Tangis Haru Ibu di Sukoharjo: Anak Pertama Kali Punya Seragam Baru

Penulis: A. Cuwantoro
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 4 Agustus 2026 | 07:08 WIB
Tangis Haru Ibu di Sukoharjo: Anak Pertama Kali Punya Seragam Baru
Testimoni Titin Lestari dan Lia Maharani dalam acara Open House dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Sukoharjo, Sabtu (1/8/2026). [Kemensos]

astakom.com, Jakarta — Bagi sebagian besar orang tua, membeli seragam baru saat tahun ajaran baru adalah hal yang lumrah. Namun bagi Titin Lestari, senyum bahagia putrinya, Lia Maharani, saat memeluk seragam sekolah baru adalah momen yang telah ia nantikan seumur hidup.

Sejak bangku sekolah dasar hingga SMP, Lia tidak pernah merasakan memakai seragam gres buatan pabrik. Keterbatasan ekonomi memaksa keluarga kecil asal Kelurahan Combongan, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, ini selalu mengandalkan baju bekas pemberian tetangga.

"Waktu SD dikasih tetangga. Pas SMP saya sakit, tidak bisa beli. Ada tiga tetangga yang saya mintai bantuan, ada baju yang kekecilan, ada yang kebesaran," tutur Titin, dikutip dari laman Kemensos.

Diketahui, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) hadir dalam acara Open House dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Sukoharjo, Sabtu silam (01/08/2026).

Sehari-hari, Titin mengadu nasib dengan berjualan kerupuk bawang beromzet bersih Rp46.000 per hari. Sementara sang suami, Misju, bekerja sebagai buruh tani serabutan. Penghasilan yang pas-pasan itu hanya cukup untuk mengganjal perut.

Asa terbit lewat Sekolah Rakyat

Asa itu akhirnya terbit lewat Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis gagasan Presiden Prabowo Subianto. Di sekolah ini, Lia bukan hanya mendapatkan fasilitas pendidikan berkualitas secara cuma-cuma, tetapi juga hak paling dasarnya sebagai pelajar: seragam baru.

"Saya senang dan bangga, Pak. Untuk anakku, semangat ya, Nduk. Jangan pernah menyerah, masa depan ada di depan mata," ucap Titin sambil memeluk erat Lia, menyisakan derai air mata haru di ruang acara.

Misi pengungkit sosial dan akses tanpa tes

Keharuan tersebut turut dirasakan Mensos Gus Ipul dan seluruh peserta yang hadir. Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang khusus sebagai pengungkit derajat sosial bagi keluarga yang berada di lapisan ekonomi terbawah (Desil 1 dan 2 DTSEN).

Berbeda dari sekolah umum, Sekolah Rakyat memiliki sistem yang unik:

  • Sistem Penjangkauan: Tidak membuka pendaftaran mandiri. Siswa didata dan dijemput bola berdasarkan kondisi objektif di lapangan.
  • Tanpa Tes Akademik: Seleksi tidak menggunakan ujian tertulis, melainkan pemetaan minat dan bakat (DNA talent mapping).
  • Inklusif: Menerima siswa dari berbagai latar belakang kemampuan dasar untuk dibina hingga berprestasi.

"Ini adalah persembahan Bapak Presiden Prabowo kepada keluarga yang secara sosial-ekonomi berada di tingkat paling bawah. Kalau ada anak yang masuk belum bisa membaca, jangan khawatir. Banyak contoh siswa Sekolah Rakyat yang dulunya belum bisa baca, kini justru berprestasi," terang Gus Ipul.

Suasana haru sore itu ditutup dengan hangat. Titin dan Lia maju ke depan panggung, melantunkan nada duet merdu yang disambut riuh tepuk tangan dari seluruh hadirin—sebuah simbol kecil dari harapan besar yang baru saja dimulai.

Gen Z Takeaway

Real emotional damage tapi berakhir wholesome banget! Terharu parah liat perjuangan Bu Titin yang dari SD-SMP cuma sanggup kasih Lia seragam bekas tetangga, tapi sekarang akhirnya Lia bisa ngerasain punya seragam baru berkat program Sekolah Rakyat dari Pak Prabowo. No test, no registration fee, bener-bener pure dijemput bola buat bantu keluarga yang butuh. Terbukti pendidikan gratis dan layak tuh hak semua anak, period!

sekolah rakyat Sekolah Rakyat Prabowo Sekolah Rakyat Sukoharjo

Infografis

Terkini