Penjelasan Ilmiah Mengapa Korban KM Arupadhatu 1 Ditemukan Hingga Pulau Enggano
astakom.com, Jakarta - Teridentifikasinya satu jenazah atas nama Surakman, ABK Kapal Motor (KM) Arupadhatu 1 yang hilang kontak saat membawa rombongan jurnalis di kawasan Selat Sunda, menjadi petunjuk oseanografis yang sangat penting. Ditemukannya korban hingga ke Pulau Enggano, Bengkulu, memberikan gambaran nyata mengenai seberapa jauh dinamika perairan dapat membawa benda atau tubuh yang mengapung di laut lepas.
Meskipun Pulau Enggano berada jauh di sebelah barat laut kawasan Anak Krakatau, perpindahan tersebut secara fisik sangat memungkinkan. Dr. Daryono, anggota Ikatan Ahli Oseanografi Indonesia (IABI), menjelaskan bahwa laut bukanlah perairan yang diam. Benda terapung akan terus mengalami hanyutan akibat gabungan dari arus laut, pasang-surut, angin, hingga gelombang.
Mendorong Transport Massa Air ke Samudra Hindia
Selat Sunda merupakan pintu pertukaran massa air antara Laut Jawa dan Samudra Hindia dengan karakteristik arus yang sangat dinamis. Daryono memaparkan bahwa dlm skala jam, pasang-surut bahkan dapat membalik arah arus.
Namun, dalam skala waktu yang lebih panjang terdapat arus residu atau transport netto—yaitu arah perpindahan air yang tersisa setelah gerakan bolak-balik akibat pasang-surut dirata-ratakan dalam periode tertentu.
"Pada periode monsun tenggara, termasuk sekitar Juni - September, kecenderungan ekspor massa air dari Laut Jawa melalui Selat Sunda menuju Samudra Hindia menguat. Penelitian berbasis HF Radar juga menunjukkan bahwa arus residu di Selat Sunda dapat bergerak ke arah barat daya," ungkap Daryono dikutip akun instgram pribadinya, Jumat (25/09/2026).
Apabila objek atau seseorang dari kawasan Anak Krakatau telah masuk ke aliran yang mengarah keluar Selat Sunda, ia dapat tertransport menuju perairan Samudra Hindia. Lintasannya kemudian mjd semakin kompleks krn mulai berinteraksi dengan sistem sirkulasi yang lebih luas di perairan barat Sumatra dan selatan Jawa. Pada musim tenggara, sirkulasi di sepanjang pantai tersebut juga mengalami perubahan musiman yang dapat mendukung transport ke arah barat.
Kompleksitas Arus, Windage, dan Stokes Drift
Daryono menegaskan bahwa pengaruh angin perlu dibedakan dari arus laut. Arus mengangkut benda bersama massa air (adveksi), sedangkan angin memberikan dorongan tambahan terhadap bagian benda yang berada di atas permukaan laut (windage).
Pengaruh angin sangat tergantung pada karakter objek. Kapal, serpihan kapal, pelampung, dan tubuh manusia tidak mempunyai respons hanyutan yg sama karena luas bagian yg muncul di atas air, daya apung, dan hambatan terhadap angin berbeda.
Selain itu, faktor gelombang turut memegang peranan melalui mekanisme Stokes drift.
"Gelombang tidak hanya mengombang-ambingkan benda, tetapi juga dapat sedikit demi sedikit mendorongnya berpindah. Karena itu, arah hanyutan suatu objek di laut tidak selalu identik dengan arah arus yang diukur pada satu titik," terang Daryono.
Lintasan akhir dari benda terapung merupakan resultan dari arus laut, arus pasang-surut, dorongan angin, Stokes drift gelombang, serta kondisi daya apung objek itu sendiri.
Faktor topografi Selat Sunda kian memperrumit keadaan. Keberadaan pulau-pulau seperti Krakatau, Sebesi, Sebuku, dan Sertung, penyempitan selat, serta variasi kedalaman dasar laut dapat membelokkan dan mempercepat arus serta membentuk pusaran atau arus balik lokal.
Akibatnya, dua benda yang awalnya berada berdekatan dapat memiliki lintasan yang sangat berbeda beberapa hari kemudian: satu dapat tertahan atau berputar di sekitar selat, sementara yang lain masuk ke arus utama dan terbawa jauh ke Samudra Hindia.
Membangun Koridor Probabilitas Hanyutan
Temuan jenazah Surakman di Enggano merupakan bukti lapangan penting bhw kemungkinan transport dari Selat Sunda keluar menuju Samudra Hindia harus diperhitungkan secara serius. Namun, Daryono mengingatkan bahwa temuan satu korban ini belum membuktikan bahwa korban lainnya maupun kapal mengikuti jalur yang sama.
Setelah berhari-hari di laut, perbedaan kecil pada posisi awal, waktu masuk ke arus utama, daya apung, angin, dan gelombang dpt menghasilkan penyebaran yang semakin lebar. Oleh karena itu, penemuan tersebut tidak boleh ditafsirkan secara sederhana dengan sekadar menarik garis lurus dari Anak Krakatau menuju Enggano.
"Yang jauh lebih ilmiah adalah menggunakan lokasi dan waktu penemuan tersebut sebagai titik validasi oseanografis," tegas Daryono.
Data arus, pasang-surut, angin, dan gelombang sejak kapal hilang dapat dimasukkan ke dlm model hindcast untuk menjalankan simulasi partikel, baik maju dari lokasi terakhir kapal maupun mundur dari lokasi korban ditemukan.
Jika banyak simulasi menghasilkan lintasan yang konsisten antara kawasan Selat Sunda dan Enggano, tim pencari dpt membangun koridor probabilitas hanyutan. Koridor inilah yang jauh lebih berguna ketimbang garis lurus, karena dpt menunjukkan wilayah laut mana yang secara fisik paling mungkin dilewati korban lain dari KM Arupadhatu 1 serta ke mana benda terapung lainnya mungkin terus bergerak. (RaM)
Gen Z Takeaway
Penemuan jenazah ABK KM Arupadhatu 1 di Pulau Enggano ini fix jadi plot twist sekaligus bukti krusial kalau arus Selat Sunda sampai Samudra Hindia tuh emang segila dan se-kompleks itu; kata Dr. Daryono (IABI), pergerakan korban dari area Anak Krakatau nggak bisa asal ditarik garis lurus karena dipengaruhi comboantara arus pasang-surut, dorongan angin (windage), sampai Stokes drift gelombang. Karena tiap objek punya daya apung beda-beda, temuan satu korban ini bukan berarti kapal dan rombongan jurnalis lainnya ikutan hanyut ke rute yang sama persis, makanya butuh simulasi hindcast dan koridor probabilitas hanyutan biar titik pencarian korban lainnya bisa makin presisi dan nggak sekadar tebak-tebakan.









