Kemenkes Catat 174.694 Kasus ISPA Imbas Karhutla, Lebih dari 40 Ribu Balita Terdampak
astakom.com, Jakarta – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat terus dipantau pemerintah.
Melansir keterangan resmi dalam konferensi pers penanganan karhutla yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), pada Selasa (22/09/2026), Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Then Suyanti menyampaikan terdapat 174.694 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla sejak Agustus hingga 21 September 2026.
“Dari hasil pemantauan surveilans kesehatan, kasus ISPA pada wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan ini, kita lihat ada 174.694 kasus ISPA dari Agustus sampai 21 September kemarin. Dan untuk hari ini, ada 4.533. Jadi yang sisanya sudah sembuh atau sehat kembali,” jelas Then dalam konferensi pers tersebut.
Dari total kasus yang terdata, 40.363 kasus dialami balita. Data tersebut berasal dari wilayah yang menjadi prioritas penanganan karhutla, dengan pemantauan mencakup tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota.
174 ribu kasus ISPA tercatat
Angka 174.694 merupakan data kumulatif hasil pemantauan surveilans kesehatan selama periode Agustus hingga 21 September 2026. Sementara itu, pembaruan pada 22 September menunjukkan masih ada 4.533 kasus yang tercatat.
Artinya, angka kumulatif tersebut tidak menggambarkan jumlah pasien yang seluruhnya masih mengalami ISPA pada waktu yang sama. Sebagian kasus dalam periode pemantauan telah dinyatakan sembuh atau kembali sehat.
Then juga menjelaskan bahwa data tersebut dikelompokkan berdasarkan usia. Untuk kelompok balita, tercatat sekitar 40.363 kasus.
“Dan ini untuk kita kategorikan untuk balita dan di atas balita. Untuk kasus balita itu ada sekitar 40.363 pasien atau kasus. Nah, ini semua terdampak dari data tujuh provinsi di 63 kabupaten/kota,” ujar Then.
Tujuh provinsi jadi sorotan
Wilayah yang menjadi prioritas penanganan karhutla meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Pemantauan kesehatan dilakukan seiring dengan kondisi karhutla dan paparan asap di wilayah tersebut. Selain ISPA, pemerintah juga memantau sejumlah gangguan kesehatan lain yang berkaitan dengan paparan asap.
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5 serta berbagai polutan lain. Paparan tersebut dapat memicu gangguan pernapasan seperti batuk, sesak napas, pilek, radang tenggorokan, asma, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
“Dan kemudian juga bisa menyebabkan iritasi mata, seperti mata merah, gatal, dan perih akibat paparan asap; kemudian juga tentunya bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, tekanan darah yang terutama meningkat pada lansia,” ujar Then.
Kelompok rentan perlu dijaga
Mekansir dari Kemenkes sebelumnya, kondisi kualitas udara akibat asap karhutla menjadi perhatian khusus bagi kelompok yang lebih rentan. Kemenkes menyebut anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma dan PPOK, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan perlu mendapat perhatian.
Upaya perlindungan dilakukan dengan mendorong masyarakat memahami risiko paparan asap sekaligus menyesuaikan aktivitas dengan kondisi udara. Pemantauan penyakit dan kualitas udara juga menjadi bagian dari penanganan kesehatan di daerah terdampak.
Kemenkes turut memperkuat kesiapan layanan kesehatan dengan dukungan logistik. Bantuan yang dimobilisasi antara lain konsentrator oksigen, masker, tabung oksigen, serta dukungan Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) untuk membantu pengujian kualitas udara.
“Kita melakukan mobilisasi bantuan logistik berupa konsentrator oksigen, masker, tabung oksigen, dan termasuk menyiapkan Labkesmas untuk membantu pengujian kualitas udara, dan menggerakkan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) di kabupaten/kota,” kata Then.
Kemenkes dorong pencegahan
Penanganan dampak kesehatan karhutla tidak hanya dilakukan melalui layanan medis. Kemenkes juga menjalankan langkah promotif dan preventif dengan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara mengurangi risiko paparan asap.
Pemantauan dilakukan terhadap penyakit yang berkaitan dengan karhutla, termasuk ISPA, pneumonia, asma, serta iritasi mata dan kulit. Kualitas udara juga terus dipantau sebagai bagian dari upaya melihat perkembangan risiko kesehatan di wilayah terdampak.
Kemenkes telah menerbitkan surat kewaspadaan kepada dinas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan agar kesiapan layanan tetap terjaga selama kondisi karhutla berlangsung.
Masyarakat juga diimbau memperhatikan kondisi tubuh. Jika muncul gangguan seperti sesak napas, batuk yang semakin berat, nyeri dada, atau keluhan kesehatan lain yang meningkat, pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan perlu segera dilakukan. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Karhutla bukan cuma soal api dan asap yang bikin udara terlihat berkabut. Dampaknya juga tercatat pada kesehatan masyarakat. Jadi, ketika kualitas udara memburuk, jangan cuek. Pantau kondisi udara, kurangi aktivitas di luar ruangan, dan beri perhatian lebih kepada kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pernapasan.









