Yusril Spill Bangsa Asing Mau Indonesia Kembali ke Era Soeharto: Mereka Tidak Mau Indonesia Maju!
astakom.com, Jakarta — Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, memberikan respons menohok terkait kritik media internasional, "The Economist", terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Yusril menilai narasi yang digoreng media asing tersebut punya agenda terselubung alias hidden agenda untuk nge-gatekeep kemajuan Indonesia, agar negara kita balik ke setelan pabrik sebagai pengekspor bahan mentah tanpa sentuhan teknologi canggih.
"Kritik The Economist ujung-ujungnya ingin mengembalikan kita ke era Pak Harto, akhirnya bangsa kita hanya menjadi bangsa yang ekspor barang mentah, yang nilai ekonominya tidak sebanding jika sudah jadi produk," terang Yusril dalam agenda Seminar Nasional: Tantangan Regulasi dalam Menghadapi Gig Economy dan Artificial Intelligence, di Universitas Negeri Surabaya, pada Selasa pekan silam (19/05/2026).
Mantan saksi hidup era reformasi ini mencium adanya gelagat dari pihak luar yang sengaja memicu culture shock politik agar Indonesia gagal berkembang menjadi negara superpower yang disegani.
Sejarah bangsa asing tak mau Indonesia hebat
Bernostalgia ke masa lalu, Yusril menceritakan reusable pain saat detik-detik runtuhnya pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1998, di mana Indonesia yang awalnya sedang glow up dengan pertumbuhan ekonomi tinggi di Asia, tiba-tiba kena mental breakdown akibat guncangan moneter.
Pelemahan rupiah yang parah saat itu memaksa Indonesia berada di fase low point hingga akhirnya harus pasrah menerima treatment bantuan dari IMF.
"Bagaimana IMF mengatakan kami akan membantu Indonesia. Kita ibarat bayi lahir nggak dewasa masuk inkubator, dia akan bantu kita tapi dengan beberapa permintaan. Salah satu permintaannya itu dana untuk pengembangan IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) minta dihentikan," ucap Yusril.
"Kenapa? Orang-orang barat itu tidak akan pernah mau Indonesia itu mampu menjadi negara yang masuk ke era teknologi," sambungnya.
Pentingnya perkuat kedaulatan bangsa Indonesia
Berkaca dari sejarah tersebut, Yusril mengingatkan generasi muda agar industri teknologi lokal tidak boleh lost contact dengan perkembangan zaman.
Di tengah gempuran ekonomi digital saat ini, Indonesia harus punya ownership atas inovasinya sendiri dan menolak keras kalau cuma dijadikan pasar atau target fomo (Fear of Missing Out) konsumerisme oleh negara-negara raksasa.
"Itu generasi muda harus paham, jangan kita menggantungkan nasib kita ini kepada bangsa lain. Nggak ada yang nolong kita itu kecuali kita sendiri," terang Yusril.
"Jangan kita maki-maki bangsa sendiri, muji-muji bangsa lain. Bahaya itu, mentalitas seperti itu merusak kepentingan kita sendiri," lanjutnya.
Selain itu, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, kata Yusril, bakal tetap fokus menjaga stabilitas ekonomi, iklim demokrasi, dan core value kepentingan nasional biar nggak gampang goyah. (aLf/aNs)









