Menag Tegaskan Madrasah dan Pesantren Harus Jadi Ruang Safe Anak
astakom.com, Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) makin serius ngungkit pelindungan anak di lingkungan madrasah dan pondok pesantren. Caranya mulai dari ningkatin kualitas layanan pendidikan, nyegah aksi kekerasan, sampai memperkuat karakter para santri dan siswa. Intinya, madrasah dan pesantren fix wajib hukumnya jadi safe space buat anak-anak.
Komitmen ini ditegasin langsung sama Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar waktu nampung aspirasi Suara Anak Indonesia 2026 yang difasilitasi sama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).
Menag ngasih apresiasi setinggi-tingginya buat keberanian anak-anak yang berani speak up soal berbagai isu yang mereka hadapi di lingkungan sekolah dan pesantren.
“Saya bangga kepada anak-anakku sekalian. Kalian menyampaikan aspirasi dengan terbuka, santun, dan penuh tanggung jawab. Ini menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia memiliki kepedulian besar terhadap masa depan pendidikan dan perlindungan anak,” tutur Menag di Jakarta, dikutip oleh astakom pada Rabu (05/08/2026).
Dengar suara anak Indonesia
Pada forum tersebut, anak-anak sharing beberapa poin penting terkait perlindungan di pondok pesantren dan asrama, pencegahan perundungan, pemerataan sarana prasarana, penyaluran bantuan pendidikan, peningkatan kesejahteraan guru, dan juga terkait penguatan literasi digital.
Tantangan pengelolaan swasta
Menag memaparkan fakta kalau saat ini sedang membina sekitar 84 ribu madrasah dan 42 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia. Uniknya, sekitar 95 persen madrasah berstatus swasta, sedangkan seluruh pondok pesantren dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
“Kita harus melihat kondisi ini secara utuh. Banyak madrasah dan pesantren dibangun secara mandiri oleh masyarakat. Para kiai dan pengelolanya berjuang dengan segala keterbatasan agar anak-anak tetap memperoleh akses pendidikan,” paparnya.
Walau punya tantangan dari segi keterbatasan, Menag negasin kalau hal itu nggak boleh bikin perhatian terhadap perlindungan anak maupun kualitas pendidikan jadi kendor.
“Terkait fasilitas, pencegahan perundungan, perlindungan anak, maupun bantuan pendidikan, pemerintah akan terus berupaya melakukan perbaikan sesuai kemampuan dan anggaran yang tersedia. Kami juga akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak agar layanan pendidikan keagamaan semakin baik,” ungkapnya.
"Madrasah dan pesantren harus jadi ruang aman bagi anak," lanjutnya.
Setop Generalisasi Oknum
Di samping itu, Menag juga ngajak masyarakat buat melihat pesantren secara proporsional dan nggak gampang melakukan generalisasi cuma gara-gara ulah oknum tertent
“Jangan sampai kerja keras para kiai dan pengajar yang selama ini mendidik anak-anak dengan penuh keikhlasan tertutupi oleh kasus yang dilakukan oknum. Mayoritas pesantren justru menjadi tempat lahirnya generasi yang berakhlak, berkarakter, dan berprestasi,” jelasnya.
Menag menyampaikan kalau keunggulan madrasah dan pesantren nggak cuma soal nilai di kertas atau capaian akademik semata, tapi juga pilar utama dalam nyetak kecerdasan emosional, spiritual, dan akhlak para peserta didik.
“Keunggulan madrasah dan pesantren bukan hanya pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan akhlak, kecerdasan emosional, dan spiritual. Inilah yang terus kita jaga agar anak-anak tumbuh menjadi generasi yang berilmu sekaligus berintegritas,” sambungnya.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, ngajelasin kalau deretan aspirasi ini adalah buah dari proses partisipatif marathon selama 1 bulan, mulai dari level desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga tingkat nasional.
“Kami tidak hanya ingin mendengar suara anak, tetapi menjadikannya bagian dari proses pembangunan. Karena itu, hasil Suara Anak Indonesia kami bawa langsung ke berbagai kementerian agar menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan,” ungkap Arifah.
Arifah meyakinkan kalau suara anak perlu dinilai sebagai masukan substantif buat ngebenahin layanan negara. Beliau juga nyemangatin anak-anak biar bisa jadi agen perubahan dengan nyampaiin informasi yang utuh sekaligus ikut ngejaga lingkungan pendidikan mereka.
Hasil Gerakan KEMUDI ANAK
Penyampaian aspirasi ke Menag ini merupakan bagian dari Program Kepemimpinan Muda Indonesia untuk Hak Anak (KEMUDI ANAK). Lewat program ini, para perwakilan anak dari berbagai daerah ngelakuin Ministerial Roadshow buat mengadvokasikan hasil Suara Anak Indonesia 2026 secara langsung ke para pemangku kebijakan. Rangkaian roadshow dimulai dari kunjungan ke Menteri Kesehatan, disusul ke Menteri Agama, dan selanjutnya dijadwalkan bakal ketemu Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dengan pendampingan langsung dari Menteri PPPA.
Nantinya, Kementerian Agama bakal ngadain berbagai masukan dari Suara Anak Indonesia ini sebagai amunisi penguatan kebijakan perlindungan anak di lingkungan pendidikan keagamaan, sekaligus ngerat-in sinergi bareng KemenPPPA demi mewujudkan madrasah dan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah anak. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Anak muda punya power besar buat nyuara-in isu lingkungan sekolah lewat Suara Anak Indonesia 2026! Respons positif Menag buktiin kalau keberanian speak up soal perundungan, sarana prasarana, hingga literasi digital itu penting banget demi nyiptain madrasah dan pesantren yang aman, inklusif, serta bebas dari stigma negatif akibat oknum.









