Kredit Rp2.548 Triliun Nganggur di Bank, BI Spill Sektor Swasta Mulai Bergerak

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 25 September 2026 | 17:29 WIB
Kredit Rp2.548 Triliun Nganggur di Bank, BI Spill Sektor Swasta Mulai Bergerak
Kredit Rp2.548 Triliun Nganggur di Bank, BI Spill Sektor Swasta Mulai Bergerak [Dok. Menkeu RI]

astakom.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat ada fasilitas kredit perbankan yang udah disetujui tapi belum ditarik sama debitur alias undisbursed loan yang jumlahnya masih numpuk di level tinggi. Angkanya nggak main-main, nembus sekitar Rp2.548 triliun per Juli 2026.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, ngejelasin kalau fenomena kredit yang masih stuck ini terjadi gara-gara kombinasi dinamika dari pilar permintaan (demand) maupun penawaran (supply) di industri perbankan.

"Kita memang melihat Rp2.500an (triliun) itu relatifly flat. Angkanya di situ dan memang kalau kita lihat kenapa undisbursed loan-nya seperti itu Rp2.500an triliun, kan ada dua sisi, sisi supply sama sisi demand," kata Destry dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, dikutip astakom.com pada Jumat (25/09/2026).

Sektor swasta mulai bergeliat

Destry meyakinkan publik kalau BI bareng Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bakal terus stay tuned dan pihaknya berkomitmen buat terus memantau pergerakan dana raksasa yang masih mengendap tersebut atau undisbursed loan.

Dari pilar permintaan, laju pertumbuhan kredit sampai kuartal II-2026 sebelumnya memang masih didominasi sama proyek-proyek pemerintah (government led). Meski begitu BI mulai ngeliat adanya pergeseran tren di mana dunia usaha swasta mulai menunjukkan vibes positif buat bangkit dan aktif ngajuin pinjaman.

Alasan tahan BI Rate

Geliat positif dari sektor swasta ini bikin Bank Indonesia optimis dalam pertimbangannya untuk menahan suku bunga acuan (BI Rate).

"Tapi data terakhir, kita melihat sektor swasta itu sudah mulai bergerak. Sudah mulai bergerak naik,” ujarnya.

“Jadi artinya dari sisi demand-nya, itu sudah mulai ada. Geliat untuk melakukan kredit," ungkap Gubernur BI Destry.

Permintaan pasar landai

Perkembangan ini yang akhirnya jadi pertimbangan krusial buat bank sentral dalam menetapkan kebijakan moneter terbaru.

"Nah, inilah yang membuat kenapa juga kami kemarin menahan suku bunga, ya, BI Rate kami, karena kami melihat ini ada potensi, tegasnya.

Di sisi lain, kalau dilihat dari pilar penawaran, appetite alias minat bank dalam melempar kredit sempat agak tertahan lantaran permintaan pasar yang mulai landai.

Alokasi likuiditas

Efeknya, perbankan memilih buat main aman dengan mengalokasikan likuiditas mereka ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Nah, kita melihat memang banyak bank instead of, karena demand-nya juga kemarin masih agak lemah, instead of menyalurkan kredit, dia menempatkan pada surat-surat berharga, baik itu SBN ataupun SRBI," kata Destry. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Kredit Rp2.548 triliun yang sudah disetujui tapi belum ditarik debitur masih nongkrong di perbankan. BI melihat kondisi ini terjadi karena demand kredit yang sebelumnya masih lemah dan bank yang memilih menaruh likuiditasnya di SBN maupun SRBI. Tapi sekarang sektor swasta mulai menunjukkan geliat dan mulai aktif mencari pembiayaan, sehingga BI melihat ada potensi kredit kembali bergerak.

Kredit Perbankan Bank Indonesia (BI) SBN SRBI Gubernur BI Destry Damayanti

Infografis

Terkini