Mengenang Ade Irma Suryani Nasution, Bocah 5 Tahun Jadi Korban di Rumah Jenderal A.H. Nasution

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Henni Rachma Sari
Rabu, 30 September 2026 | 03:08 WIB
Mengenang Ade Irma Suryani Nasution, Bocah 5 Tahun Jadi Korban di Rumah Jenderal A.H. Nasution
Ade Irma Suryani Nasution, putri Jenderal Abdul Haris Nasution yang menjadi korban Tragedi G30S PKI. [Dok. Museum AH Nasution]

astakom.com, Jakarta - Nama Ade Irma Suryani Nasution mungkin tidak sebesar nama ayahnya dalam buku-buku sejarah. Namun, kisahnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari peristiwa G.30.S/PKI pada 1965. Ade Irma merupakan putri A.H. Nasution dan Yohana Soenarti yang saat itu masih berusia lima tahun.

Ia berada di lingkungan keluarganya ketika kediaman A.H. Nasution menjadi salah satu lokasi yang didatangi pasukan pada 1 Oktober 1965. Peristiwa tersebut kemudian membuat Ade Irma menjadi salah satu korban yang tercatat dalam sejarah Indonesia.

Ade Irma jadi korban saat berusia lima tahun

Ade Irma Suryani merupakan putri kedua A.H. Nasution dan Yohana Soenarti, putri R.P. Gondokoesoemo. Ia memiliki seorang kakak bernama Hendrianti Zaharah.

Pada dini hari 1 Oktober 1965, kediaman A.H. Nasution menjadi sasaran pasukan dalam rangkaian peristiwa G.30.S/PKI. A.H. Nasution berhasil menyelamatkan diri dari peristiwa tersebut.

Namun, situasi di kediamannya membawa dampak tragis bagi keluarganya. Ade Irma menjadi korban dan kemudian gugur ketika usianya baru lima tahun.

Pusat Sejarah TNI mencatat Ade Irma wafat dalam usia yang sangat muda dan menyebut dirinya gugur sebagai perisai ayahandanya dalam peristiwa G.30.S/PKI tahun 1965.

Dalam peristiwa yang sama, Lettu Czi Pierre Andreas Tendean, ajudan A.H. Nasution, juga gugur.

Kisah Ade Irma menjadi bagian penting dari catatan peristiwa tersebut karena ia merupakan seorang anak yang berada di lingkungan keluarga A.H. Nasution ketika peristiwa itu terjadi.

Sang ayah jadi sasaran utama

Untuk memahami mengapa kediaman keluarga Nasution menjadi lokasi penting pada malam tersebut, sosok A.H. Nasution juga tidak bisa dilepaskan dari ceritanya.

Abdul Haris Nasution merupakan salah satu tokoh militer penting dalam sejarah Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dan kemudian Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan sekaligus Kepala Staf Angkatan Bersenjata.

Sebelum peristiwa 1965, perjalanan Nasution di dunia militer sudah berlangsung sejak masa perjuangan kemerdekaan. Ia terlibat dalam berbagai fase perjuangan dan dikenal sebagai salah satu perumus strategi perang gerilya.

Pada 1965, kediamannya menjadi salah satu lokasi yang didatangi pasukan dalam rangkaian peristiwa G.30.S/PKI. Nasution berhasil selamat, tetapi putrinya, Ade Irma, menjadi korban.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan hidup A.H. Nasution sekaligus meninggalkan luka dalam keluarganya.

Nama Ade Irma tetap dikenang

Meski hidupnya berakhir pada usia lima tahun, nama Ade Irma tetap tercatat dalam sejarah keluarga A.H. Nasution dan sejarah Indonesia.

Kediaman A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar, Jakarta, yang berkaitan erat dengan peristiwa tersebut, kini menjadi Museum Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution. Museum itu menyimpan berbagai koleksi mengenai perjalanan hidup A.H. Nasution, termasuk potret Ade Irma Suryani Nasution.

Kisah Ade Irma juga tercatat dalam biografi resmi A.H. Nasution yang diterbitkan Pusat Sejarah TNI. Dalam catatan tersebut, Ade Irma disebut sebagai putri A.H. Nasution yang gugur dalam peristiwa G.30.S/PKI 1965.

Sementara itu, A.H. Nasution kemudian menerima pangkat kehormatan Jenderal Besar TNI melalui Keputusan Presiden Nomor 46/ABRI/1997 pada 30 September 1997. Ia wafat di Jakarta pada 6 September 2000.

Pemerintah kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada A.H. Nasution melalui Keputusan Presiden Nomor 073/TK/Tahun 2002 pada 6 November 2002.

Bagi sejarah Indonesia, nama Ade Irma tidak hanya melekat sebagai putri seorang tokoh militer. Ia juga menjadi bagian dari catatan tentang bagaimana sebuah peristiwa besar pada 1965 berdampak langsung pada sebuah keluarga. (deA/RaM/aNs)

Gen Z Takeaway

Ade Irma baru berusia lima tahun ketika menjadi korban peristiwa 1965. Namanya tetap dikenang karena kisahnya menjadi bagian dari sejarah keluarga A.H. Nasution dan perjalanan sejarah Indonesia.

G30S PKI sejarah G30S PKI Ade Irma Suryani Nasution A.H. Nasution G30S Sejarah Indonesia

Infografis

Terkini