya kita ajak untuk keluar bahwasannya di luar sana itu juga banyak talent-talent berbakat. Dan, kalian harus berani untuk bersaing, berani untuk show up. Dari sekolah rakyat pun kalian bisa, karena harus punya percaya diri."

Ekspektasi para pendidik tersebut dijawab tuntas melalui penguasaan koreografi yang harmonis oleh para siswi, selaras dengan falsafah tema "Kembang Darmo"—di mana kembang bermakna bunga dan darmo berarti memberi—yang mengajarkan ketulusan, keikhlasan, dan kepasrahan kepada Sang Pencipta dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Evolusi simbol kesuburan dan semangat patriotisme

Tari Gandrung memiliki akar historis mendalam bagi masyarakat Osing Banyuwangi. Pada mulanya, tarian sakral ini merupakan ritus pemujaan kepada Dewi Sri sebagai personifikasi dewi kesuburan dalam mitologi Jawa, sekaligus ungkapan rasa syukur atas panen raya yang berlimpah.

Seiring bergulirnya zaman, gerak langkah dinamis penari Gandrung berevolusi menjadi lambang identitas kultural dan kebersamaan komunal. Gerakan tangan yang luwes mencerminkan penghormatan spiritual, sementara entakan kaki yang teratur menyimbolkan etos kerja keras masyarakat agraris.

Pada era kolonialisme, tari Gandrung bertransformasi menjadi instrumen perjuangan. Kesenian ini difungsikan sebagai kamuflase taktik perlawanan terhadap penjajah, media konsolidasi pejuang lokal, serta sarana penyampaian pesan patriotisme. Lewat kemasan kontemporer Festival Gandrung Sewu 2026, memori historis dan nilai keluhuran leluhur tersebut terus dihidupkan melintasi batas generasi. (ACwan/aNs)

Gen Z Takeaway

Glow in the dark, drone show, plus aksi magis 1.300 penari kolosal di bibir pantai bener-bener level visualnya internasional! Tapi yang paling bikin merinding tentu keberanian empat siswi Sekolah Rakyat yang sukses lolos seleksi ketat dan tampil standout tanpa rasa minder sedikit pun. Ini bukti valid kalau rasa percaya diri dan cinta budaya lokal bisa bawa siapa aja buat 'show up' dan bersinar terang di panggung dunia!

Gandrung Sewu 2026 sekolah rakyat Sekolah Rakyat Prabowo

Infografis

Terkini