Spill Museum Lubang Buaya: Lokasi, Sejarah, Asal Usul Nama, hingga Isi di Dalamnya
astakom.com, Jakarta - Museum Lubang Buaya jadi salah satu lokasi bersejarah yang paling lekat dengan peristiwa politik dan militer Indonesia pada 1965. Berada di Jakarta Timur, kawasan ini nggak cuma menyimpan museum dan diorama, tetapi juga sumur tua, rumah bersejarah, sampai Monumen Pancasila Sakti yang setiap 1 Oktober jadi lokasi utama upacara Hari Kesaktian Pancasila.
Menariknya, nama Lubang Buaya ternyata sudah ada jauh sebelum peristiwa 1965 terjadi. Jadi, bukan karena sumur tempat ditemukannya jenazah para perwira TNI kemudian kawasan itu disebut Lubang Buaya. Tapi, nama itu lebih dulu digunakan sebagai nama wilayah.
Lalu, Museum Lubang Buaya ada di mana, bagaimana sejarahnya, dan apa saja yang bisa dilihat di sana?
Museum lubang buaya ada di mana?
Museum yang populer disebut Museum Lubang Buaya ini berada di kawasan Kompleks Monumen Pancasila Sakti, Jalan Raya Pondok Gede, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, DKI Jakarta. Kompleks tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat nasional.
Secara geografis, kawasan ini nggak jauh dari Lanud Halim Perdanakusuma. Pada 1965, wilayah Lubang Buaya belum seperti sekarang. Kawasannya masih relatif sepi, berupa kebun dan hutan dengan permukiman yang belum padat. Kondisi itu membuat kawasan ini digunakan dalam rangkaian peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Saat ini, kawasan tersebut telah berubah menjadi kompleks wisata sejarah dan edukasi. Pengunjung nggak cuma menemukan museum, tetapi juga beberapa titik penting yang berkaitan dengan peristiwa 1965.
Kenapa namanya lubang buaya?
Banyak banget orang yang mengira nama Lubang Buaya muncul gara-gara sumur tempat ditemukannya jenazah para perwira TNI. Padahal, nama Lubang Buaya sudah digunakan sebelum peristiwa 1965.
Lubang Buaya merupakan nama wilayah sekaligus nama jalan di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Jadi, sumur tua yang menjadi lokasi ditemukannya jenazah berada di kawasan yang memang sejak sebelumnya sudah dikenal sebagai Lubang Buaya.
Lalu dari mana nama tersebut berasal? Ada beberapa versi cerita masyarakat. Salah satu versi yang banyak dikutip menyebutkan kisah seorang tokoh bernama Datuk Banjir atau Pangeran Syarif.
Dalam cerita itu, kawasan yang dahulu masih daerah rawa dan dialiri sungai disebut punya banyak buaya. Bahkan berkembang kepercayaan mengenai keberadaan buaya putih yang dianggap sebagai penjaga kawasan.
Sementara itu, keterangan dalam data cagar budaya mengenai Sumur Lubang Buaya juga memuat cerita turun-temurun mengenai keberadaan buaya di sekitar sungai. Dalam perkembangannya, nama Lubang Buaya kemudian melekat sebagai nama wilayah, jauh sebelum tragedi 1965.
Artinya, jangan sampai terbalik: bukan karena peristiwa G30S kawasan tersebut dinamakan Lubang Buaya. Justru kawasan yang sudah bernama Lubang Buaya itulah yang kemudian menjadi lokasi penting dalam peristiwa 1965.
Sejarah museum lubang buaya
Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, kawasan Lubang Buaya kemudian menjadi salah satu lokasi yang sangat penting dalam narasi sejarah Indonesia.
Pada 1 Oktober 1965, sejumlah perwira Angkatan Darat menjadi korban penculikan dan pembunuhan. Jenazah mereka kemudian ditemukan di sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya.
Tujuh korban yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi adalah:
- Letjen Ahmad Yani,
- Mayjen R. Suprapto,
- Mayjen M.T. Haryono,
- Mayjen S. Parman,
- Brigjen D.I. Panjaitan,
- Brigjen Sutoyo Siswomiharjo,
- Lettu Pierre Tendean.
Untuk mengenang jasa pahlawan, pemerintah lalu membangun kawasan memorial buat mengenang peristiwa itu. Selain itu, para Pahlawan Revolusi tersebut masing-masing mendapat kenaikan pangkat anumerta satu tingkat.
Di dalam perkembangannya berdiri Monumen Pancasila Sakti, Museum Pengkhianatan PKI, Museum Paseban, serta berbagai bangunan dan koleksi sejarah lainnya.
Menurut Pusat Sejarah TNI, Museum Monumen Pancasila Sakti di Gedung Paseban menyajikan sembilan diorama yang menggambarkan rangkaian peristiwa dari persiapan gerakan hingga tindak lanjut pelarangan PKI. Sejarah TNI
Sementara Museum Pengkhianatan PKI di kompleks tersebut diresmikan pada 1 Oktober 1992 dan menyajikan 34 diorama tiga dimensi mengenai berbagai peristiwa yang dalam narasi museum berkaitan dengan sejarah PKI dan G30S. detiknews
Karena itu, istilah Museum Lubang Buaya sebenarnya cukup populer untuk menyebut keseluruhan kawasan. Di dalamnya terdapat beberapa museum dan situs sejarah dengan fungsi berbeda.
Ada apa saja di museum lubang buaya?
Kalau datang ke sini, pengunjung tidak cuma melihat satu gedung museum. Ada beberapa titik yang menarik untuk dilihat.
1. Sumur lubang buaya
Inilah bagian yang paling identik dengan kawasan tersebut. Sumur tua ini menjadi lokasi ditemukannya jenazah tujuh Pahlawan Revolusi setelah peristiwa 1965. Data cagar budaya mencatat Sumur Lubang Buaya sebagai struktur cagar budaya tingkat nasional.
Sumur itu punya kedalaman sekitar 12 meter dengan diameter sekitar 75 sentimeter. Saat ini kawasan sumur telah ditata sebagai situs memorial yang dapat dikunjungi.
Bagi pengunjung, tempat ini menjadi salah satu titik paling kuat untuk memahami bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk buku atau foto. Ada lokasi fisik yang masih bisa dilihat sampai sekarang.
2. Monumen Pancasila Sakti
Di kompleks tersebut berdiri Monumen Pancasila Sakti yang menjadi ikon kawasan. Monumen ini menampilkan patung tujuh Pahlawan Revolusi serta relief yang menggambarkan rangkaian peristiwa sejarah.
Monumen tersebut dibangun sebagai tempat untuk mengenang para korban sekaligus memperingati Pancasila.
3. Museum Pengkhianatan PKI
Museum ini berisi rangkaian diorama yang menggambarkan sejumlah peristiwa sejarah terkait PKI, termasuk pemberontakan Madiun 1948, rangkaian peristiwa 1965, hingga proses hukum terhadap sejumlah tokoh yang terlibat.
Museum Pengkhianatan PKI sendiri diresmikan pada 1 Oktober 1992 dan memiliki 34 diorama tiga dimensi.
Bagian ini juga penting untuk dibaca sebagai narasi sejarah yang disusun oleh museum pada masanya, sehingga pengunjung yang ingin mempelajari sejarah 1965 secara lebih lengkap tetap dapat membandingkannya dengan arsip, penelitian sejarah, dan sumber lain.
4. Museum Paseban dan diorama
Museum Monumen Pancasila Sakti yang berada di Gedung Paseban menyajikan sembilan diorama. Pusat Sejarah TNI menyebut diorama ini menggambarkan berbagai tahapan peristiwa, mulai dari rapat persiapan gerakan, latihan sukarelawan di Lubang Buaya, penculikan Ahmad Yani, peristiwa di Lubang Buaya, pengamanan Halim, pengangkatan jenazah, hingga tindak lanjut pelarangan PKI.
Diorama menjadi salah satu bagian yang cukup menarik karena pengunjung bisa melihat visualisasi peristiwa sejarah dalam bentuk tiga dimensi, bukan hanya membaca teks.
5. Rumah Penyiksaan
Di dalam kompleks juga terdapat bangunan yang dikenal sebagai Rumah Penyiksaan. Tempat ini menampilkan adegan penyiksaan para Pahlawan Revolusi melalui patung-patung berukuran manusia.
Bangunan tersebut menjadi bagian dari situs sejarah yang dipertahankan untuk memberikan gambaran mengenai peristiwa yang terjadi di kawasan tersebut.
6. Rumah Pos Komando
Ada pula rumah yang dikenal sebagai Pos Komando. Menurut Pusat Sejarah TNI, kompleks tersebut mempertahankan tiga rumah bersejarah yang pernah digunakan dalam rangkaian peristiwa 1965, yaitu rumah penyiksaan, rumah pos komando, dan dapur umum.
Menariknya, sejumlah benda di dalam bangunan tersebut juga masih dipertahankan. ANTARA pernah melaporkan bahwa beberapa benda seperti lemari dan mesin jahit masih merupakan benda asli, meskipun sebagian material bangunan telah mengalami perubahan.
7. Dapur umum
Bangunan lain yang bisa ditemukan adalah dapur umum. Rumah tersebut dahulu digunakan sebagai tempat menyiapkan kebutuhan logistik bagi kelompok yang berada di kawasan tersebut. Bangunan dan beberapa bagian interiornya dipertahankan sebagai bagian dari situs sejarah.
8. Ruang relik
Buat yang ingin melihat benda-benda peninggalan yang berkaitan langsung dengan para Pahlawan Revolusi, ada Ruang Relik. Salah satu koleksinya berupa pakaian asli milik tujuh Pahlawan Revolusi. Selain itu, kompleks tersebut juga menyimpan berbagai benda sejarah lain.
9. Kendaraan bersejarah
Jangan kira isinya cuma patung dan foto. Di kawasan Monumen Pancasila Sakti juga dipamerkan sejumlah kendaraan yang berkaitan dengan sejarah peristiwa tersebut, termasuk Panser Saraceen, replika truk Dodge, Jeep Toyota Kanvas, serta kendaraan dinas yang dikaitkan dengan Jenderal Ahmad Yani dan Pangkostrad.
Bagian ini cukup menarik karena kendaraan tersebut memberikan gambaran lain mengenai bagaimana proses evakuasi dan mobilitas militer pada masa itu berlangsung.
Hal menarik dari museum lubang buaya
Kalau dibedah lebih jauh, ada beberapa hal yang membuat kawasan ini berbeda dari museum sejarah biasa.
- Pertama, museum dan situs sejarahnya berada di lokasi peristiwa, bukan sekadar memajang benda yang dibawa dari tempat lain.
- Kedua, pengunjung bisa melihat sumur tua, rumah penyiksaan, pos komando, dapur umum, museum, diorama, relik, sampai kendaraan dalam satu kawasan. Jadi, pengalaman kunjungannya cukup lengkap.
- Ketiga, kawasan ini bukan cuma menjadi destinasi wisata sejarah. Status Kompleks Monumen Pancasila Sakti sebagai cagar budaya tingkat nasional menunjukkan bahwa tempat tersebut juga dipandang memiliki nilai penting dalam pelestarian sejarah Indonesia.
Dan yang paling menarik, ada satu hal yang sering luput: nama Lubang Buaya bukanlah nama yang lahir dari peristiwa 1965. Nama itu sudah digunakan masyarakat jauh sebelumnya. Peristiwa sejarah kemudian membuat nama itu punya makna baru dan sangat kuat dalam ingatan publik. (hPs/aNs)
Gen Z Takeaway
Spill Museum Lubang Buaya di Jakarta Timur bukan cuma tempat buat melihat patung atau membaca kronologi sejarah. Di kawasan ini, pengunjung bisa melihat langsung sejumlah situs yang berkaitan dengan peristiwa 1965, mulai dari Sumur Lubang Buaya, Monumen Pancasila Sakti, Museum Pengkhianatan PKI, Museum Paseban, rumah penyiksaan, pos komando, dapur umum, ruang relik, hingga kendaraan bersejarah. Nama Lubang Buaya juga nggak muncul karena peristiwa G30S. Nama wilayah itu dikenal sebelum 1965 dan memiliki beberapa versi cerita mengenai asal-usulnya, termasuk kisah masyarakat tentang keberadaan buaya di sekitar sungai dan rawa. Sementara itu, setiap 1 Oktober kawasan ini kembali menjadi pusat perhatian karena digunakan untuk upacara Hari Kesaktian Pancasila. Dengan begitu, Lubang Buaya nggak cuma nama sebuah kawasan di Jakarta Timur, tetapi sudah menjadi bagian dari memori sejarah Indonesia yang terus dipelajari dari generasi ke generasi.









