Bukan "Cucu Krakatau", Pakar Spill Fakta Daratan Baru Selat Sunda
astakom.com, Jakarta - Kabar munculnya daratan baru di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau belakangan ini sukses bikin warganet heboh dan overthinking. Banyak yang langsung berasumsi kalau Selat Sunda baru aja ngelahirin gunung api baru yang dijuluki "cucu Krakatau". Biar nggak makin simpang siur, mari kita spill fakta ilmiahnya dari ahlinya langsung.
Dr. Daryono, anggota Ikatan Ahli Oseanografi Indonesia (IABI), menegaskan bahwa daratan ini bukanlah gunung api baru yang berdiri sendiri.
"Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yg mengendap di laut," jelas Daryono dikutip akun pribadi instagramnya, Jumat (25/09/2026).
Proses penumpukan ini berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas gunung tersebut, hingga akhirnya endapan tersebut menyembul ke permukaan air.
Kombinasi Geologis dan Dinamika Laut
Terbentuknya daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung ini ternyata dipengaruhi oleh kombinasi faktor geologis dan oseanografis yang cukup unik.
Daryono memaparkan bahwa dasar laut di area kaldera purba sisa letusan hebat tahun 1883 tersebut tergolong dangkal. Alhasil, material erupsi bisa menumpuk tinggi dengan jauh lebih cepat. Selain itu, lontaran piroklastik dan aliran lava selama erupsi memang dominan terlempar ke arah sektor tersebut.
Nggak cuma dari sisi geologis, dinamika laut juga punya peran kunci dalam menciptakan fenomena ini. Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda berperan penting sebagai pemindah sedimentasi yang membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan yg lebih tenang hingga mengendap secara permanen.
Bakal Bertahan Lama atau Malah Lenyap?
Pertanyaan besarnya sekarang: apakah daratan baru ini bisa makin meluas, atau malah cuma numpang lewat lalu tenggelam lagi? Menurut Daryono, jawabannya sangat bergantung pada pertarungan antara aktivitas vulkanik dan erosi alam.
- Skenario Membesar: Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan tersebut makin meluas. Ketahanannya akan makin kokoh apabila terlapisi lava cair yg membeku menjadi batuan keras.
- Skenario Lenyap: Sebaliknya, jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir yg belum padat hingga tenggelam kembali. Longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda ini dlm waktu singkat.
3 Syarat Geologis Jadi "Gunung Api Baru"
Biar nggak gampang terkecoh sama narasi spekulatif di media sosial, Daryono membeberkan bahwa agar suatu daratan dapat dikategorikan sebagai gunung api baru yang berdiri sendiri, terdapat 3 syarat geologis utama yang wajib dipenuhi:
- Saluran Magma Mandiri: Daratan tersebut harus memiliki saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru, terpisah dari kawah induknya.
- Erupsi Sendiri: Daratan itu wajib menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya, bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga.
- Struktur & Deformasi Sendiri: Harus terdapat struktur geologis serta deformasi sendiri, yaitu adanya aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.
Tetap Calm dan Cek Sumber Resmi
Menghadapi fenomena ini, Daryono mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu spekulatif yang beredar liar di media sosial. Kemunculan daratan baru ini sebenarnya adalah proses sedimentasi vulkanik yg sangat lumrah terjadi di kawasan gunung api aktif.
Langkah paling bijak yang perlu kita lakukan adalah selalu menyaring informasi melalui sumber resmi yang berwenang, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Dengan memahami sains di balik fenomena ini, kita bisa tetap tenang, tidak panik, dan selalu mematuhi rekomendasi jarak aman yang ditetapkan oleh petugas di lapangan. (RaM)
Gen Z Takeaway
Mengenai isu "cucu Krakatau" yang lagi ramai di medsos, Dr. Daryono (IABI) spill kalau daratan baru di perairan Selat Sunda itu murni cuma tumpukan material erupsi kayak abu, batuan, dan lava Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut dangkal, bukan gunung api baru yang berdiri sendiri. Daratan hasil sedimentasi ini ketahanannya masih bakalan "diuji" sama hantaman gelombang laut dan erosi, plus buat bisa dikategorikan sebagai gunung api independen tuh ada syarat beratnya—mulai dari harus punya jalur magma mandiri sampai bisa erupsi sendiri. So, ketimbang ikutan overthinking atau termakan hoaks spekulatif di medsos, mending kita tetap stay calm dan selalu saring informasi lewat lembaga resmi kayak PVMBG.









