Wisman Makin Ramai, Spending Turis Malah Seret! BI Speak Up Kasih Solusi

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 1 Oktober 2026 | 00:08 WIB
Wisman Makin Ramai, Spending Turis Malah Seret! BI Speak Up Kasih Solusi
Wisman Makin Ramai, Spending Turis Malah Seret! BI Speak Up Kasih Solusi [astakom/str-Axel Oliver]

astakom.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) speak up soal  jumlah turis asing yang melancong ke Indonesia makin rame dan menunjukkan grafik naik yang cakep banget. Tapi, justru rata-rata pengeluaran atau tourist spending mereka justru mengalami tren penurunan atau mode seret.

Deputi Gubernur Senior BI, Aida S Budiman, nge-spill kalau jumlah kunjungan wisman atau wisatawan mancanegara dalam tiga tahun terakhir sebenarnya menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan peningkatan nilai belanja wisatawan selama menikmati liburan atau berkunjung ke Indonesia.

"Dalam kita berbicara tentang wisatawan mancanegara, tiga tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang baik. Tetapi kalau kita lihat, spending atau pengeluaran dari turis ternyata mengalami penurunan," ungkap Aida dalam acara FEKDI X IFSE di JCC Senayan, Jakarta, dikutip astakom.com pada Rabu (30/09/2026).

Jumlah kunjungan meningkat

Kalau dilihat dari datanya, jumlah kunjungan wisman memang naik secara konsisten yakni:

Tahun 2023: 11,68 juta kunjungan.Tahun 2024: 13,9 juta kunjungan.Tahun 2025: 15,39 juta kunjungan.

Sayangnya, kenaikan angka kunjungan ini justru berbanding terbalik dengan rata-rata pengeluaran mereka per individu. Pengeluaran rata-rata wisman tercatat sekitar USD1.374 pada 2023, lalu naik tipis ke USD1.392 pada 2024, sebelum akhirnya turun menjadi USD1.267 di 2025.

"Kalau kita lihat, spending atau pengeluaran dari turis ternyata mengalami penurunan. Pernah hampir USD1.400 per orang, sekarang berada di bawah USD1.300 per orang," ungkap Aida.

Kunci solusi: Transaksi lewat QRIS Antarnegara

Padahal, Indonesia punya modal yang kuat banget lewat kekayaan alam yang memukau, destinasi wisata estetik, sampai kekayaan budaya yang melimpah. Biar para turis ini makin gampang dan sat-set dalam bertransaksi, digitalisasi jadi kunci utama buat mensupport mobilitas lintas negara, baik orang, barang, maupun jasa.

Dalam konteks pariwisata, salah satu instrumen andalan yang dipush buat memudahkan transaksi wisatawan asing adalah perluasan konektivitas QRIS Antarnegara. Sampe per Agustus 2026, catatan transaksi inbound QRIS Antarnegara ini udah sukses menembus angka sekitar Rp4,6 triliun.

Tantangan QRIS

Tapi kita masih menghadapi tantangannya. Cakupan QRIS Antarnegara saat ini baru menyentuh sekitar 39,77 persen dari total wisman. Artinya, masih ada sekitar 60,23 persen wisman yang berasal dari negara-negara yang belum terhubung dengan sistem pembayaran digital praktis ini.

Ke depan, perluasan konektivitas pembayaran digital lintas negara ini dinilai bakal menjadi salah satu strategi ampuh dari Bank Indonesia untuk mendongkrak kembali tourist spending, sekaligus memaksimalkan penerimaan devisa negara dari sektor pariwisata. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Turis asing yang datang ke Indonesia memang makin rame, dari 11,68 juta kunjungan pada 2023 jadi 15,39 juta pada 2025. Tapi plot twist-nya, rata-rata spending malah turun dari USD1.392 pada 2024 jadi USD1.267 pada 2025. BI melihat digitalisasi pembayaran, termasuk perluasan QRIS Antarnegara, bisa jadi salah satu cara bikin transaksi wisman makin sat-set sekaligus mendorong tourist spending dan devisa pariwisata.

Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman sektor pariwisata devisa negara transaksi QRIS QRIS

Infografis

Terkini