Usai Sampaikan 4 Komitmen di Forum Dunia, KKP Perkenalkan Ocean Calculator Dukung Pengelolaan Laut Berkelanjutan

Pewarta: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 1 Juli 2026 | 19:02 WIB
Usai Sampaikan 4 Komitmen di Forum Dunia, KKP Perkenalkan Ocean Calculator Dukung Pengelolaan Laut Berkelanjutan
Usai Sampaikan 4 Komitmen di Forum Dunia, KKP Perkenalkan Ocean Calculator Dukung Pengelolaan Laut Berkelanjutan [KKP]

astakom.com, Jakarta – Indonesia mulai menerjemahkan komitmen perlindungan laut ke dalam langkah yang lebih nyata. Setelah menyampaikan empat komitmen baru pada ajang Our Ocean Conference (OOC) ke-11 di Mombasa, Kenya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kini memperkenalkan Ocean Calculator, platform digital yang dirancang untuk membantu pengelolaan laut dan pesisir berbasis data ilmiah.

Platform tersebut dikembangkan untuk menghitung nilai ekonomi berbagai ekosistem pesisir, seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Dengan dukungan data geospasial, citra satelit, serta hasil penelitian, Ocean Calculator diharapkan menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan yang lebih terukur, sekaligus mendukung konservasi laut dan implementasi ekonomi biru di Indonesia.

Melansir laman resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), peluncuran Ocean Calculator menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola kelautan berbasis ilmu pengetahuan. Kehadirannya juga selaras dengan empat komitmen yang sebelumnya disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam forum OOC ke-11 sebagai langkah memperkuat perlindungan ekosistem laut dan mendorong pembangunan kelautan yang berkelanjutan.

Empat komitmen

Pada forum OOC ke-11, Indonesia membawa empat komitmen baru yang menjadi arah kebijakan pengelolaan laut dalam beberapa tahun ke depan. Komitmen tersebut mencakup integrasi tata ruang darat dan laut ke dalam perencanaan nasional dan provinsi, penetapan 700 ribu hektare kawasan konservasi laut baru pada 2026, evaluasi efektivitas pengelolaan 19,10 juta hektare kawasan konservasi yang telah ada, serta pengembangan proyek percontohan karbon biru.

Melalui komitmen tersebut, Indonesia juga berpeluang memperoleh dukungan pendanaan internasional hingga USD260 juta melalui berbagai skema kerja sama untuk mendukung konservasi terumbu karang, restorasi ekosistem laut, dan pengembangan Ocean Centres.

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, empat komitmen tersebut menjadi penegasan bahwa Indonesia terus memperkuat tata kelola laut melalui kebijakan yang lebih terarah sekaligus memperluas upaya konservasi. Pernyataan itu dikutip dari laman resmi KKP pada Rabu (1/7/2026).

"Empat komitmen yang kami sampaikan hari ini menegaskan langkah konkret Indonesia dalam memperkuat pengelolaan ruang laut, memperluas dan meningkatkan efektivitas kawasan konservasi, serta mengembangkan solusi berbasis alam seperti karbon biru untuk mitigasi perubahan iklim," ujar Trenggono.

Ia juga menekankan bahwa perlindungan laut membutuhkan kerja sama lintas negara agar setiap komitmen yang disepakati dapat diwujudkan melalui aksi nyata.

“Kami percaya bahwa tantangan laut bersifat lintas batas, sehingga membutuhkan kolaborasi global yang kuat. Indonesia siap memperdalam kemitraan dengan negara sahabat, organisasi internasional, dan seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat aksi nyata, dari komitmen menuju implementasi, demi menjaga laut tetap sehat dan produktif bagi generasi sekarang dan mendatang,”sambungnya.

Ocean calculator

Sebagai salah satu langkah implementasi, KKP bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia mengembangkan Ocean Calculator sejak 2024 melalui dukungan Pemerintah Australia dalam program KONEKSI. Platform ini dibangun menggunakan pendekatan Neraca Sumber Daya Laut (NSDL) untuk membantu menghitung nilai ekonomi ekosistem pesisir secara lebih cepat dan berbasis data.

Tak hanya memetakan kondisi mangrove, padang lamun, maupun terumbu karang, Ocean Calculator juga menyajikan informasi mengenai manfaat ekosistem tersebut terhadap perlindungan garis pantai, penyimpanan karbon biru, hingga kontribusinya bagi kehidupan masyarakat pesisir. Data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan bagi pemerintah maupun para pemangku kepentingan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara menjelaskan Ocean Calculator dikembangkan sebagai bagian dari pembangunan sistem ocean accounting yang mengintegrasikan informasi lingkungan dan ekonomi. Pernyataan tersebut dikutip dari laman resmi KKP pada Rabu (01/07/2026).

"Ocean Calculator dikembangkan sebagai bagian dari upaya membangun ocean accounting yakni sistem yang mengintegrasikan informasi lingkungan dan ekonomi untuk mendukung perencanaan pembangunan kelautan yang berkelanjutan. Kami berharap platform ini terus berkembang dan menjadi bagian dari penguatan kebijakan kelautan yang berbasis bukti ilmiah," kata Koswara.

Ocean Calculator telah melewati tahap uji coba pada Februari 2026 dan kini terintegrasi dengan Sistem Informasi Data Konservasi (SIDAKO) sehingga dapat diakses masyarakat sebagai pusat informasi data konservasi ekosistem di Indonesia.

Dukung ekonomi biru

Selain menyajikan informasi lingkungan, Ocean Calculator juga menerapkan pendekatan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI). Pendekatan ini membantu pengguna memahami keterkaitan antara kondisi ekosistem pesisir dengan masyarakat yang menggantungkan mata pencahariannya pada sumber daya laut sehingga diharapkan dapat mendorong pembangunan wilayah pesisir yang lebih inklusif.

Perwakilan Australia Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), Jacqui Lord, menilai keberadaan instrumen seperti Ocean Calculator menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tekanan terhadap kawasan pesisir akibat perubahan iklim maupun aktivitas manusia. Pernyataan tersebut dikutip dari laman resmi KKP pada Rabu (01/07/2026).

"Dengan semakin besarnya tekanan terhadap wilayah pesisir akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia, diperlukan instrumen yang mampu menilai manfaat ekosistem secara lebih komprehensif. Kami berharap Ocean Calculator dapat menjadi alat yang efektif untuk mendukung pengelolaan laut dan pesisir yang berkelanjutan di Indonesia," ujar Jacqui Lord.

Sementara itu, Country Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi menilai Ocean Calculator dapat menjadi sumber informasi yang komprehensif bagi pemerintah, akademisi, masyarakat, hingga sektor swasta untuk mendukung investasi dan pembangunan kawasan pesisir yang berkelanjutan.

Peluncuran platform ini memperlihatkan bahwa komitmen Indonesia di forum internasional tidak berhenti pada tataran kebijakan. Kehadiran Ocean Calculator menjadi salah satu instrumen yang diharapkan mampu membantu pemerintah mengambil keputusan berbasis data, sehingga perlindungan ekosistem laut dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pesisir. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Komitmen menjaga laut bukan cuma soal pidato di forum dunia. Lewat Ocean Calculator, data tentang mangrove, terumbu karang, padang lamun, hingga karbon biru kini bisa diolah menjadi dasar pengambilan kebijakan. Harapannya, laut Indonesia tidak hanya tetap lestari, tetapi juga memberi manfaat yang lebih besar bagi masyarakat secara berkelanjutan.

KKP Ocean Calculator Our Ocean Conference (OOC) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Infografis

Terkini