Kinerja Pasar Modal Cenderung Lesu di Pekan Pertama Juli 2025
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kinerja pasar modal Indonesia kurang menggairahkan pada pekan pertama Juli 2025, atau selama periode 30 Juni hingga 4 Juli 2025.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kinerja pasar modal Indonesia kurang menggairahkan pada pekan pertama Juli 2025, atau selama periode 30 Juni hingga 4 Juli 2025.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah investor pasar modal di Indonesia kembali mencetak rekor baru yang signifikan, mencapai 17.016.329 Single Investor Identification (SID) per Kamis (3/7).
Pergerakan pasar modal Indonesia menunjukkan sinyal penurunan kinerja selama sepekan terakhir menjelang libur panjang akhir pekan atau long weekend, yang bertepatan dengan peringatan Tahun Baru Islam 1447 Hijriah.
Peluang rotasi sektor di pasar saham mulai terbuka lebar, seiring dengan meredanya ketegangan geopolitik global dan potensi berakhirnya aksi jual investor asing.
Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menegaskan perannya sebagai pionir transformasi pasar keuangan nasional. Lewat inovasi pada instrumen hijau dan teknologi digital, BEI mempercepat langkah menuju bursa masa depan yang lebih berkelanjutan dan efisien.
Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencetak rekor pada tahun 2024 dengan berhasil menghimpun dana sebesar Rp193 triliun melalui berbagai instrumen pasar modal.
Tahun 2024 mencatatkan sejarah penting bagi pasar modal Indonesia. Di mana jumlah investor pasar modal mencapai 14,8 juta, meningkat sebesar 1,7 juta single investor identification (SID) dibandingkan tahun sebelumnya.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun 2024 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp673 miliar. Angka tersebut terungkap dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BEI 2025, Rabu (25/6),
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dinilai memiliki potensi besar untuk memainkan peran strategis dalam menjaga stabilitas dan likuiditas pasar saham Indonesia.
Sejumlah akademisi turut memberikan pandangannya atas sikap Presiden Prabowo yang menempatkan stabilitas ekonomi sebagai prioritas, ketimbang merespons kepanikan jangka pendek di pasar saham.