El Nino Sangat Kuat dan IOD Positif Hambat Pertumbuhan Awan Hujan di Sejumlah Wilayah Indonesia
astakom.com, Jakarta – Cuaca kering masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia pada Oktober 2026. Berdasarkan keterangan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 08/10/2026, fenomena El Niño sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif turut menghambat pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Meski begitu, hujan lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah akibat dinamika atmosfer lokal. Dalam prakiraan cuaca periode 9–15 Oktober 2026, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta cuaca ekstrem.
Curah hujan rendah masih mendominasi
Pemantauan BMKG pada Dasarian III September 2026 menunjukkan 70,59% wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah. Sebanyak 27,48% masuk kategori menengah, sedangkan 1,93% lainnya mengalami curah hujan kategori tinggi.
Pada September 2026, indeks IOD tercatat positif sebesar +0,72. Sementara itu, anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 mencapai +2,70 pada periode Juli–September 2026, yang mengindikasikan El Niño masih berlangsung dengan intensitas sangat kuat.
Kondisi kering diperkirakan berlanjut pada Dasarian II Oktober 2026. BMKG memprakirakan 66,09% wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah, yakni 0–50 milimeter per dasarian.
Wilayah yang berpotensi mengalami kondisi tersebut meliputi sebagian besar Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian tengah hingga selatan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua.
Hujan lebat masih mengintai sejumlah daerah
Meski kemarau masih mendominasi, hujan tetap berpeluang turun akibat aktivitas gelombang atmosfer, pertemuan angin, serta suhu muka laut yang relatif hangat. Faktor-faktor tersebut dapat mendukung pembentukan awan hujan secara lokal.
Pada 1–4 Oktober 2026, BMKG mencatat curah hujan harian mencapai 91 milimeter di Sumatera Utara, 69 milimeter di Sumatera Barat, 67 milimeter di Aceh, dan 54 milimeter di Jawa Barat.
Untuk periode 9–11 Oktober 2026, potensi hujan lebat hingga sangat lebat berstatus Siaga berlaku di Sumatera Utara, Bengkulu, dan Jawa Barat. Sementara itu, angin kencang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Maluku.
Pada 12–15 Oktober 2026, status Siaga hujan lebat hingga sangat lebat diprakirakan berlaku di Aceh, Sumatera Utara, dan Papua Pegunungan. Potensi angin kencang juga perlu diwaspadai di beberapa daerah, termasuk Lampung, Banten, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan.
BMKG ingatkan risiko karhutla
Kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah yang sudah lama tidak diguyur hujan.
Berdasarkan pemantauan pada Rabu, (07/10/2026), BMKG mendeteksi 531 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Papua dan Maluku, 364 titik di Kalimantan, serta 340 titik di Sumatera. Sebaran asap juga terpantau di sejumlah wilayah melalui citra satelit Himawari.
BMKG mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air dan tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga disarankan menjaga kecukupan cairan tubuh saat beraktivitas di luar ruangan serta mewaspadai hujan lebat, petir, dan angin kencang.
Informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini dapat dipantau melalui situs resmi bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg. (deA/RaM)
Gen Z Takeaway
El Niño sangat kuat dan IOD positif bikin cuaca kering masih mendominasi sejumlah wilayah. Namun, hujan lebat dan angin kencang tetap bisa terjadi secara lokal. Jadi, jangan lengah: hemat air, hindari pembakaran lahan, dan pantau update cuaca BMKG.









