Pascagempa NTT, Jalur Laut Dioptimalkan Kemenhub untuk Kirim Bantuan ke Flores
astakom.com, Jakarta - Penanganan pascagempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus masuk tahap pemulihan. Setelah gempa mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/08/2026), pemerintah kini mengoptimalkan jalur transportasi laut agar bantuan kemanusiaan dan mobilisasi personel tetap bisa menjangkau masyarakat terdampak.
Melansir keterangan resmi Kementerian Perhubungan yang diterima Astakom.com pada Kamis (20/8/2026), Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari pengangkutan logistik dan personel hingga pemeriksaan fasilitas pelabuhan yang terdampak gempa.
Langkah ini menjadi penting karena transportasi laut menjadi salah satu akses utama untuk menghubungkan wilayah-wilayah di Flores, terutama dalam kondisi ketika penanganan bencana masih membutuhkan distribusi kebutuhan dasar secara cepat.
Bantuan jadi prioritas
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Muhammad Masyhud mengatakan jalur laut tidak hanya dipakai untuk mengirim barang bantuan, tetapi juga mendukung pergerakan tenaga medis, relawan, serta personel yang terlibat dalam penanganan bencana.
“Prioritas kami adalah memastikan transportasi laut dapat mendukung penanganan bencana, baik untuk distribusi bantuan kemanusiaan maupun mobilisasi personel. Di saat yang sama, keselamatan tetap menjadi perhatian utama sehingga kondisi fasilitas pelabuhan terus kami pantau dan periksa,” ujar Dirjen Masyhud kepada Astakom.com mengutip keterangan resmi Kemenhub, Kamis (20/08/2026).
Dukungan tersebut mencakup pengangkutan kebutuhan pokok, peralatan penanganan bencana, tenaga medis, relawan, hingga personel tanggap darurat. Kemenhub juga membuka opsi penyesuaian pola operasi kapal apabila dibutuhkan untuk mempercepat distribusi bantuan.
“Transportasi laut siap mendukung upaya penanganan bencana. Apabila diperlukan untuk mempercepat distribusi bantuan logistik, kami dapat melakukan penyesuaian pola operasi kapal perintis sehingga bantuan dapat menjangkau masyarakat terdampak dengan lebih cepat dan efektif,” jelasnya.
KM Tidar angkut logistik
Salah satu dukungan dilakukan melalui KM Tidar milik PT PELNI. Kapal tersebut telah berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju wilayah terdampak dengan membawa bantuan yang dikumpulkan dari KSOP Tanjung Perak, PT Pelindo, PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS), stakeholder, hingga masyarakat.
Muatan bantuan mencakup kebutuhan pokok, susu dan makanan bayi, serta berbagai kebutuhan lain untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa.
Kemenhub juga memberikan pembebasan tarif 100 persen untuk pengiriman bantuan logistik kemanusiaan menggunakan kapal PSO PT PELNI. Fasilitas serupa diberikan bagi personel resmi yang bertugas dalam penanggulangan bencana, termasuk TNI, Polri, tenaga medis, dan relawan.
Selain itu, biaya asuransi muatan bantuan kemanusiaan akan difasilitasi melalui dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PELNI.
Tak berhenti di sana, bantuan dari kantor pusat Kemenhub juga akan dikirim lewat jalur laut menggunakan KM Tidar. Kapal tersebut dijadwalkan berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok pada 29 Agustus 2026 dengan tujuan Maumere, Larantuka, Lewoleba, dan Kupang.
KN NIPA sudah bergerak
Pengiriman bantuan juga dilakukan melalui Kapal Negara (KN) NIPA milik Distrik Navigasi Tipe A Kelas II Kupang.
Kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Kupang pada Selasa (18/08/2026) pukul 00.31 WITA dengan membawa sembako, air bersih, obat-obatan, selimut, dan tenda untuk masyarakat terdampak di sejumlah wilayah Flores.
KN NIPA kemudian tiba pada Kamis (20/08/2026), dengan pembongkaran bantuan dipusatkan di Pelabuhan Reo dan Maropokot yang termasuk wilayah dengan dampak cukup parah.
Misinya juga bukan sekadar mengantar bantuan. KN NIPA turut melakukan pemantauan dan perbaikan sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) di perairan Flores. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keselamatan pelayaran sekaligus memastikan pergerakan kapal tetap berjalan di wilayah NTT setelah gempa.
Pelabuhan mulai dikaji
Di sisi lain, Kemenhub mulai menyiapkan langkah pemulihan fasilitas pelabuhan yang terdampak. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut akan melakukan kajian teknis untuk mengetahui tingkat kerusakan, kebutuhan penanganan, hingga opsi perbaikannya.
“Hasil asesmen tersebut akan menjadi dasar penetapan langkah perbaikan serta kebutuhan pendanaan yang akan dialokasikan melalui APBN Kementerian Perhubungan sesuai ketentuan yang berlaku,” ungkap Dirjen Masyhud.
Kemenhub menyatakan koordinasi dengan pemerintah daerah dan stakeholder akan terus dilakukan agar distribusi bantuan tetap berjalan, pelayanan transportasi laut aman, dan pemulihan fasilitas pelabuhan dapat dilakukan secara bertahap.
“Fokus kami saat ini adalah memastikan bantuan kemanusiaan dapat didistribusikan dengan baik melalui dukungan transportasi laut, sekaligus memastikan fasilitas pelabuhan yang terdampak dapat segera ditangani. Kami akan terus memantau perkembangan di lapangan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga konektivitas masyarakat,” tutup Dirjen Masyhud. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Bantuan pascagempa bukan cuma soal apa yang dikirim, tetapi juga bagaimana bantuan itu bisa sampai. Kali ini, jalur laut dimaksimalkan Kemenhub untuk menjaga logistik, personel, sampai akses antardaerah di Flores tetap bergerak sambil fasilitas pelabuhan yang terdampak mulai dipulihkan.









