Kemenkes Ingatkan Warga Tak Panic Buying Oseltamivir di Tengah Influenza Naik
astakom.com, Jakarta – Kasus influenza yang meningkat sejak September 2026 ikut membuat perhatian masyarakat tertuju pada Oseltamivir. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan warga agar tidak ikut-ikutan membeli atau mengonsumsi antivirus tersebut tanpa resep dan penilaian medis.
Imbauan itu disampaikan Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalucia dalam unggahan Kemenkes, melansir pada Rabu (30/09/2026).
Kemenkes menjelaskan bahwa sebagian besar kasus influenza dapat membaik dengan perawatan mandiri, seperti beristirahat cukup dan menjaga asupan cairan. Jadi, meningkatnya kasus influenza tidak otomatis membuat seluruh pasien membutuhkan Oseltamivir.
Oseltamivir bukan obat untuk berjaga-jaga
Lucia menegaskan Oseltamivir tidak ditujukan untuk dikonsumsi masyarakat secara massal sebagai langkah berjaga-jaga ketika influenza sedang meningkat.
“Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau diminum untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis,” tegas Lucia.
Penggunaan antivirus tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi pasien. Kemenkes juga mengingatkan masyarakat tidak menentukan sendiri apakah dirinya membutuhkan Oseltamivir karena keputusan terapi tetap memerlukan pemeriksaan dan pertimbangan tenaga kesehatan.
Pasien influenza dengan kondisi berat, termasuk yang membutuhkan perawatan di rumah sakit atau bantuan oksigen, menjadi kelompok yang mendapat perhatian dalam pemberian antivirus.
Antivirus juga dapat dipertimbangkan bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi, seperti anak di bawah lima tahun, lansia di atas 65 tahun, ibu hamil, orang dengan penyakit penyerta, serta pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Jangan asal minum dan ubah dosis
Ahli Farmakologi Dewi Selvina Rosdiana turut mengingatkan masyarakat agar penggunaan Oseltamivir tetap mengikuti indikasi medis. Kelompok yang menjadi prioritas terapi antivirus mencakup pasien influenza yang membutuhkan rawat inap, mengalami kondisi berat atau komplikasi, serta orang yang memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi.
Masyarakat pun diminta tidak membeli atau menyimpan Oseltamivir tanpa resep dokter. Obat yang diresepkan untuk orang lain juga tidak seharusnya digunakan sendiri.
Begitu pula dengan dosis. Masyarakat tidak dianjurkan menggandakan dosis maupun menghentikan atau melanjutkan terapi tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
Penggunaan antivirus yang tidak sesuai indikasi dalam jangka panjang juga dapat meningkatkan risiko munculnya virus influenza yang kurang sensitif terhadap obat atau mengalami resistensi.
Selain itu, manfaat Oseltamivir pada influenza tanpa komplikasi tidak selalu besar. Dalam studi meta-analisis terhadap sekitar 2.500 anak rawat jalan dengan influenza tanpa komplikasi yang dipaparkan Dewi, obat tersebut rata-rata memperpendek durasi sakit sekitar 18 jam dibandingkan plasebo.
Manfaat itu terutama terlihat ketika obat diberikan kurang dari 24 jam sejak gejala awal pada anak berusia di bawah enam tahun tanpa riwayat asma. Penelitian yang sama juga menunjukkan risiko muntah pada anak yang menggunakan Oseltamivir sekitar 1,6 kali lebih tinggi.
Pasokan Oseltamivir tetap disiapkan
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap influenza, Kemenkes memastikan kebutuhan Oseltamivir untuk pasien yang memang membutuhkan tetap disiapkan. Obat tersebut telah didistribusikan ke 196 rumah sakit, sementara pemerintah masih mengupayakan tambahan pasokan.
Kebutuhan obat akan dihitung berdasarkan data surveilans dan kondisi pasien. Dengan mekanisme tersebut, distribusi diarahkan kepada pasien yang memiliki kebutuhan medis, bukan mengikuti lonjakan pembelian masyarakat.
“Setiap tablet akan diarahkan kepada pasien yang paling membutuhkan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan,” ujar Lucia.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan antibiotik untuk mengatasi influenza secara sembarangan. Antibiotik baru diperlukan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi sekunder yang disebabkan bakteri.
Untuk pencegahan, masyarakat dapat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker ketika sedang sakit atau berada di tempat ramai. Vaksinasi influenza tahunan juga dapat menjadi salah satu pilihan pencegahan, terutama bagi kelompok yang berisiko mengalami komplikasi. (deA/RaM)
Gen Z Takeaway
Influenza lagi naik bukan berarti semua orang perlu Oseltamivir. Jangan panic buying atau asal minum antivirus. Kalau bergejala, konsultasikan kondisi ke tenaga kesehatan agar obat yang digunakan memang sesuai kebutuhan.









