Kemenkes Ajak Masyarakat Rangkul Neurodivergent dan Hapus Stigma Kesehatan Jiwa

Editor: Henni Rachma Sari
Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:07 WIB
Kemenkes Ajak Masyarakat Rangkul Neurodivergent dan Hapus Stigma Kesehatan Jiwa
Ilustrasi Tenaga Kesehatan jaga pasien. (Ilustrasi/Pexels)

astakom.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengajak masyarakat dan keluarga untuk mengubah cara pandang terhadap kesehatan jiwa serta menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi individu neurodivergent atau individu dengan keragaman cara kerja otak. Peran keluarga dinilai sangat vital dalam menerima, memahami, dan mendukung mereka agar bisa tumbuh maksimal sesuai potensinya.

Komitmen ini ditegaskan dalam Temu Media bertema "Sehat Jiwaku, Unik Caraku: Keluarga Merangkul, Kesehatan Jiwa Terjaga, Neurodivergent Berdaya" di Gedung Adhyatma Kemenkes, Jakarta, Jumat (09/10/2026). Acara ini digelar sekaligus untuk memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (10 Oktober), Bulan Peduli Disleksia, dan Bulan Kesadaran ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Tingginya angka depresi anak muda dan fenomena pemasungan

Isu kesehatan jiwa masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa gangguan jiwa menjadi penyebab kedua terbesar hilangnya tahun hidup sehat akibat disabilitas.

  • Prevalensi Depresi: Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi pada usia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen (sekitar 2,5–3 juta orang). 
  • Kesenjangan Layanan: Dari angka tersebut, baru 12,7 persen yang tersentuh pengobatan. Beban tertinggi depresi berada pada kelompok anak muda usia 15–24 tahun. 
  • Tantangan Pemasungan: Kemenkes mencatat per triwulan III 2026, masih ada 2.365 warga yang mengalami pemasungan akibat gangguan jiwa berat seperti skizofrenia. 

Di sisi lain, kondisi neurodivergent seperti ADHD dan disleksia ditegaskan bukanlah bentuk kemalasan, kekurangan, atau salah pola asuh, melainkan murni keunikan variasi cara kerja otak. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, dr. Imran Pambudi, mengingatkan agar orang tua tidak melakukan denial atau doctor shopping yang malah membuat penanganan terlambat.

Perluas layanan Puskesmas hingga fitur healing119

Guna memperkecil kesenjangan penanganan, Kemenkes terus memperkuat infrastruktur layanan kesehatan dari tingkat dasar:

  • Puskesmas Siap Layanan Jiwa: Sebanyak 6.549 puskesmas (64% dari total puskesmas) kini mampu melayani kesehatan jiwa, dengan target 100% dalam dua tahun ke depan. Sebanyak 932 puskesmas juga telah disiapkan ramah disabilitas. 
  • Skriening Massal: Lewat Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Antenatal Care (ANC), Kemenkes telah menykrining 71,86 juta penduduk di atas 7 tahun. Indikasi depresi tertinggi ditemukan pada kelompok ibu hamil/nifas (7,1%) dan usia sekolah/remaja (2,3%). 
  • Layanan Krisis: Fitur krisis Healing119.id telah diakses oleh lebih dari 284.916 pengguna via telepon dan perpesanan daring. 

Pakar psikiatri FKUI/RSCM dr. Hervita Diatri serta Konsultan Neurologi Anak FK Unpad/RSHS dr. Purboyo Solek menekankan pentingnya integrasi pengobatan, psikoterapi, serta supporting system antara keluarga dan sekolah. Hal ini penting agar individu neurodivergent tidak rentan terkena bullying, kecemasan, hingga depresi berat. (RaM)

Gen Z Takeaway

Edukasi soal kesehatan jiwa dan neurodiversity ini bener-bener important banget buat kita semua! Jangan sampai ada lagi stigma atau sikap denial yang bikin temen-temen ADHD, disleksia, atau yang lagi struggle sama depresi merasa isolated. Mulai dari lingkup keluarga sampai sekolah, kita wajib ciptain safe space yang inklusif biar setiap individu bisa tetap valid, diterima keunikannya, dan bisa grow maksimal tanpa takut kena judgment.

Kementerian Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) Kesehatan Jiwa

Infografis

Terkini