Tinjau Situs Trowulan, Menteri Kebudayaan Gaspol Percepatan Pemugaran dan Riset Majapahit
astakom.com, Jakarta – Upaya mengungkap dan merawat jejak peradaban Majapahit di Trowulan terus didorong. Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau sejumlah situs bersejarah di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pada Minggu (13/09/2026).
Peninjauan tersebut mencakup Situs Sumur Upas Sentonorejo dan Situs Bhre Kahuripan di Klinterjo. Kegiatan ini menjadi bagian dari dorongan pemerintah untuk memperkuat penelitian, menjaga artefak otentik, serta mempercepat pemugaran struktur bersejarah yang berkaitan dengan kawasan ibu kota Kerajaan Majapahit.
Melansir keterangan resmi Kementerian Kebudayaan yang diterima astakom.com pada Senin, (14/09/2026), penelitian di Situs Sumur Upas Sentonorejo menggunakan pemetaan LiDAR (Light Detection and Ranging) yang dipadukan dengan hasil ekskavasi arkeologis. Hasil kajian tersebut mengindikasikan kawasan Sentonorejo sebagai pusat Kedaton atau kota raja Majapahit.
Sentonorejo ungkap jejak Kedaton
Hasil penelitian di Sentonorejo menunjukkan adanya struktur yang berkaitan dengan hunian elite bangsawan dan raja. Sejumlah bagian kawasan juga memperlihatkan sistem pengelolaan air dan bangunan, mulai dari petirtaan dan saluran pengairan hingga temuan terakota, batu bata, serta plesteran kapur.
Temuan tersebut disebut selaras dengan gambaran tata ruang yang tercatat dalam Kakawin Nagarakretagama Pupuh 8 dan naskah perjalanan Bujangga Manik.
“Berdasarkan hasil pemetaan LiDAR dan ekskavasi, wilayah Sentonorejo ini merupakan titik nol kota raja Majapahit dengan infrastruktur yang sudah sangat modern. Bahkan ditemukan enam lapisan peradaban di dalam tanah yang membuktikan tempat ini telah digunakan secara berkelanjutan dari waktu ke waktu,” terang Menteri Fadli.
Bhre Kahuripan simpan petunjuk
Peninjauan kemudian berlanjut ke Situs Bhre Kahuripan di Klinterjo. Situs ini merupakan lokasi yang dikaitkan dengan pendharmaan Ratu Tribhuwana Tunggadewi, penguasa ketiga Majapahit sekaligus ibu dari Raja Hayam Wuruk.
Di lokasi tersebut terdapat Yoni Naga Raja, yakni yoni monumental dengan ukiran kepala naga. Benda ini memiliki angka tahun 1294 Saka atau 1372 Masehi dan disebut sebagai Yoni terbesar di Nusantara. Kawasan tersebut juga memiliki denah mandala berbentuk segi delapan.
Temuan di Bhre Kahuripan menjadi bagian dari kajian yang memperkuat catatan dalam naskah kuno Pararaton mengenai toponimi kawasan pendharmaan Giri Pantarapura.
“Di Situs Bhre Kahuripan terdapat Yoni berukir kepala naga yang sangat besar berangka tahun 1294 Saka (1372 M). Ini menjadi prasasti yang sangat konkret mengenai lokasi pendharmaan Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Kementerian Kebudayaan melalui BPK terus melakukan ekskavasi dan pemugaran struktur pagar serta kawasan situs ini,” ungkap Menbud.
Trowulan disiapkan jadi pusat riset
Pelestarian Situs Bhre Kahuripan saat ini menjadi bagian dari kajian yang lebih luas. Penelitian tidak hanya diarahkan untuk menjaga kondisi fisik situs, tetapi juga memperkuat penyusunan narasi sejarah peradaban Nusantara yang dapat menjadi bahan edukasi bagi masyarakat.
Langkah tersebut juga berjalan seiring dengan percepatan revitalisasi Museum Majapahit. Kementerian Kebudayaan mendorong pengembangan studi sejarah Majapahit secara lebih utuh, sekaligus memperkuat fungsi KCBN Trowulan sebagai pusat edukasi dan penelitian peradaban Nusantara.
Dalam peninjauan tersebut hadir Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda, Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko, Direktur Sejarah dan Permuseuman Endah Budi Heryani, Penasihat Menteri Bidang Pengembangan Strategi dan Optimalisasi Pengelolaan Museum Putu Supadma Rudana, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur Sri Sugiharta. Turut hadir jajaran Forkopimda Provinsi Jawa Timur, akademisi, dan arkeolog. (deA/aNs)
Gen Z takeaway
Trowulan bukan cuma kawasan peninggalan sejarah. Riset, pemetaan teknologi LiDAR, ekskavasi, dan pemugaran terus dilakukan untuk memperkuat pemahaman tentang peradaban Majapahit sekaligus menjaga warisannya untuk generasi berikutnya.









