Bukan Cuma Kompetisi, Menag Ungkap Peran Besar MTQ bagi Bangsa
astakom.com, Jakarta – Semarang resmi jadi pusat perhatian nasional setelah pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI di Lapangan Pancasila, Semarang, Jawa Tengah. Acara keren ini dibuka langsung oleh Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno lewat pemukulan bedug yang disaksikan ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Event akbar ini bakal berlangsung sampai Minggu (20/09/2026), melibatkan kafilah dari 37 provinsi dengan total 2.242 peserta yang siap unjuk gigi di 12 venue berbeda.
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam sambutannya menekankan kalau MTQ Nasional punya makna sosial dan kebangsaan yang next level banget.
"Kafilah dari berbagai penjuru Nusantara datang dengan bahasa, budaya, dan tradisi beragam. Mereka bertemu bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk membangun persahabatan dan memperkuat persaudaraan,” tutur Menag, dikutip oleh astakom pada Minggu (13/09/2026).
Pembuktian inklusivitas
Menariknya, MTQ edisi kali ini membawa vibe inklusivitas lewat cabang ekshibisi Al-Qur'an buat penyandang disabilitas sensorik tuli serta penggunaan mushaf Al-Qur'an isyarat.
“Ini menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk bagi semua, tidak boleh ada seseorang pun yang kehilangan kesempatan mempelajari Al-Qur'an karena kondisi fisik, sosial ekonomi, ataupun geografis,” paparnya.
Menag juga menyatajan MTQ selaku pesta rakyat paling glowing dan terbesar di seluruh Indonesia yang diharapkan bisa menyambungkan bacaan dengan tindakan nyata.
Aksi nyata & integritas
Lebih lanjut, Menag mengingatkan kalau nilai-nilai Al-Qur’an harus banget hadir di setiap aspek kehidupan, mulai dari keluarga yang penuh kasih sayang hingga lingkungan kerja yang menuntut profesionalisme.
Menag juga wanti-wanti agar kedekatan dengan Al-Qur’an bikin kita punya integritas tinggi dan menjauhi korupsi serta penyalahgunaan kekuasaan. Di tengah masyarakat, nilai-nilai ini juga penting untuk check and recheck informasi sebelum dibagikan biar terhindar dari fitnah, hoaks, dan drama ujaran kebencian.
Dalam konteks bernegara, kedekatan sama Al-Qur'an mesti tercermin dari akhlak yang makin santun dan kontribusi nyata buat persatuan Indonesia.
"Mari kita jadikan MTQ ini sebagai momentum untuk berhijrah. Semoga Allah SWT meridai seluruh ikhtiar kita dan menjadikan Al-Qur'an sebagai cahaya yang menuntun bangsa Indonesia menuju kehidupan yang rukun, maju, adil sejahtera, dan berkeadaban,” ungkap Menag.
Format baru tiap tahun
Kalau biasanya MTQ diadain dua tahun sekali karena bergantian dengan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ), sekarang formatnya resmi di-upgrade biar syiar Islam makin sat-set.
"Kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian, bahwa kita tidak mengadakan lagi STQ. Karena itu demi untuk syiar, maka Kementerian Agama memutuskan bahwa setiap tahun kita tidak melakukan STQ, tapi yang kita lakukan adalah MTQ,” tutur Menag.
Sejarah baru Jateng
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi nyatet momen ini sebagai sejarah baru karena Jateng akhirnya jadi tuan rumah lagi setelah 47 tahun lamanya terakhir kali diadain pada 1979 silam. Ketua LPTQ Nasional Abu Rokhmad juga memastikan seluruh rangkaian acara sudah dikurasi matang bareng Kemenag dan Pemprov Jateng agar kompetisi ini lowkey sukses besar dan berdampak positif buat persatuan bangsa. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
MTQ XXXI Semarang ngebuktiin kalau ajang keagamaan itu nggak kaku dan boring. Selain jadi wadah unjuk bakat ribuan peserta dari seluruh Indonesia, MTQ tahun ini makin inclusive karena ramah buat kawan disabilitas lewat mushaf isyarat. Pesan utamanya jelas: kitab suci bukan cuma buat dibaca atau dilombakan, tapi wajib di-apply ke kehidupan sehari-hari—mulai dari jaga integritas, jauhi korupsi, sampai setop nyebar hoaks dan hate speech di sosmed!









