Dugaan Pes Muncul di Rusia, Begini Respons Kemenkes RI

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 6 Oktober 2026 | 14:33 WIB
Dugaan Pes Muncul di Rusia, Begini Respons Kemenkes RI
Dugaan Pes Muncul di Rusia, Begini Respons Kemenkes RI [lustrasi/Pexels[

astakom.com, Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI meningkatkan kewaspadaan menyusul kematian seorang pekerja laboratorium di Irkutsk, Rusia, yang sempat dikaitkan dengan dugaan penyakit pes. Namun, sampai saat ini belum ada konfirmasi bahwa pes menjadi penyebab kematian tersebut.

Pekerja yang diketahui bernama Darya Shipilova, 28 tahun, bekerja di lembaga penelitian antipes di wilayah Irkutsk. Ia dilaporkan mengalami pneumonia berat sebelum meninggal. Otoritas Rusia masih menyelidiki penyebab pasti penyakit yang dialaminya.

Kemenkes turut memantau perkembangan kasus tersebut. Kesiapsiagaan diperkuat melalui Balai Karantina Kesehatan, rumah sakit, Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas), serta dinas kesehatan.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan hingga Senin (05/10/2026) belum ada notifikasi khusus melalui International Health Regulations National Focal Point (IHR NFP) maupun informasi dalam Event Information Site(EIS) WHO yang meminta kewaspadaan khusus terkait kejadian tersebut.

“Sampai saat ini (05/10/2026) belum ada notifikasi melalui IHR NFP maupun informasi dalam Event Information Site (EIS) WHO untuk kewaspadaan khusus pada kejadian tersebut,” ujar Aji di Jakarta, Senin (05/10/2026).

Pengawasan pintu masuk diperkuat

Meski belum menerima notifikasi khusus dari WHO, Kemenkes tetap menyiapkan langkah antisipasi. Pengawasan terhadap pelaku perjalanan diperkuat di sejumlah pintu masuk internasional, termasuk bandara dan pelabuhan internasional di Bali.

Pemantauan dilakukan melalui deklarasi kesehatan menggunakan sistem All Indonesia–Satu Sehat Health Pass (SSHP). Petugas juga memperhatikan tanda dan gejala penyakit serta melakukan risk-based assessment (RBA) terhadap alat angkut.

Kewaspadaan juga mencakup faktor lingkungan. Kemenkes menjalankan surveilans terhadap tikus dan pinjal pada tikus di area pintu masuk negara sebagai bagian dari upaya deteksi dini.

Petugas karantina kesehatan selanjutnya menganalisis deklarasi kesehatan pelaku perjalanan untuk menentukan tindak lanjut. Riwayat perjalanan dari wilayah yang sedang mengalami kejadian penyakit tertentu juga menjadi bagian dari pemantauan.

Penyebab kematian masih diselidiki

Kasus ini menjadi perhatian karena Shipilova bekerja di lembaga penelitian yang berkaitan dengan penyakit pes. Namun, bekerja di fasilitas tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa penyakit yang dialaminya berasal dari paparan bakteri pes.

Shipilova dilaporkan meninggal setelah mengalami pneumonia berat dengan penyebab yang belum diketahui. Dugaan pes muncul dalam sejumlah laporan, tetapi otoritas Rusia belum mengonfirmasi bahwa Yersinia pestis, bakteri penyebab pes, menjadi penyebab penyakit atau kematiannya.

Sekitar 200 orang yang diketahui melakukan kontak dengan korban juga dilaporkan menjalani pemantauan sebagai langkah pencegahan. Pemantauan terhadap kontak tersebut tidak berarti mereka telah dinyatakan terinfeksi pes.

Dengan kondisi tersebut, kejadian di Rusia saat ini lebih tepat disebut sebagai dugaan yang masih dalam penyelidikan, bukan wabah pes yang telah terkonfirmasi.

Kemenkes mengimbau masyarakat tetap mengikuti informasi dari kanal resmi pemerintah dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat juga diminta menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Dugaan pes di Rusia memang sedang dipantau, tetapi belum ada bukti yang memastikan pekerja laboratorium tersebut meninggal akibat pes. Kemenkes RI memilih memperkuat deteksi dini di pintu masuk Indonesia sebagai langkah antisipasi sambil menunggu perkembangan dan konfirmasi resmi.

Kemenkes Pes Virus Kasus Pes Rusia WHO Penyakit

Infografis

Terkini