Cashless Makin Ngetren, 67 Juta Orang Pakai QRIS! BI: Jangan Tolak Cash
astakom.com, Jakarta Pernah nggak sih kamu kelupaan bawa dompet pas lagi nongkrong atau belanja, tapi tetep chill karena ngerasa aman selama bawa HP? Yap, gaya hidup cashless alias tanpa uang tunai sekarang udah jadi bagian yang nggak bisa lepas dari keseharian kita. Menariknya, fenomena ini ternyata divalidasi langsung sama Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti.
Destry nge-spill fakta mengejutkan soal adopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang pertumbuhannya meroket tajam. Pencapaian ini menjadi bukti real betapa masifnya percepatan transformasi pembayaran digital di tengah masyarakat Indonesia.
"QRIS kalau kita lihat sekarang penggunanya sudah 67 juta. Artinya sudah 1 per 4 dari penduduk Indonesia menggunakan QRIS," kata Destry dalam FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta, beberapa waktu lalu, dikutip astakom.com pada Sabtu (26/09/2026).
Belanja makin sat-set
Pergeseran gaya hidup menuju transaksi digital ini nyatanya nggak cuma terjadi di mal-mal mewah atau coffee shop estetik aja, lho. Transaksi nontunai ini sudah merambah jauh ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk para pedagang di pasar tradisional. Banyak orang yang sekarang ngerasa jauh lebih praktis dan sat-set tinggal scan barcode lewat hp daripada harus ribet bawa uang tunai (cash) dan nungguin kembalian.
"Kalau kita sekarang belanja di pasar itu mereka lebih suka pakai QRIS ketimbang uang cash," katanya.
Fakta ini membuktikan kalau teknologi sudah makin inklusif dan diterima oleh banyak kalangan tanpa pandang bulu.
Pedagang jangan tolak uang cash
Meski tren bayar-bayar pakai scan QRIS makin mendominasi dan terkesan hype banget, Bank Indonesia memberikan catatan penting nih buat para pelaku usaha atau merchant. BI menegaskan bahwa keberadaan uang tunai (kartal) tetap menjadi bagian yang nggak terpisahkan dari ekosistem sistem pembayaran nasional kita.
Jadi, kalau mau bertransaksi menggunakan uang tunai, merchant atau toko harus tetep bisa terima dan jangan ditolak.
"Kalau pun ada yang memang mereka ingin bayar cash ya memang mereka harus bisa menerima," kata Destry menegaskan.
Lebih lanjut, pesatnya penetrasi pembayaran digital ini memang punya impact langsung ke laju peredaran uang fisik di masyarakat. Destry mengakui kalau peredaran uang kertas dan logam memang masih mencatatkan pertumbuhan, tapi laju kecepatannya mulai ngos-ngosan seiring meluasnya pembayaran berbasis digital.
"Kalau kita lihat memang masih tumbuh, tapi mulai terus melambat," kata Destry.
Uang tunai tetap jadi andalan
Satu hal lagi yang bikin uang tunai masih sangat diandalkan eksistensinya melihat kondisi geografis Indonesia yang super luas. BI sadari bahwa uang tunai masih memegang peranan vital, terutama di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Di daerah-daerah ini, ngomongin soal QRIS mungkin masih belum sepenuhnya relate karena keterbatasan infrastruktur telekomunikasi dan jaringan internet.
"Kita ada daerah-daerah yang terdepan, terluar. Tentunya mereka juga masih butuh uang cash. Mungkin sinyal juga belum semuanya tersedia, masih ada beberapa blank spot," ungkap Destry.
Intinya, walau QRIS udah jadi bestie baru buat mempermudah transaksi seperempat populasi Indonesia, uang tunai tetap punya tempat spesialnya sendiri, terutama buat mereka yang masih berjuang mencari sinyal di berbagai pelosok negeri. (Shnty/RaM)
Gen Z Takeaway
QRIS makin nggak bisa dipisahkan dari keseharian karena penggunanya sudah tembus 67 juta orang atau sekitar 1 dari 4 penduduk Indonesia. Bahkan, transaksi digital kini makin merambah pasar tradisional karena dianggap lebih praktis dan sat-set. Meski begitu, BI menegaskan uang cash tetap wajib diterima merchant, terutama karena masih dibutuhkan di wilayah 3T yang infrastrukturnya belum sepenuhnya mendukung transaksi digital.









