Kemenkes Dorong Skrining TB yang Lebih Inklusif bagi Penyandang Disabilitas
astakom.com, Jakarta – Melawan tuberkulosis (TB) bukan hanya soal memastikan pasien mendapatkan pengobatan. Tantangan lain yang tak kalah penting adalah membuka akses deteksi dini seluas mungkin agar setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh layanan kesehatan, termasuk penyandang disabilitas yang masih menghadapi berbagai kendala saat menjalani pemeriksaan hingga pengobatan.
Melansir media nasional, perhatian tersebut disampaikan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam diseminasi hasil penelitian mengenai penguatan skrining TB di Jakarta, Senin (03/08/2026). Pemerintah menilai pendekatan yang lebih inklusif menjadi salah satu langkah penting untuk mempercepat penemuan kasus sekaligus memastikan kelompok rentan tidak tertinggal dalam upaya pengendalian tuberkulosis.
Langkah itu sejalan dengan target pemerintah mengeliminasi TB pada 2030. Dengan beban kasus yang masih menjadi salah satu tertinggi di dunia, Kemenkes terus memperkuat strategi deteksi dini melalui peningkatan pelacakan kontak erat, perluasan akses layanan kesehatan, serta dukungan berbagai inovasi yang dapat membantu proses skrining di lapangan.
Akses layanan masih jadi tantangan
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, mengatakan penyandang disabilitas memerlukan perhatian lebih karena memiliki risiko yang sama untuk terpapar TB. Namun, kelompok tersebut masih menghadapi tantangan yang berbeda-beda dalam mengakses layanan kesehatan.
"Kelompok disabilitas perlu mendapatkan perhatian lebih karena mereka berpotensi terkena Tb juga. Namun jika kita berbicara tentang kelompok disabilitas, sebenarnya ada empat ragam kelompok utama yang tercakup di sini, termasuk disabilitas fisik, intelektual, mental, dan sensorik," kata Imran dalam diseminasi hasil penelitian yang dikutip dari media nasional.
Menurut Imran, perhatian publik selama ini lebih banyak tertuju pada penyandang disabilitas fisik. Padahal, penyandang disabilitas intelektual, mental, maupun sensorik juga menghadapi tantangan tersendiri, mulai dari proses pemeriksaan foto rontgen, penegakan diagnosis, hingga menjalani pengobatan.
"Maka itu, diseminasi penelitian ini jadi kesempatan penting untuk memastikan Tb dapat dideteksi lebih dini bagi penyandang disabilitas, sehingga pengobatan dapat segera diberikan agar sembuh,” ujarnya.
Deteksi dini jadi prioritas
Besarnya beban TB masih menjadi pekerjaan rumah di sektor kesehatan nasional. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dikutip media nasional, Indonesia diperkirakan mencatat sekitar 1,09 juta kasus TB dengan sekitar 125 ribu kematian setiap tahun. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan beban kasus TB tertinggi kedua di dunia setelah India.
Untuk menekan penularan, pemerintah mengadopsi strategi pengendalian TB secara preventif melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC). Salah satu langkah utamanya adalah mewajibkan pelacakan (tracing) terhadap 100 persen anggota keluarga dan kontak erat pasien TB agar sumber penularan dapat ditemukan lebih cepat sekaligus mempercepat pencapaian target eliminasi TB pada 2030.
Selain memperkuat pelacakan, Kemenkes juga terus mendorong kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan efektivitas skrining dan penemuan kasus sejak dini sehingga layanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Inovasi jadi pendukung skrining
Dalam kesempatan yang sama, Kemenkes juga menilai perkembangan teknologi dapat menjadi salah satu pendukung penguatan skrining TB. Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam forum tersebut adalah TBScreen.AI, platform skrining yang dikembangkan peneliti Indonesia untuk membantu menganalisis hasil foto rontgen dada sebagai proses skrining awal.
Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi dugaan kasus TB secara lebih cepat sehingga pasien dapat segera menjalani pemeriksaan lanjutan. Meski demikian, pemanfaatannya tetap berfungsi sebagai alat bantu skrining dan tidak menggantikan peran tenaga medis dalam menetapkan diagnosis.
Pengembangan TBScreen.AI masih terus dilakukan agar dapat dimanfaatkan lebih luas, termasuk untuk mendukung layanan skrining di daerah yang memiliki keterbatasan akses kesehatan. astakom.com akan mengulas lebih lanjut mengenai teknologi, pengembang, serta pengembangan platform tersebut dalam laporan berikutnya. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
TB masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Karena itu, memastikan layanan deteksi dini bisa diakses semua orang, termasuk penyandang disabilitas, menjadi langkah yang sama pentingnya dengan pengobatan. Di sisi lain, hadirnya inovasi seperti TBScreen.AI menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi pendukung layanan kesehatan yang lebih cepat dan inklusif. Ketika akses layanan dan inovasi berjalan beriringan, peluang Indonesia mencapai target eliminasi TB pada 2030 pun semakin terbuka.









