Rupiah Tembus Rp18.000, BI Beberkan Biang Keladinya

Penulis: Shintya
Editor: Henni Rachma Sari
Selasa, 29 September 2026 | 17:32 WIB
Rupiah Tembus Rp18.000, BI Beberkan Biang Keladinya
Rupiah Tembus Rp18 Ribu, BI Gaspol Triple Intervention! (Bank Indonesia)

astakom.com, Jakarta - Pada hari ini, Selasa (29/09/2026) nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) atau USD, yaitu menembus psikologis baru di level Rp18.000 per USD. 

Berdasarkan data dari Bloomberg pada pagi ini, rupiah terkoreksi 24 poin atau 0,13 persen ke level Rp18.002 per USD. 

Kondisi ini tentu bikin sebagian pelaku pasar sedikit ketar-ketir. Tapi, apa sih sebenarnya akar masalah di balik pelemahan mata uang Garuda ini?

Minyak dunia naik picu sentimen global

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea spill soal tekanan yang menghantam mata uang Garuda. Menurutnya, masalah ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal yang cukup pelik.

Hal ini dipicu oleh perpaduan situasi yang terjadi kayak inflasi global, lonjakan harga energi dunia, hingga siklus kebutuhan valuta asing (valas) domestik.

"Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas USD108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz," kata Erwin dalam keterangannya, dikutip astakom.com pada Selasa (29/09/2026).

Minyak dunia naik

Harga minyak mentah yang terpantau mengalami kenaikan tinggi dan fluktuasi tersebut langsung memperkuat ekspektasi kalau bank sentral AS bakal makin ketat dalam menerapkan kebijakan moneternya. 

Alhasil, imbal hasil (yield) US Treasury (UST) tenor 10 tahun melesat ke posisi 5,23 persen, yang menjadi level tertinggi sejak 2007.

Lonjakan ini otomatis memicu arus modal keluar (outflow) dari portofolio negara-negara emerging markets.

Aksi borong valas

Nggak cuma faktor luar negeri, tekanan domestik juga ikut memperkeruh suasana pasar keuangan. Kebutuhan operasional korporasi membuat likuiditas valas kian ketat.

"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," kata Erwin.

Triple intervention

Merespons tembusnya level Rp18 ribu per USD tersebut, Bank Indonesia langsung pasang badan. BI menegaskan komitmen penuh untuk mengawal stabilitas pasar valas secara konsisten lewat jurus andalan mereka, yakni triple intervention.

"Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," ungkap Erwin.

Perkuat strategi moneter

Selain hadir langsung di pasar, bank sentral juga memperkuat efektivitas stabilisasi lewat peningkatan insentif instrumen finansial guna menyerap pendanaan luar negeri secara pro-market.

"Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya," ungkap Erwin.

"Selain itu, Bank Indonesia mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market. Efektivitas stabilisasi nilai tukar juga diperkuat dan kecukupan likuiditas dijaga dengan meningkatkan insentif untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai kepada Bank Indonesia dalam rangka pendanaan luar negeri," ujarnya.

Fondasi ekonomi masih solid

Di tengah gelombang tekanan global yang cukup heavy, performa rupiah secara umum sebenarnya masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan regional. Tingkat pelemahannya tercatat masih relatif terbatas sebesar 0,67 persen secara quarter-to-date (qtd).

Bantalan ekonomi nasional juga dipastikan tetap kokoh. Hal ini ditopang oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat hingga menyentuh USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. Jadi, walau situasi finansial sedang naik turun, fondasi ekonomi kita tetap kuat dan aman. (Shnty/RaM)

Gen Z Takeaway

Rupiah memang lagi kena pressure sampai menyentuh Rp18 ribu per USD, tapi bukan berarti ekonomi Indonesia auto goyah. Tekanan datang dari kombinasi harga minyak dunia yang naik, ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat, outflow pasar emerging, plus kebutuhan valas importir. BI juga nggak tinggal diam dan terus menjalankan triple intervention, sementara cadangan devisa masih solid di USD146,5 miliar. Jadi, situasinya memang perlu dipantau, tapi belum berarti fondasi ekonomi nasional ikut ambyar.

Bank Indonesia (BI) Kebijakan Moneter triple intervention Rupiah Melemah Kurs Rupiah nilai tukar rupiah

Infografis

Terkini