Hilang Ratusan Kilometer, Begini Kronologi Penemuan Jenazah Surakman ABK Arupadhatu 1 di Enggano Bengkulu

Editor: Henni Rachma Sari
Rabu, 23 September 2026 | 19:16 WIB
Hilang Ratusan Kilometer, Begini Kronologi Penemuan Jenazah Surakman ABK Arupadhatu 1 di Enggano Bengkulu
Foto terakhir Arie Basuki dan Surakman, jurnalis dan ABK Kapal Arupdhatu hilang kontak di Selat Sunda. [Dok. Pribadi]

astakom.com, Jakarta — Kabar duka sekaligus titik terang dari tragedi hilang kontaknya Kapal Arupadhatu 1 di Selat Sunda makin terungkap. Kapolda Banten Irjen Pol Hengki membeberkan kronologi penemuan hingga proses identifikasi jenazah Mr. X di Pulau Enggano, Bengkulu, yang dipastikan merupakan Surakman, salah satu anak buah kapal (ABK).

Langkah panjang identifikasi ini bermula dari penemuan jenazah tanpa identitas di perairan Bengkulu beberapa hari setelah kapal dinyatakan hilang.

"Pada hari Sabtu tanggal 12 September 2026, telah ditemukan mayat laki-laki mr X tanpa identitas di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu," jelas Hengki dalam konferensi pers, Rabu (23/09/2026).

Menurut Hengki, mayat tersebut memiliki ciri-ciri mengenakan celana pendek hitam, tinggi 163 cm, dan berusia sekitar 50 tahun.

Mendapat informasi tersebut, Kabiddokes Polda Bengkulu langsung fast response berkoordinasi dengan Kabiddokes Polda Banten untuk mencocokkan data forensik dengan para keluarga korban kapal yang membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal itu.

"Identifikasi serta pencocokan oleh tim DVI terkait data antemortem dari 8 keluarga korban kapal Arupadhatu 1 yang hilang kontak di Selat Sunda. Baik data primer yaitu dari sidik jari, gigi, dan DNA," jelasnya.

Kerja keras tim DVI Pusdokkes Polri akhirnya membuahkan hasil valid setelah sampel DNA dicocokkan dengan anak kandung korban.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA, operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap seorang mayat mr X yang ditemukan di Pulau Enggano Bengkulu bahwa secara identik PM/62/P.Enggano 01 itu kode jenazah teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK kapal ayah biologis dari tuan Yayat sebagai putra kandung dari Bapak Surakman ABK kapal Arupadhatu 1," ujarnya.

Alur Perjalanan Rombongan Sebelum Hilang Kontak

Rombongan bertolak dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka menumpangi speedboat Arupadhatu 1 untuk meliput serta memotret aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Situasi awalnya terpantau aman dan terkendali. Sekitar pukul 18.13 WIB, kru speedboat sempat memberikan kabar ke rekannya bahwa kondisi mereka fine-fine saja, sembari mengirimkan dokumentasi foto aktivitas Gunung Anak Krakatau. Namun, hanya berselang beberapa menit setelah kabar terakhir tersebut, sinyal dan komunikasi dengan rombongan langsung terputus total.

Pencarian skala besar terus diupayakan untuk mengusut keberadaan rombongan yang terdiri dari lima jurnalis: M. Bagus Khoirunnas (28) dari ANTARA, Ari Basuki (52) dari Merdeka.com, Yudhis (43) dari iNews, Daus (42) dari Anadolu, dan Donal (51) jurnalis lepas. Serta tiga awak kapal: Warta (55) sebagai kapten, Surakman (60) sebagai ABK, dan Heriyanto (49) sebagai pemandu. (RaM)

Gen Z Takeaway

imeline-nya bermula pas rombongan berangkat dari Carita (7/9) buat liputan ke Gunung Anak Krakatau. Sempat update kondisi aman jam 18.13 WIB, komunikasi malah langsung lost beberapa menit kemudian. Titik terang akhirnya muncul pas ditemuin jenazah Mr. X di Pulau Enggano (12/9). Lewat tes DNA yang super ketat dari tim DVI, hasilnya fix 100% match kalau almarhum adalah Pak Surakman, ABK Arupadhatu 1. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, keluarga diberikan ketabahan, dan korban lainnya segera ketemu. 

5 Jurnalis Hilang Kontak erupsi gunung anak krakatau Selat Sunda Banten Hilang Kontak Kapal Hilang Selat Sunda

Infografis

Terkini