Pantesan Jam 10 Pagi Udah Makin Terik! BMKG Ungkap Alasan Suhu Siang Hari Terasa Lebih Menyengat

Editor: Henni Rachma Sari
Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:08 WIB
Pantesan Jam 10 Pagi Udah Makin Terik! BMKG Ungkap Alasan Suhu Siang Hari Terasa Lebih Menyengat
Kenapa Jakarta Terasa Makin Panas? Kenali Urban Heat Island dan Faktor Pemicu Lainnya (Ilustrasi/Pexels)

astakom.com, Jakarta - Warga Jakarta dan sekitarnya belakangan ini kompak mengeluhkan cuaca siang hari yang rasanya makin membakar. Bahkan, baru masuk jam 10.00 pagi saja, terik Matahari udah kerasa sangat menyengat di kulit.

Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, menjelaskan kalau sensasi panas terik yang bikin gerah ini dipicu oleh gabungan beberapa faktor yang terjadi secara bersamaan.

“Jadi jika merasa 'tahun ini kok teriknya beda', kemungkinan yang paling terasa adalah gabungan langit cerah, kemarau, kota yang menyimpan panas, kelembapan tinggi,” jelas Guswanto lewat pesan tertulis dikutip Sabtu (17/10/2026).

Kombinasi 4 faktor utama: musim kemarau sampai efek urban heat island

Guswanto membeberkan ada empat pemicu utama di balik cuaca gerah melanda:

  1. Musim Kemarau & Minim Awan: Langit yang cerah tanpa tutupan awan bikin energi matahari langsung menghantam permukaan bumi. Akibatnya, tanah, aspal, dan bangunan menyerap panas lebih banyak sehingga suhu siang hari melonjak drastis. 
  2. Hujan Berkurang: Karena masih dalam periode kemarau, hujan jadi jarang turun. Minimnya hujan bikin proses pendinginan alami lewat penguapan berkurang, jadi permukaan kota terus-terusan menyimpan panas. 
  3. Efek Panas Perkotaan (Urban Heat Island): Jakarta dan kota besar disesaki beton, aspal, gedung tinggi, kendaraan, hingga AC. Material-material ini menyerap panas di siang hari lalu melepaskannya perlahan sampai malam, bikin suasana malam pun tetap kerasa gak begitu sejuk. 
  4. Kelembapan Tinggi: Meski suhu udara sebenarnya gak selalu ekstrem, tingkat kelembapan yang tinggi bikin tubuh kesulitan mendinginkan diri lewat keringat, sehingga memicu sensasi "gerah" yang makin kuat. 

Menariknya, terkait asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kabarnya sudah mencapai atmosfer Jakarta, Guswanto menyebut asap karhutla justru cenderung mengurangi intensitas sinar matahari langsung kalau konsentrasinya cukup tebal.

Bukan cuma Jakarta: wilayah lain juga membara, tapi sensasinya beda

Kondisi cuaca terik di masa kering ini gak cuma menyiksa warga Jabodetabek. Wilayah lain seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, sebagian Sumatra, Nusa Tenggara, sampai beberapa area Kalimantan juga berpotensi mengalami suhu siang yang tinggi.

Meski begitu, tingkat panas yang dirasakan setiap daerah bisa beda-beda tergantung kelembapan, tutupan awan, kondisi lingkungan, dan ketersediaan ruang hijau. Kota di pedalaman Jawa misalnya, bisa saja punya suhu siang yang sama atau lebih tinggi dari Jakarta, tapi karena kelembapannya lebih rendah atau lingkungannya lebih hijau, rasa gerahnya gak seberat Jakarta.

"Contohnya kota di pedalaman Jawa bisa saja memiliki suhu udara siang yang sama atau bahkan lebih tinggi daripada Jakarta, tetapi karena kelembapan lebih rendah atau lingkungan lebih hijau, sensasi gerahnya tidak selalu seberat Jakarta," tutur Guswanto.

Kapan panas terik mereda? ini imbauan dari BMKG

Suhu panas terik ini baru akan berkurang kalau frekuensi hujan mulai meningkat, tutupan awan bertambah, serta pola angin dan musim bergeser menuju musim hujan. Kapan kepastiannya bakal mereda sangat bergantung pada perkembangan atmosfer dari minggu ke minggu.

Selama periode kemarau masih dominan dan hujan belum rutin turun, terik siang hari masih berpotensi terasa sangat menyengat. BMKG pun mengimbau masyarakat buat rajin memantau prakiraan cuaca resmi.

Selagi cuaca masih menyengat, warga disarankan menghindari aktivitas fisik berat di bawah terik Matahari. Kalau harus beraktivitas di luar ruangan, pastikan pakai pelindung seperti topi atau payung, penuhi kebutuhan cairan tubuh biar gak dehidrasi, dan rutin cari tempat berteduh secara berkala. (RaM)

Gen Z Takeaway

Gak heran sih kalau akhir-akhir ini rasanya kayak lagi di dalam oven! BMKG mengungkapkan kalau panas terik yang bikin Jakarta dan berbagai wilayah Indonesia makin gerah di jam 10 pagi bersumber dari kombinasi musim kemarau minim awan, berkurangnya hujan, kelembapan tinggi, plus efek urban heat island dari kepungan beton dan AC kota. Biar gak gampang heatstroke, mending kurangi aktivitas berat di luar ruangan.

BMKG Panas Terik Musim Kemarau Perkiraan Cuaca BMKG Cuaca Panas Musim panas Gelombang Panas Titik panas

Infografis

Terkini