Kemenag Gelar 'The Wonder of Harmony 2026': Saatnya Nongkrong Bareng dan Bikin Toleransi Nggak Cuma Pajangan Feeds

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Henni Rachma Sari
Selasa, 27 Oktober 2026 | 15:34 WIB
Kemenag Gelar 'The Wonder of Harmony 2026': Saatnya Nongkrong Bareng dan Bikin Toleransi Nggak Cuma Pajangan Feeds
Bukan Cuma Konten, Kemenag Dorong Kerukunan Lewat Perjumpaan Nyata! (Kemenag)

astakom.com, Jakarta – Ditjen Bimas Islam Kemenag  lagi ngadain event tahunan The Wonder of Harmony. Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kemenag, Thobib Al-Asyhar, negesin kalau acara ini dibuat bukan cuma buat seru-seruan, tapi demi ngebuka space bareng yang lebih luas buat antargenerasi dan antarumat beragama.

Ruang Perjumpaan Nyata

Ngerawat toleransi di Indonesia nggak cukup cuma ngandelin quote manis di poster atau video sinematik di sosmed. Thobib ngerasa masyarakat butuh interaksi fisik yang beneran real biar bisa saling ngerasain arti kebersamaan yang sesungguhnya.

“Artinya, masyarakat itu diajak untuk memiliki dan merasakan secara langsung tentang makna dan arti harmoni itu sebenarnya,” tutur Thobib pada konferensi pers agenda The Wonder of Harmony 2026 yang diadakan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, dikutip oleh astakom pada Selasa (27/10/2026).

Nyebarin pesan damai emang krusial, tapi dampak nyatanya baru berasa pas tiap orang mau duduk bareng, ngobrol, dan kerja bareng tanpa mandang latar belakang.

“Kegiatan The Wonder of Harmony ini juga bagian dari upaya untuk memperbanyak ruang-ruang perjumpaan. Karena harmoni itu biasanya justru dibangun melalui perjumpaan, bukan semata-mata dari apa yang selama ini kita sebut sebagai sebuah harmoni dari susunan kalimat,” ucapnya.

Tanggung Jawab Bersama

Pendekatan lewat komunitas, keluarga, sampai anak muda ini pas banget didorong pas mau masuk momen libur panjang akhir tahun, kayak Natal dan Tahun Baru. Thobib juga ngerem pemikiran kalau urusan toleransi cuma jobdesk pemerintah semata, karena ini tanggung jawab solidarity semua warga.

“Isu soal harmoni itu harus dipahami bukan hanya miliknya pemerintah, tapi adalah milik semua elemen masyarakat,” jelasnya.

Peran Penting Media

Bukan cuma humas pemerintah, insan pers dan media digital juga punya peran besar buat ngebentuk cara pandang publik. Thobib ngingetin kalau media harus berani bikin narasi yang lebih berbobot, bukan sekadar ngejar view atau pemberitaan formalitas.

“Media bukan hanya sekadar memberitakan apa yang akan disampaikan, tapi media juga punya tanggung jawab untuk bagaimana menceritakan yang lebih esensial, menceritakan yang lebih substansial,” ucapnya.

Sinergi bareng media ini dianggap sebagai bentuk dakwah bil qalam yang kekinian, terutama buat ngerangkul Gen Z yang tiap hari ngonsumsi info keagamaan lewat FYP dan medsos.

Tolak Ukur Kerukunan

Di akhir pemaparannya, Thobib ngebuka mata publik kalau keberhasilan edukasi kerukunan nggak bisa cuma diukur dari seberapa banyak artikel atau konten yang terbit.

“Ukuran yang pentingnya adalah semakin banyaknya ruang perjumpaan, semakin banyaknya kolaborasi yang tinggi, dan masyarakat semakin merasakan manfaat kehidupan keagamaan yang harmoni,” jelasnya. (nAD/RaM)

Gen Z Takeaway

Konten toleransi di FYP emang keren, tapi nggak bakal bikin paham kalau kita nggak berani nongkrong dan ngobrol langsung sama kawan yang beda latar belakang. Harmoni itu diciptain lewat action dan kolaborasi nyata, bukan sekadar quote estetis di feeds.

Kemenag kemenag update Kementerian Agama The Wonder Of Harmony

Infografis

Terkini