Anak Makin Akrab dengan AI? Ini 3 Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
astakom.com, Jakarta – AI kini bisa membantu anak belajar, mencari informasi, hingga mengembangkan ide. Namun, penggunaannya tetap perlu didampingi agar anak tidak sembarangan membagikan data pribadi, langsung mempercayai semua jawaban, atau bergantung pada chatbot saat menghadapi masalah.
Melansir keterangan resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada Minggu (11/10/2026), pemerintah bersama UNICEF membahas pelindungan anak dalam tata kelola AI. Pembahasan ini mencakup keselamatan, privasi, kesehatan mental, dan kesejahteraan anak.
UNICEF melalui panduan Guidance on AI and Children versi 3.0 yang terbit pada Desember 2025 juga menekankan pentingnya keamanan, pelindungan data, serta kesejahteraan anak dalam pengembangan dan penggunaan AI.
Lantas, apa saja yang perlu diperhatikan orang tua saat anak mulai menggunakan teknologi ini?
1. Ingatkan anak untuk menjaga data pribadi
Anak perlu memahami bahwa nama lengkap, alamat rumah, nama sekolah, nomor telepon, dan foto pribadi tidak boleh dibagikan sembarangan kepada layanan AI.
Orang tua bisa mendampingi anak memeriksa pengaturan privasi dan memahami informasi apa saja yang diminta oleh layanan tersebut. Pastikan juga penggunaannya sesuai dengan ketentuan usia yang berlaku.
2. Jangan langsung percaya semua jawaban AI
AI dapat membantu anak memahami pelajaran, tetapi jawabannya belum tentu selalu benar. Karena itu, biasakan anak membandingkan informasi dari AI dengan buku pelajaran, penjelasan guru, atau situs resmi.
UNICEF melalui artikel Skills for an AI World pada 2 Februari 2026 juga menyoroti pentingnya keterampilan anak untuk menggunakan AI secara aman sekaligus mempertahankan kemampuan berpikir kritis.
Dengan begitu, AI bisa menjadi alat bantu belajar, bukan pengganti proses memahami materi secara mandiri.
3. Perhatikan interaksi anak dengan chatbot
Chatbot AI dapat memberikan respons yang terasa ramah dan personal. Namun, anak perlu memahami bahwa chatbot bukan manusia dan tidak selalu mampu memberikan saran yang tepat.
Dalam kajian When AI Becomes a Friend yang diterbitkan pada Juni 2026, UNICEF menyoroti risiko chatbot dan AI pendamping terhadap hak, keselamatan, serta kesejahteraan anak.
Orang tua sebaiknya membangun komunikasi terbuka agar anak nyaman bercerita tentang pengalamannya menggunakan AI. Jika anak menghadapi masalah emosional yang serius, arahkan mereka mencari dukungan dari orang tua, guru tepercaya, atau tenaga profesional. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
AI bisa membantu anak belajar dan berkreasi, tetapi tetap perlu digunakan dengan bijak. Orang tua dapat memulainya dengan mengajarkan cara menjaga data pribadi, memeriksa kebenaran informasi, dan memahami batasan chatbot. Tujuannya bukan sekadar membatasi teknologi, melainkan membekali anak agar lebih aman, kritis, dan bertanggung jawab saat menggunakannya.









