BI Spill 94,9% Pemda Sudah Terdigitalisasi! Gaspol QRIS, SNAP, BI-FAST hingga BI-RTGS
astakom.com, Jakarta - Langkah memangkas keribetan transaksi keuangan bukan sekadar ikut-ikutan tren modern, melainkan kunci utama buat meningkatkan efisiensi harga dan memicu daya beli masyarakat.
Demi mewujudkan hal tersebut, Bank Indonesia (BI) gencar memacu digitalisasi sistem pembayaran nasional dari ranah pemerintah daerah sampai ke penjual kopi kekinian. Tujuannya jelas, biar proses bisnis makin efisien dan roda ekonomi nasional berputar makin kencang.
Pemda digitalization era
Bukan cuma anak muda di kota-kota besar yang makin fasih bertransaksi secara digital, tata kelola keuangan di lingkungan Pemerintah Daerah (Pemda) juga terbukti makin responsif dan adaptif dengan teknologi. Penetrasi digitalisasi di instansi pemerintah daerah saat ini tercatat udah nyaris mencapai target penuh.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, nge-spill tingginya adopsi digitalisasi di tingkat daerah mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat tata kelola keuangan daerah.
"Nah saat ini, dari data yang kami miliki, digitalisasi di Pemda terus mengalami peningkatan di mana saat ini sudah mencapai 94,9 persen atau 518 dari 546 Pemda yang telah mencapai tahap digitalisasi," kata Destry dalam Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDI x IFSE) di Jakarta, beberapa waktu lalu, dikutip astakom.com pada Sabtu (26/09/2026).
QRIS dan KKI hype
Di sektor pembayaran ritel, gaya hidup cashless terbukti makin hype. Perluasan penggunaan QRIS terus menunjukkan tren akselerasi yang begitu pesat. BI menargetkan jangkauan merchant QRIS menembus angka 47,11 juta dengan tingkat pertumbuhan 13,38 persen secara tahunan (year-on-year). Dari sisi konsumen alias pengguna, jumlahnya diproyeksikan bakal menembus 69,32 juta atau melonjak sebesar 23,26 persen.
FYI, daya dukung pembiayaan digital juga makin diperkuat lewat kehadiran Kartu Kredit Indonesia (KKI). Fasilitas pendukung ini sukses mencatatkan pencetakan hingga 32.457 kartu sampai pertengahan September.
Modernisasi infrastruktur
Penguatan di lini depan pembayaran ini berjalan seiring dengan modernisasi infrastruktur sistem pembayaran antarlembaga di balik layar, mulai dari Standar Nasional API Pembayaran (SNAP), BI-FAST, hingga BI-RTGS.
"Kita perluasakan SNAP transaksi mencapai 2,69 miliar tumbuh 67,12 persen per Agustus. Infrastruktur melalui BI FAST mencapai 549 juta transaksi untuk ritel, dan kami akan kembangkan new BI FAST, modernisasai BI RTGS," ungkap Destry.
Integrasi sistem pembayaran jadi fondasi
Destry meng-highlight kalau integrasi ekosistem pembayaran digital yang andal dan aman akan menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas sistem keuangan serta menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Dengan ekosistem yang serba terkoneksi ini, kegiatan yang berhubungan dengan sistem pembayaran harian bakal makin aman dan efisien bagi masyarakat, bahkan pemerintah daerah dan pusat dalam bertransaksi. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Digitalisasi sistem pembayaran Indonesia makin gaspol, bukan cuma di kalangan anak muda dan merchant, tapi juga Pemda. BI mencatat 94,9% atau 518 dari 546 Pemda sudah terdigitalisasi, sementara QRIS diproyeksikan tembus 47,11 juta merchant dan 69,32 juta pengguna. Di belakang layar, SNAP, BI-FAST, dan BI-RTGS juga terus dimodernisasi biar transaksi makin cepat, aman, efisien, dan ikut nge-boost perputaran ekonomi.









